On 1/29/06, m. c. ptrwn <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
> IMHO begini: berapa persen kecelakaan mobil yang menyebabkan kematian,
> dan berapa persen kecelakaan pesawat yang menyebabkan kematian. Nanti
> bisa diambil kesimpulannya. :-)

kalo kata orang pinlan , secara teknis statistik probabilitas
'failure'nya lebih tinggi jika duduk dekat sayap/wing, dan terendah di
kursi belakang.Tentunya tergantung dari jenis kecelakaan terbangnya

Saya mau nanya lagi , maklum awam .. he he :

1. kalo turbulensi itu ngukur goncangannya pake skala apa ya ?

2. Kemaren ke Pabrik Boeing di seattle katanya pesawat boeing itu bisa
handel 10x turbulensi yang paling kenceng , berapa benar statementnya
itu ?

3. Kalau pesawat terkena hydro-planning(genangan air) itu gimana ya ?
koq bisa .... katanya anti-skid ?

Hai All,

Mau sedikit memberi masukan mengenai masalah hydro planning effect ini.
Sebenarnya yang dimaksud dengan hydro planning effect ini penjelasan sederhananya adalah memantulnya suatu benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi akibat suatu genangan air.
Contoh sederhananya adalah bila kita melempar batu dengan sudut dan kecepatan tertentu ke dalam danau, maka batu tersebut akan meloncat2 beberapa kali sebelum tenggelam.
Hal ini dapat terjadi juga pada saat kita mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan melalui suatu genangan air, maka mobil akan terasa memantul-mantul.
Kebetulan hal ini pernah saya alami sekitar 2 tahun yang lalu, sewaktu mengemudi dengan kecepatan sekitar 100 km/jam ditengah hujan deras di tol Jagorawi (sekitar jam 11 malam). Waktu itu mobil saya mengalami hydro planning, kendaraan melompat-lompat sebanyak 4 kali sebelum "menjejak" aspal lagi. Pada saat terkena hydro planning melakukan pengereman melalui ban adalah tindakan sia-sia, karena ban tidak menyentuh aspal melainkan lapisan air yang menggenangi aspal.
Oleh karena itu lebih baik jangan mengemudi dengan kecepatan tinggi jika hujan deras ;-)
Penanganan hydro planning pada pesawat terbang cukup kompleks, karena membutuhkan perhitungan yang sangat cermat.
Menurut keterangan rekan saya yang menjadi  pilot, jika pesawat diprediksi akan mengalami hydro planning effect sewaktu pendaratan dalam kondisi hujan deras dan kondisi landasan ada genangan, maka prosedur yg dilakukan adalah  :
1. Flap diturunkan penuh
2. Reverse engine
3. Melepaskan rem udara
4. "Menjejak" ban ke landasan
5. Melakukan pengereman roda
Ketiga prosedur tersebut dilakukan harus dengan timing yang tepat, jika meleset akibatnya bisa fatal.
Keputusan untuk mendaratkan pesawat pada kondisi cuaca buruk harus diperhitungkan dengan cermat. Sebab bila pesawat diprediksi akan touchdown pada jarak kurang dari jarak aman pendaratan pada kondisi hujan (berbeda2 menurut tipe pesawat), maka pendaratan harus dibatalkan dan pesawat harus terbang lagi untuk mengulangi proses pendaratan atau terbang ke lapangan terbang terdekat yang dapat didarati dengan aman.



CP

 


Kirim email ke