m .c. ptrwn wrote: > Sepakat. > > Nah poin seperti ini sewaktu ditunjukan hampir selalu dibalas "generasi > sekarang saja yang malas malas , buktinya generasi kami tidak apa apa > tuh". Akhirnya ya masalah tidak terselesaikan --seperti biasa-- , > paling banter jadi wacana dan disuruh baca buku seperti rekomendasinya > Zaki.Kemudian masalah ini diregenerasi terus menerus ..sampai > sekarang.
Tidak...tidak terus sampai diteruskan semuanya sampai sekarang Bang Carlos. Makannya rajin baca koran/sumber informasi Indonesia yang masih keren dong. Makannya sekali-kali pulang ke Indonesia dong, ngasih oleh-oleh buat saya. Titik dua D. Saya punya dua orang sepupu. Yang pertama sudah kelas 2 SD. Sekolahnya asyik. Kelasnya kecil, cuma 20 orang. Pelajaran yang diberikan pun beragam, disesuaikan dengan minat anak. Saya punya teman ITB anak Desain Interior, dari SMA swasta islam Bandung. Anaknya juga asyik. Ternyata setelah saya lihat, dia dari SMA yang memang memfasilitasi anak untuk mengembangkan bakat sesuai potensi yang dimiliki masing-masing anak tersebut. Terus pernah baca KOMPAS (lupa kapan persisnya). Ada satu buah SD swasta yang benar-benar lepas dari pemerintah. Dan hasil didikan sekolah ini bagus kok. Sayang, saya tidak rapi dalam mengkliping koran. Opini Bang Carlos di kalimat terakhir, saya bantah ah dengan tiga premis saya diatas. > Carlos Zaki Akhmad
