betul djie, saya kan pernah beritahu kalau contoh keluarga di AS yang
semua anaknya homeschooling justru dari kalangan yang sangat agamis.
Mereka justru menghindari pergaulan di dunia luar yang cenderung sangat
merusak. Tapi di satu sisi perlu peran orang tua yang sangat kuat untuk
mendidik anak2nya.

Yoi, Los.
setahu saya emang home schooling bermula di US (CMIIW) karena kondisi lingkungan di sana saat itu ( ngga tahu sekarang ) sangat ngga memungkinkan untuk mengirim anak ke sekolah, karena memang masalah pergaulan yang kurang kontrol dari orang tua, mungkin terlalu kapitalis, jadi ortu sibuk nyari duit.  Nah kondisi ini hampir sama dengan di Indonesia keliatannya lho,  terutama di kota-2 besar bahkan di sampai di pelosok desa,

setuju dengan carlos, kalau peran orangtua sangat dominan, karena anak hanya berapa kurang dari 8 jam di luar rumah selebihnya di dalam rumah ( dg catatn kalau ngga banyak kegiatan lho ).

Saya kurang tahu apakah metoda ini memang sudah cocok di Indonesia, jawabannya  pasti tergantung keadaan etc. Tapi setuju dengan Om Fahmi, kalau dengan home schooling bisa meningkat gaji guru, ( just courrious, kalau pemerintah sudah menetapkan  home schooling di akui, bagaimana standar pendidiknya apakah pendidik perlu sertifikasi etc, atau apakah orang tua bisa menjadi guru bagi anak-2,  yang saya tahu pasti ada kurikulum baku mengenai ini, tapi yang menjadi acuannya kemana )

kalau si guru harus punya sertifikasi atau ijasah  ini  bisa jadi peluang bisnis sesasat karen lagi lagi demi Ijasah.. orang rela melakukan apa saja, hehehe.... bahkan balon kandidat presiden pernah punya gelar Phd, walaupunngga ketahuan kapan sekolahnya yaa.......


Adjie




 

-mcp




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke