> > BTW, asyik nih kalau digabungkan dengan head-mounted display (misalnya > > produknya http://www.virtualresearch.com/ yang dipakai di > > Heinz-Nixdorf Institute, universitas saya). Bisa nyaman kerja di mana saja. > > Mana bisa nyaman kalau pakai ini di tempat umum, bisa jadi bahan > tontonan.
Lho, katanya CEO PT Pabrik Panci Persada itu memakai keyboardnya di WC airport? Lagian siapa yang mau jalan-jalan di mall pakai HMD semacam itu. Nanti bisa dikira cyborg kesasar. > > Tapi kalau display terlalu berat, jadinya potensial sakit > > kepala. > > Kalau proyeksi layar di kaca mata bagaimana? Kurang tahu apakah ada produknya. Ini sih bukan head-mounted tapi head-up display. Nanti saya tanyakan kawan saya kalau dia sudah pulang dari Cina. > Di tempat saya ini ada yg buatan Cina tapi tidak boleh dibongkar-bongkar > *-) Reverse engineeringnya kan diusahakan reversibel. Jadi bisa kembali ke bentuk asal kok (tapi nggak dijamin, hehehe) > Ukurannya setengah ukuran kardus pasta gigi ukuran sedang. Lasernya > menyala kalau diberdirikan, kalau ditidurkan (atau diangkat) saklar yang > ada di bawah unit akan terlepas dan mematikan laser. Jadi misalnya yg > pakai papan ketik ini si Mat Jibrut agen 025, dia bisa ngetik tanpa > ketahuan musuh (kalau hampir ketauan, dia akan angkat saja kotaknya) Kalau sekecil itu memang rasanya bukan dengan teknologi tabung katoda. Bang MDAMT, tangkap dong tembakan lasernya. Diperiksa apakah semakin jauh diproyeksikan, berkasnya semakin "kabur" atau tidak, untuk mengecek apakah berkasnya divergen. Tapi kalau dia pakai frekuensi yang tidak kelihatan mata, yang sulit memeriksanya. Kecuali dapat pinjaman Night Vision Goggle. > Di sini katanya dipadukan dengan infra merah yang ada di bawah unit. > Infra merah ini yang akan mendeteksi jari2. Semakin jauh dari unit maka > berarti tombol yang ditekan ada di baris paling bawah pada papan ketik > (benar apa tidak ya itu?) Hmm, bagus betul nih infonya. Kalau detektornya itu hanya mendeteksi pantulan berkas cahaya yang horizontal (sejajar dengan lantai), sedangkan sumber cahayanya menyorotkan dari puncak "kotak gigi canggih" ini secara diagonal, berarti si detektor ini hanya melihat pantulan berkas cahaya akibat jari si Mat Jibrut itu. Kira-kira seperti ini. Kalau tidak ada jari-jari apapun bermain-main dekat keyboardnya, berkas cahaya yang ditembakkan hanya muncul di lantainya, hanya "nampak" kalau dilihat dari atas kan? Karena detektornya horizontal, dia tidak akan bisa melihat apa-apa. Nah, kalau tiba-tiba telunjuk Mat Jibrut mendarat di tombol "U" dan pada saat itu ada tembakan foton ke arah tombol U, sudah pasti si detektornya akan mendeteksi pantulan si foton karena jari telunjuk itu. Tinggal dipindai (scanning) satu per satu tombolnya dengan kecepatan tinggi (sesuai yang saya tulis tadi), akan dapat status lokasi jari-jari agen kita ini. BTW, coba bagian inframerahnya ditutup atau dibungkam sama selotape. Masih bekerja atau malah bungkam? > Katanya lagi (belum dicoba) susunan papan ketiknya bisa diubah seenak > hati, jadi bisa ganti2 model papan ketik skandinavia ke inggris amerika > misalnya. Masuk akal, tinggal dipasang translator (look-up table) yang sesuai di otaknya. -- Ariya Hidayat, http://ariya.blogspot.com
