On 2/6/2006 at 8:02 PM adi wrote:
>obat-obat flu yang dijual bebas ini sebenarnya obat simptomatik saja,
>penyebabnya sendiri kan virus *). jadi kalau dibilang 'manjur' itu agak
>aneh. isinya, rata-rata, NSAIDs (non steroid anti inflamatory drugs,
>misalnya parasetamol, aspirin dan turunannya, propanolol dan turunannya,
>yang semuanya memiliki efek samping serius kalau dipakai secara kronis),
>dekongestan (efedrin, pseudo efedrin, efedra, ppa), antitusif (dulu
>pakai kodein sekarang pakai dekstrometorfan), dan tambahan lain seperti
>antihistamin (ctm), kafein, vitamin (plus tahu, tempe, ayam, es teh
>manis kalau perlu, biar obatnya laris manis :-)

Pantesan para sesepuh kami penyakitnya aneh-aneh  :-(

Kita lihat, hidupnya sederhana, nggak macam-macam. Cuma, memang minum obat OTC. 
Lha, ketika hampir meninggal, "koleksi" penyakitnya lengkap sekali.
Segala macam kanker ada. Lalu hati dan ginjal sudah pada hancur-hancuran.
Oalah.


>> Ternyata, kelihatannya PPA ini "catch"-nya ya.
>kalau benar karena alergi, kemungkinann bukan PPA, tetapi karena
>kandungan antihistamin. coba lain kali kalau 'flu' seperti itu, minum
>antihistamin (anti alergi).

Trims, jadi mungkin ctm itu pun sudah cukup ya.


>> Selain itu, saya perhatikan selama ini jantung jadi agak
>> berdebar-debar setiap setelah meminum Neozep, dan metabolisme tubuh
>> seperti menjadi agak lebih aktif.
>
>karena efedrin bersifat simpatomimetik. sebenarnya dalam tubuh sendiri
>ada zat seperti ini

Oh begitu, jadi cara saya sebelumnya dengan main game FPS itu sudah benar ya, 
dan lebih "alami"  :)  he he


>> >kalau dengar laporan otak bisa 'lisis'
>> >setelah imunisasi
>> >kira-kira komentar anda-anda bagimana? :-)
>> 'lisis' itu apa pak?
>
>selnya tewas, mati. bisa koma, dll (bbrp zat anestesia untuk bbrp orang
>yang alergi juga bisa menimbulkan koma, pernah dengar kan ada kasus mau
>dioperasi malah koma?)

Hah, itu karena apa? Vaksin itu isinya kan cuma kuman yang sudah dilemahkan?

Well, pelarut/campurannya, seperti thimerosal yang mengandung mercury, memang 
bisa berbahaya sih  :(


>*) bisa terjadi superinfeksi bakteri. ini pembunuh signifikan di
>Indonesia. bbrp waktu lalu saya terpaksa tergeletak di tempat tidur 3 hr
>gara-gara ini :-) makanya  kalau ke dokter, biasanya langsung main sikat
>saja dikasih antibiotik. karena asumsinya: kalau cuman flu biasa, orang
>kagak mungkin datang ke dokter. sableng gak tuh ...

Betul, badan saya sampai sempat tidak mampu mengatasi penyakit seperti radang 
tenggorokan dll; harus dibantu oleh antibiotik.
Gawat betul dokter Indonesia nih  :-(


>waktu itu habis
>seharian keluar sama fade2blac, pas sebelum tidur siang, sebenarnya
>sudah terasa badan ndak enak, tidak seperti flu biasa, saya tinggal
>tidur. malam terbangun jadi sadar kalau sudah kena ISPA. untuk ada
>antibiotik generik (murah bo'), beli sendiri di apotik. mestinya kan
>harus pakai resep dokter. tapi minta resep dokter itu jauh lebih mahal
>dari pada beli obatnya. ironis bukan? :-)

Jadi ingat variasinya ini - seorang dokter kawan keluarga kami; dulunya dia 
miskin sekali. Tiba-tiba, dia jadi kaya raya, punya mobil dan rumah bagus, 
tempat praktek yang mewah, dan apotik sendiri. Tercengang juga kita melihatnya. 
Lalu dia bocorkan rahasianya; ternyata, dia biasa memberikan obat yang sangat 
mahal harganya kepada para pasiennya. Maka, perusahaan obat2 tsb memberikan 
komisi kepada dia, yang jumlahnya cukup lumayan. Wah...  speechless deh saya.

Saya juga kemarin ini dinasehati oleh kawan saya; bahwa kita musti proaktif 
dalam soal kesehatan kita.
Baik dalam menjaga/mencegah, maupun dalam mengobati.

Hasilnya, kita bisa lebih sehat, dan kalaupun ada sakit, biayanya bisa sangat 
ditekan.

Kelihatannya Indonesia bukan cuma perlu reformasi dalam bidang politik, tapi 
juga reformasi dalam bidang kesehatan  :-)


Salam,
Harry

Kirim email ke