m .c. ptrwn wrote:

> maap ya , tapi yang terjadi di indonesia itu ya begitu itu..
> "regenerasi kesalahan" dari kurikulum yang mungkin terlalu tinggi ,
> beban pendidikan (finansial,etc) sampai ospek,etc ...

Nyalahin diri sendiri aja daripada nyalahin sistem pendidikan. Lha wong
saya bukan dosen, bukan guru, bukan juga mendiknas, tapi cuma mahasiswa
yang banyak mainnya. Jadi kuliah berantakan dan gak selesai-selesai
sampai sekarang. Walau bukan dosen dan guru, saya sebenarnya senang
mengajar lho. Walau bukan mendiknas, saya pernah mampir ke perpustakaan
depdiknas hasil kerjasama dengan britcoun lho.

Kesalahan yang ada menurut saya, adalah kreativitas anak cenderung
dibelenggu. Anak tidak diberikan ruang bermain yang cukup. Anak tidak
diarahkan untuk menemukan legenda pribadinya. Ingat, setiap manusia itu
unik lho. Misalnya saya, kenapa saya masuk Elektro? Yah kebuka lagi deh
rahasianya. Ya, karena passing grade-nya tinggi. Gak tahu ternyata
kuliahnya begitu menyeramkan. Untung sekarang sudah lulus dari terkaman
empat persamaan Maxwell. Fyuuh.....

Ya udah, balik lagi ke diskusi pendidikan. Saya gak tahu deh, kurikulum
itu bisa dianggap beban atau tantangan. Saya semangat belajar sesuatu
ketika saya tahu ilmu itu bisa saya aplikasikan. Yah, jadinya saya
lebih suka baca yang bukan Elektro. Karena katakanlah, saya tahu
aplikasinya bagaimana. Baru setelah ikutan teknologia, kebuka deh
wawasannya.

Ternyata, The world is flat....

> nah waktu ini diprotes selalu dibilang "generasi mudanya lemah" dan
> "males" , . padahal kalo dianalisa sebenarnya yang males (baca: males
> untuk berubah, tidak beri contoh yang baik dan mengakui kesalahan)
> justru kaum tuanya sendiri.

Saya melihat ini sebagai sisa-sisa budaya feodal di Indonesia. Balik
lagi aja ke Buruk Rupa Manusia Indonesia ala Muchtar Lubis. Salah
satunya adalah....... Gila Jabatan. Nah paradigma ini bisa didobrak
dengan gampang sekali dengan teknologi. Silahkan baca lagi buku
Filosofi Naif nya Pak Onno W. Purbo.

> anyway no offense :-)  peace peace ... (boikot susu den*** aja deh).
Wah, Bang Carlos jangan ngomong SARA ah di teknologia. Ingat lho, SARA
itu sangat sensitif (VERY SENSITIVE, bukan lagi case sensitive). Biar
milis tetangga aja yang bahas isu itu. Karena sangat sensitif, orang
bisa pakai isu SARA untuk provokasi macem-macem.

> Carlos

Zaki Akkhmad

Kirim email ke