m.c. ptrwn wrote:
> Ini cuplikan dari milis lain tentang tanggapan Menristek terhadap
> artikel di Kompas mengenai "penelitian di Indonesia diabaikan".
>
> Point pentingnya pak Menristek adalah peneliti harus "deliver"
> something yang menjadi produk/profit yang berguna sehingga manfaatnya
> bisa dirasakan bersama dan tidak hanya menghabiskan anggaran saja.
> Setuju :)

Saya setuju juga. Cuma ngelihat kurva untuk bisa melewati "deliver
something" itu tajam banget euy.

> Point 6.c. tepat sekali buat pns yang kerja setengah setengah di "luar"
> :
> Mengundurkan diri dari PNS saja ( dan bikin startups)

Wah, ndak gampang Bang Carlos bikin startups di Indonesia. Serius. Kudu
jatuh-bangun jatuh-bangun. Lha wong jadi PNS aja kudu berjuang
banget-banget juga. (Kalau gak salah, saya punya data statistiknya
(CMIIW). 3 juta pelamar dan yang diterima 300 ribu). Gimana mau bikin
startup company, lha wong garasi aja gak punya. :D

Hmm saya akui, figur dan ide-ide memang fenomenal. Sama seperti kala
menjadi rektor ITB.

Soal muncul paham "benci teknologi", saya pikir tidak bisa mutlak
disalahkan ke orang-orang teknologi saja. 18 tahun dengan IPTN, saya
pikir masih ada sisi positif yang bisa diambil. Yaitu orang Indonesia
sebenarnya mampu.

Supaya tidak muncul paham "benci-teknologi", saya pikir orang-orang
teknologi tidak boleh sempit wawasannya. Yah kalau kata Kang Roby,
zaman sekarang semua sudah saling terkait. Soal topik teknologi dan
kebijakan, kalau saya tidak salah, Mas Sulfikar Amir pakar di bidang
ini. 
 
>  -mcp
> 

Zaki Akhmad

Kirim email ke