>On 7/25/2006 at 7:00 PM Arif Widianto wrote: >Nah, pertanyaan saya, dan ini selalu yang menjadi ketakutan saya: >1. Berapa bandwidth yang harus saya siapkan untuk kasus ini? Untuk >memfasilitas trial version, demo version, dan free account.
Biasanya paket webhosting bisa di upgrade. Malah kalau akhirnya perlu dedicated server, biasanya webhoster ybs akan dengan senang hati membantu. >Ketakutan saya, misal saya sewa hosting di dreamhost, netfirms, atau >lain-lain, paket ecek-ecek apa cukup? (Dari sisi teknis sih cukup, tapi >dari sisi realibilitas?) Masak produk baru dikoar-koarkan, eh udah koit >sistemnya. Ini yang sangat sulit untuk diprediksi. Misalnya, barusan kemarin ini, Dreamhost (top ten webhoster dunia) downtime sampai 2 minggu :) Padahal tentu kita yakin bagaimana kualitasnya. Tapi namanya musibah, memang seringkali di luar dugaan. Kemarin dimulai dari masalah di fileserver mereka, kemudian buntutnya network mereka jadi overload menangani backlog, lalu merembet kemana-mana sampai akhirnya kacau semua. Setelah itu beres, tiba2 daerah mereka mati lampu DAN ups fasilitas gedung gagal berfungsi DAN generator gedung tidak cukup kapasitasnya. Tapi saya senang dengan dreamhost karena dia jujur mau terus terang dengan berbagai masalah mereka - http://dreamhoststatus.com. Jadi saya pribadi akan tetap menjadi customer mereka. Contoh kasus lainnya; datacenter kantor saya yang dulu (ITnet) downtime sampai 4 hari. Padahal dia perusahaan datacenter yang paling terkenal di Inggris. Fasilitas datacenternya luar biasa lengkap dan serba redundant - UPS, generator, air conditioning, dll. Sialnya - power switching room nya suatu hari kebakaran. Walhasil, listrik tentu jadi padam DAN generator ternyata tidak bisa digunakan, karena antara generator dengan datacenter disambungkan oleh (yep) power switching room :) Saya rasa kini mereka sudah membuat power switching room mereka redundant juga, hi hi Solusinya? Investasi :) makin besar uang yang dikeluarkan, maka kita bisa membuat infrastruktur kita semakin redundant. Contoh; webhosting di 3 perusahaan di negara yang berbeda-beda. Maka, kalaupun 2 webhoster down, maka masih ada 1 yang up dan melayani para customer kita. Kalau mau lebih yakin, ya lebih banyak lagi saja, misalnya 5 webhoster, dst. Naahh... jadi ingat - gimana caranya kita membuat clone dari suatu server di Linux ? Kemarin ngobrol2 dengan seorang kawan, akhirnya tidak konklusif, sepertinya sih GFS (dari Redhat) bisa dimanfaatkan. Tapi belum sempat dicoba. Jadi idenya, ada 2 (atau lebih) server, salah satunya master. Yang lainnya sinkronisasi isinya ke server tersebut. Sehingga kalau masternya suatu saat down, maka yang lainnya bisa menggantikan dengan relatif cepat. Rsync juga bisa sih, tapi bebannya bisa agak berat ke server jika datanya sudah mulai banyak. Clustering Mysql belum yakin. Kalau di level FS, sepertinya cuma GFS, GoogleFS proprietary sih hehe Ada ide ? >3. Finansial Management, karena sifat bisnis adalah software siap pakai, >kita tentu harus siap dengan fund-return, bila customer tidak puas. Selain >itu, yang masih jadi pikiran, bagaimana cara menerima pembayaran dari >customer, yang kira-kiranya sih dari luar negeri. Apakah misalnya pak >Ginting di pay.indo.com menyediakan mekanisme seperti ini. Lalu bagaimana >skema alur uang untuk model kerja pengembalian uang tersebut. Kalau pakai Paypal jadi gampang. Cuma, ongkos transfer + potongan konversi kurs ke Indonesianya memang agak lumayan. Jadi perlu diperhitungkan juga. Salam, Harry --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
