ahutapea wrote: > > Where's the 'comfort zone' Sir ? > > The comfort zone is gone since 1995 :) > hahaha, kenapa coba tahun '95.
Pertanyaan sangat bagus :) karena tahun 94-95-96 ini lah awal-awal kejadian2 besar yang tidak pernah terjadi (atau terdengar) sebelumnya di Indonesia:riot bernuansa SARA di Medan/tasikmalaya, perang sara masal di kalimantan yang tidak ditangani polisi, riot anti-PDI megawati(kebetulan saya berada di depan kantor pdi mega waktu itu nontonin preman dan polisi yg masuk kedalam),majalah2 seperti tempo di berangus dan Bung Harmoko mati matian mengatakan tidak ada kandidat presiden lain selain Suharto. Maklum,ingatan saya dibantu "Suharto: A political biography" by Nelson. > Mungkin sekarang baru kerasa om dan comfort zone sudah mulai bergeser. > tapi paling ngak tahun terakhir, comfort zone masih ada disitu berupa > padang rumput yang hijau. Paling alesan2 untuk ngebuat kita untuk cabut > masih kurang besar dibandingkan alasan untuk tetap tinggal. Masalahnya sebagian besar dari kita itu **tidak kritis** dengan definisi comfort karena hanya melihat dari lingkungan sekitar saja sich.Tapi tidak melihat (atau pura pura tidak tahu) apakah comfort zone tersebut diatas fundamental yang kokoh atau tidak. Padahal orang2 pinter pada 1980an sudah banyak yg mengingatkan jika ekonomi yang berlandaskan hutang (baik hutang pemerintah atau swasta) dan kkn akan 'crash' someday. > "Survey" saya selama ini berada di "top corps labor" yang biasanya > kerja di perusahaan oil/gas/mining/telco yang kebanyakan kapasitasnya > diatas rata2 jd bisa untuk 'ngadu nasib' di luar dan buat mereka > "comfort zone" mereka masih enak disana. Kalau oil mining ya surga lah di Indonesia apalagi sekarang,jangankan di Indonesia ,Petronas Malaysia karena profitnya lebih dari double denger2 ngasih bonus setahun gaji.Tapi kan oil/mining sektor juga gak bisa menampung semua SDM,apalagi yang baru lulus,karena SDA ada limit,ada batas.Gak ada oil field baru di Indonesia (kecuali kalau ketemu ladang emas baru seperti kasus Busang-BreX he hehe ). Nah beda dengan pendekatan sektor hitek atau software yang kemungkinan berkembangnya adalah "unlimited".Tantanganya kalau mau kita terjun di medan ini,harus siap fighting dengan India+China yang "kita" tidak terbiasa. > > Iya walaupun benar tapi kalau argumentasinya begini terus mah namanya > > persh Indonesia gak bakal punya motivasi untuk bersaing secara global > > :) Memang namanya kita terlambat dan salah jalan berdekade-dekade,ya > > mau gimana lagi selain hit resistance tersebut ? memang itu tantanganya > > koq. > > > > Setuju 'om, disetiap mawar pasti ada duri ;) > Dan bagaimana kita ingin melewati tantangan2 tersebut.. Untuk melewati "duri" lihat 'petunjuk' dari The World Is Flat dan buku2 lain. Yang paling menarik buat saya,globalisasi dari tahun 2000 itu sebenarnya bukan lagi globalisasi negara,bukan globalisasi persh tapi sebenarnya globalisasi individu.Masalah orang gak percaya dengan "the world is flat" ya itu masalah dan wawasan pribadi,tapi kata2 "the world is flat" itu sendiri sebenarnya muncul dari orang asia sendiri. Dari pemahaman amatiran saya dengan maksud "individu" tsb kurang lebihnya individu gak bisa lagi terlalu tergantung (hidup-enak by default) dengan negara seperti dulu (kecuali kalau ente orang kuwait hehe) bahkan di negeri yang maju sekalipun seperti AS dan Malaysia. Carlos
