On 1/26/06, Arie Reynaldi Z <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Ya maka dari itu,
> > kalo mau jadi doktor IT, mestinya sudah pernah merasakan (minimal
> > ngelihat) gimana susahnya narik fiber di indonesia, nyambung fiber
> > putus gara2 kebakar sampah kayu, gimana rasanya crimping kabel
> > sendiri, dan bagaimana rasanya naik tower 60 meter (gw sih belum
> > pernah, katanya sih ngeri).
>
> Curhat ya pak.. :-))
> Kalo di dunia bangunan, emang arsitek atau tukang insinyur harus tau
> gimana kerjaan kuli, cuma tau bukan berarti harus ikut gali sumur kan
> ? :-D Kalo gitu, sapa yang ngitung, manage, ngutip, ngembat uang
> proyek (eh, salah.. :D)
>
> --

Iya sih pak,
kalau kita pernah terjun ke lapangan itu kan bikin kita faham bahwa
kerjaan IT itu bukan cuma desain di atas kertas, tetapi kenyataan di
lapangan nya itu kadang2 bisa berbeda. Asumsi, constrain yang kita
bikin di atas kertas, berbekal buku2 best practices dari luar negeri
itu kadang-kadang nggak masuk di lapangan di Indonesia. Minimal
diambil konsep dasarnya saja, sisanya tweaking sana sini.

Ya gampang2an lah, kalau kita mau bikin infrastruktur IT di Indonesia,
pernah nggak kita lihat kalau listrik di sini nggak bisa diandalkan ?
Belum lagi kasus pencurian perangkat keras, jalur komunikasi yang
jelek (line telepon yang busuk, gak ada sinyal HP), tak lupa aparat
yang nyeleneh, serta birokrat yang gak paham gimana bikin policy.

Maka dari itu, doktor sekalipun harus pernah tahu situasi lapangan
seperti apa, sehingga kalau bikin penelitian itu nyambung dengan
keadaan setempat. Malah harusnya doktor IT dari Indonesia itu harusnya
lebih jago dari orang luar negeri, karena kondisi negaranya yang
ekstrim, tapi tetep bisa establish infrastruktur IT yang running &
sustain.

-affan.

Kirim email ke