adi wrote: > On Sun, Jan 01, 2006 at 10:45:22AM +0700, Dipo Prasetyo wrote: > > Bicara ttg paten, gw kurang ahli. Setau saya deh, berguna sekali untuk > > menghargai hasil karya orang lain. Saya jarang menemukan orang-orang yang > > mampu menghargai hasil karya orang lain di lingkungan saya. > > > soal paten itu sendiri, seperti yang bisa dilihat dari contoh-contoh > yang sudah disampaikan oleh Carlos Patriawan, sudah menjadi semacam > komoditi bisnis bagi korporasi besar
Koreksi kecil: sebagian korporasi besar,nanti dikira semuanya begitu ... he he he :) Kemaren waktu saya nulis ini,saya cuman nulis berdasar data dan apa yang saya lihat dan dengar saja lho,tapi ternyata ketemu ada artikel di Forbes yang **exactly** mewakili problem yang saya lihat: ---beg In corporate America, this type of shakedown is repeated weekly. The patent as stimulant to invention has long since given way to the patent as blunt instrument for establishing an innovation stranglehold. Sometimes the antagonist is a large corporation, ********short on revenue-generating products but long on royalty-generating patents******. On other occasions, an ******opportunistic****** "entrepreneur" who only produces patent applications uses the system's overly broad and undisciplined patent grant to shake down a potential competitor. ----end Saya boleh tambahkan: sebenarnya yg jadi grassroot permasalahan,adalah sifat ABUSIVE sebagian perusahaan besar pada penggunaan paten. Ini informasi *underground* fresh from silicon valley (yg mungkin sulit ditemukan dalam artikel): Karena buruknya dan abusivenya penggunaan paten ini saat ini, DE-FACTO sebagian perusahaan hitek inovatif hanya submit paten yang mempunyai potensi jika patent tersebut tidak disubmit,persh tersebut kemungkinan akan di sue oleh perusahaan lain jika patent tersebut menjadi bagian dari sebuah produk. > (saya kurang tahu apakah ini > sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk pengurusan paten :-) Nah ini pertanyaan bagus dan very very political question indeed :-) Jadi gini,harus pakai angka nih (nah kalau pake angka jangan mesem2 ya untuk sebagain anggota milis lain .. he he he). Ini contoh pengandaian: Persh A: big corporation: marketcap 800million,revenue perquarter 60million Persh B: mediumsize hitek innovative: marketcap 100million,rev. perquarter 15million Tarohlah misalnya persh A dan persh sama2 mikirin bagaimana caranya bikin 'microwave untuk potato chips'.Tapi kita bikin dua pendekatan,Persh A karena duitnya banyak dia R&D internal saja dan submit patent sementara Persh B karena persh medium size ya mereka mau develop produk berdasarkan R&D (tanpa submit patent). Roughly cost yg mereka perbuat: 1. Persh A: ongkos untuk bikin patent: paling banter hanya 400,000 USD sekaligus kasih duit ke engineer agar rajin2 bikin patent dan agar legal departmenya rajin( rajin cari next hit list maksudnya ... he he h he he ) 2. Persh B: ongkos untuk produksi barang dan marketing: tarohlah ogkosnya 10 million dollar perquarter,sudah termasuk produksi/manufacturing. Tarohlah profit margin 50%,jadi untung yang diraup setelah BEP adalah 5 million USD/quarter (ini over-simplikasi lho). Kita bikin saja skenario 1 tahun kemudian dimana Persh B berhasil jualan microwave ini dan mendapatkan keuntungan 20 million pertahunnya (5 million x 4). Tiba2 Persh A ini kaget,wah ternyata keduluan nich,Persh A langsung deh ngesue persh B,di court begini: "Pak Hakim dan Pak Jaksa,persh B ini ternyata mencuri paten saya,oleh karena ini saya minta sue mereka dengan denda 60 million dollar !! ".Angka 60 million ini biasanya angka 'tinggal jebret' saja dari persh besar. Tentu saja,Persh B ini jadi mendadak stress,lha di sue 60 million padahal income dari produk terebut hanya 20 million. Akhirnya gimana,mereka settled out ouf court,kata persh B,ya udah deh,kalo ente masih mau jualan produk itu,ente settle aja ama ane... harganya 40 million,gimane ? Tentu saja,persh A yang kecil ini mengiyakan tawaran big corporation.Jadi setelah settled seperti ini,persh A boleh dibilang merugi dulu(walau pernah booking profit sebesar 20 million) untuk boleh menjual produknya lagi. !!! Apa yang bisa dilihat dari cerita ini: Setelah waktu satu tahun, dengan kemampuan uang dan liciknya persh A,dia bisa giling kompetitor persh B melalui patent. Persh A ini gak perlu develop produk,cukup bikin patent sebanyak banyaknya (dan gaji lawyer ev***l setinggi-tingginya) dan tetap dapat duit dalam jumlah besar dengan nge-sue persh lain melalui paten yg dimiliknya. Makanya di Forbes ada kalimat berikut: ********short on revenue-generating products but long on royalty-generating patents****** Buat kita di Indonesia,jadi paham cara praktik permainan politik kotornya bagaimana :) Carlos
