boy avianto wrote: > On 2/8/06, Zaki Akhmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Kata siapa bung Carlos. Masih banyak kok yang sanggup beli apartemen > > > tiap ada apartemen baru. Ada aja yang sanggup beli mobil ratusan juta > > > tiap ada yang keluar. > > > > > > Nggak ngerti uangnya darimana... > > > > Saya pernah kepengen punya apartemen. Alasannya bukan karena saya > > memang pengen tinggal di apartemen. Tapi karena faktor lokasi. Misalnya > > saya beli rumah di Bekasi dan saya kerja di Semanggi, gila, bisa-bisa > > tua di jalan saya. Nah saya akan beli apartemen karena alasan lokasi. > > Read carefully tulisan saya: > --- > Masih banyak kok yang sanggup beli apartemen tiap ada apartemen baru. > --- > Maksudnya bukan sebagai tempat tinggal, tapi beli aja sebagai > investasi =). Kadang dibiarkan kosong melompong kok.
ooh kalau saya tidak salah ada banyak spekulator bang boy, jadi cara kerjanya mungkin kurang lebih begini. apartemen A di kelapa gading lagi mau dibangun dan bakal selesai dalam 24 bulan,nah sama si spekulator ini mereka beli 3-5 units secara kredit , nah beberapa bulan kemudian sewaktu masa pembangunan, unit apt tersebut dijual lagi plus profit 20%. Makanya jagan heran kalo unit apt habis terjual di dua minggu pertama penjualan. "Gila"nya di Indonesia, unit unit yang "Feng Shui"nya bagus,harganya bisa dijual 20% lebih tinggi dari unit disebelahnya. Nah ini saya gak tahu di negara lain bagaimana... > > > > Dulu pernah kerja di kantor yang ada definisi: > > > "Eksekutif adalah level pegawai yang tidak mendapat uang lembur" > > > Sialnya, semua karyawan baru langsung diberi label eksekutif... hehehe. > > > > Sialnya atau beruntungnya? Filo-nya Yahoo aja masih tidur di > > cubicle-nya lho pas PO Bronson nulis The Nudist on the Late Shift. > > Kalau dah gini, Filo didefinisiin beruntung atau sial ya? > > Sialnya. > Karena karyawan baru biasanya 'dipaksa' kerja sampai larut malam. Tapi > tidak dapat uang lembur. Padahal itu diluar peraturan jam kerja 40 jam > seminggu. > > Saya tidak bicara startup loh, tapi bicara established company yang > sengaja menghindari kewajiban membayar overtime dengan cara > memposisikan karyawan barunya sebagai kasta terendah orang2 yang tidak > terima lembur. sebenarnya ini yang pelan pelan bikin 'hatred' terhadap yang puunya bisnis dan setelah sekian lama menjadi 'api dalam sekam'.Praktek semacam ini sebenarnya kontra produktif. kalau macam di startup di LN kerja larut malam kan memang karena sudah diberi gaji super tinggi juga diberi stock options juga, jadi employee adalah pemilik perusahaan juga jadi wajarlah kalau ia bekerja mati matian. Yang lucunya di sebagian di indonesia suka beri contoh seperti di LN padahal yg di LN itu salary levelnya tinggi dan stock sudah diberikan sementara di .id tidak :-) Contohnya ya yang diungkap si Zaki ini (apa tuh ? Filo?) .. carlos
