Jargon dan peneterasi teknologi Pada tanggal 18 Februari 2005, James Garret dari adaptive path menelorkan istilah AJAX di tulisannya yg di publikasikan di web perusahaan tsb. Jauh-jauh hari sebelumnya publik (paling ngga publik web developer, ...oke, web developer yg javascript savvy) sudah mengenal teknik-teknik request informasi baru ke webserver tanpa harus mengganggu user dengan aktivitas tak perlu seperti menunggu halaman di refresh. Fakta ini selalu disertakan hampir di setiap tutorial-tutorial AJAX di internet.
Teknologi (mungkin bukan kata yg tepat) pendukung AJAX sebenarnya sudah ada jauh-jauh hari sebelum Mr. Garret, atau AFAIK siapapun, merangkumnya dalam akronim dua suku kata. Microsoft paling tidak sudah mengimplementasikan XMLHTTP API sejak IE 3 (1996). API yg sama (meski beda versi) yg sekarang ini diimplementasikan oleh Mozilla pada DOM object xmlHttpRequest nya, yang mana sampai sekarang belom masuk standar W3C (per 5 april 2005 masih berstatus working draft). Tapi sejak istilah AJAX di lempar kepublik baru lewat setahun lalu, AJAX seolah-olah menjadi 'new-wave'. Padahal 'ngga new-new banget'. Suatu keadaan yang saya rasa di trigger hanya oleh istilah dan bukan oleh nilai yang ditambahkan olehnya (sebagaimana seharusnya semua teknologi berlaku). Suatu indikasi bahwa Jargon (atau buzzword, hype, marketing slang, etc...) memang diperlukan dalam proses peneterasi teknologi baru ke tengah-tengah publik. Publik, baik itu publik pengguna maupun penghasil, perlu istilah yg disetujui bersama untuk merujuk ke suatu (atau sekumpulan) teknologi atau produk. Perlu jargon untuk mentransformasi suatu teknologi menjadi "technology of the masses". Jika seseorang bisa menemukan benang merah yg menghubungkan sekumpulan teknologi terkait, dan merangkumnya dalam satu ide, kemudian mengartikulasikannya dalam suatu Jargon dan di publikasikan disaat yang tepat, maka ia bisa memulai suatu 'wave' baru. Paling ngga itu pelajaran yg bisa saya baca dari fenomena popularias AJAX. ~1ยข -- Barkah
