On 10/18/06, Youppie Arliansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sistem penghargaan di masyarakat kita sepertinya lebih mengharapkan
> unsur terapan. Masyarakat kita lebih memberikan penghargaan terhadap
> seseorang ketika pengaruh orang tersebut lebih terasa bagi kelompok
> masyarakat kita. Contoh yang paling mudah, adalah penghargaan berupa
> kyai atau jagoan kampung. Dua penghargaan ini bertolak belakang, tapi
> memang dihargai oleh masyarakat.

Sampai batas-batas tertentu, menurut saya hal tersebut positif, dalam
arti tidak perlu dianggap sebagai "kesalahan" yang harus dihapus.
Banyak orang di Indonesia berpendapat bahwa kita sudah punya banyak
teori, namun sangat sedikit yang dipraktikkan. Dalam hal tersebut,
penghargaan yang bersifat aktivitas praktis di Indonesia seperti
Kalpataru, lebih membuat orang (terutama di sekitarnya) bersemangat,
walaupun barangkali belum menyentuh penyebab utama persoalan itu
sendiri.

Wajarlah: sebagian berusaha menekuni sisi yang lebih elementer, sisi
lainnya aktif bergerak pada penerapan. Kyai di tengah masyarakat tadi,
jika dia berada pada jalur yang benar, sangat mungkin lebih efektif
dalam memotivasi masyarakat dibanding pemikir sosial atau kyai lain
yang baru berbicara di tengah kerumunan penonton (bukan
masyarakatnya).

> Tapi memang masyarakat kita secara umum sepertinya lebih sulit
> menghargai hal-hal yang bersifat tidak langsung mengena pada diri
> mereka.
> Mengapa?

Lumrah saja: jika kita basah karena kehujanan, tentu sangat sedikit
yang berpikir bahwa angin telah mengumpulkan awan dan setelah melewati
jumlah tertentu menjadi hujan. Kita cukup menjawab praktis: saya
kehujanan.

-- 
amal

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke