Betul sekali.

Operator Telekomunikasi dapat Bisnis karena jualan wholesale
infrastruktur (Dial/DSL/Cable Ports + Bandwidth)

ISP Besar dan kecil dapat Bisnis dari jualan retail dial up/DSL/Cable.

Content provider  seperti detik.com bisa memberikan akses dial up/DSL
kepada customernya.

Bahkan,persh2 besar yang punya cabang dimana2 pun jadi efisien,misalnya
bca, mereka bisa punya notelp yangmereka gunakan sendiri (if needed).

Semuanya kebagian untung, nah kalau sekarang dari NAP sampai dial-upnya
disediakan satu provider saja yaitu [siapa ayoo] ... udah gitu mau
dipajekin lagi bandwidthnya .....

ACW, CMIIW, ampun maaf, tobat

>
> -affan

Concept ini suda di terapkan di Europe dan Scandinavia,  kalau di Mobile operator disebut MVNO atau mobile virtual network operator, jadi untuk menjadi operator ngga usah harus punya infrastruktur yang end to end, cukup punya customer dan biliing system, salah satu yang udah jalan di europe tele2 kemudian di belanda juga udah jalan namanya sympac


selain bisa menjadi MVNO perusahaan yang sudah punya branding juga bisa menjadi MVNE (mobile virtual network enabler) misalnya yang fanatic sama groupnya SLANK, slank bisa aja menjadi network enabler dimana nanti SLank bisa menjual pre-paid system card dan nama operator networknya bisa jadi SLANK-TEL, buat segmented market spt ini kan bagus, bisa membuka banyak peluang pekerjaan dan operator yang asli juga ngga perlu repot dengan marketing, karena bisa di jual ke Enabler dan enabler yang manage market mereka sendiri.
concept yang bagus, cuman di indonesia masih agak sulit, ngga usah tanya kenapa yaa anda tahu sendiri lah.


ps. kebetulan ikut terlibat dalam project MVNO/E di sini jadi tahu seberapa besar potential marketnya yang bisa di garap.

adjie

Kirim email ke