Ini saya lampirkan penjelasan yg didapat dari
www.eramuslim.com 
lumayan panjang...jadi baca semuanya!

-------------------------------------------------------
Assalamualikum wr. wb.

Ustadz, ada teman saya non muslim menanyakan kenapa
dalam Islam babi itu haram dimakan? Saya hanya bisa
menjawab bahwa hal itu dilarang dan tersirat dalam
al-Quran tapi dia kurang puas atas jawaban saya.
Apakah ada kisah atau riwayat yang menjelaskan
sehingga babi itu haram dimakan?

Muhamad Rahmat
rahmat1701
Jawaban

Assalamu 'laikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perbedaan antara seorang mukmin dengan kafir dalam
amal perbuatannya terutama didasarkan dari niatnya.
Seorang yang beriman ketika mengerjakan sesuatu atau
meninggalkannya, selalu mendasarkan tindakannya itu
atas perintah dan larangan dari Allah SWT. Sebaliknya
seorang kafir tidak pernah menjadikan perintah dan
larangan Allah SWT sebagai landasan amalnya.

Misalnya, ketika seorang muslim melakukan shalat dan
ditanyakan kepadanya, mengapa dia shalat?, maka
jawabannya adalah bahwa karena Allah SWT telah
memerintahkannya untuk shalat. Tentang shalat itu ada
manfaatnya buat kesehatan atau ketenangan jiwa dan
sebagainya, tidaklah menjadi landasan dasar atas
shalatnya. Dan di situlah peran niat yang
sesungguhnya.

Demikian juga ketika seorang mukmin meninggalkan
khamar, zina, judi dan makan babi, niatnya semata-mata
karena dia tunduk, taat dan patuh kepada larangan dari
Allah SWT. Bukan sekedar mengejar hikmah dan tujuan
yang bersifat duniawi. Tidak minum khamar bukan karena
sekedar tidak mau mabuk, melainkan semata-mata karena
Allah SWT mengharamkannya. Tidak mau zina bukan karena
takut kena sipilis atau HIV, tetapi karena ada
larangan dari Allah SWT. Demikian juga, tidak makan
babi bukan karena takut ada cacing pita, melainkan
karena Allah SWT sudah mengharamkannya.

Adapun orang kafir tidak pernah mendasarkan
tindakannya itu karena iman dan ketundukan kepada
aturan yang datang dari Allah SWT. Paling jauh,
landasannya sekedar logika dan penemuan ilmiyah.
Padahal, sesuatu yang ilmiyah itu justru bersifat
nisbi dan sangat mudah berubah.

Kalau kita amati saat ini, banyak juga non muslim yang
atas penemuan ilmiyahnya ikut-ikutan berpuasa
sebagaimana seorang mukmin. Misalnya, karena
kesimpulan ilmiyah membuktikan bahwa dengan
mengosongkan perut, tubuh akan semakin sehat. Maka
mereka pun berpuasa sebagaimana orang mukmin. Tetapi
disisi Allah SWT, puasa non muslim itu sama sekali
tidak ada nilainya.

Mengapa?

Karena puasanya buka lantaran taat kepada Allah SWT,
melainkan semata-mata karena kesimpulannya sendiri.

Penelitian ilmiyah dan beragam hikmah serta rahasia
ibadah seperti ini buat seorang mukmin tidak menjadi
dasar mengapa dia berpuasa. Sebab dasar ibadah
hanyalah semata-mata karena perintah dari Allah, bukan
karena ingin sehat atau sebab-sebab lainnya.

Jadi kalau teman non muslim anda itu kurang puas
dengan jawaban anda yang memang sudah benar itu,
jangan kecewa dulu. Sebab memang hal itulah yang
membedakan anda dengan teman anda. Anda adalah seorang
muslim yang taat pada perintah dan larangan Allah SWT,
sedangkan teman anda itu orang kafir yang ingkar
-bukan hanya pada perintah dan larangan Allah- bahkan
keberadaan dan kebenaran Allah SWT sebagai tuhan pun
diingkarinya. Bagaimana mungkin seorang yang
mengingkari eksistensi Allah bisa menerima dan
memahami aturan-aturan dari-Nya?

Kalau kita buat perumpamaan, seorang yang tidak
mengakui eksistensi suatu negara, tidak akan mungkin
mau mematuhi aturan-aturan yang ada di dalam negara
itu. Seorang gembong pemberontak di Papua misalnya,
tentu tidak mau menerima dan tunduk kepada peraturan
pemerintah RI. Dan seorang yang mengingkari kebenaran
ajaran Islam, tentu saja tidak bisa menerima perintah
puasa dan selalu bilang tidak puas.

Jawaban seperti itu bukan berarti kita menafikan
adanya manfaat dan hikmah di balik setiap perintah dan
larangan dari Allah SWT. Tentu manfaat dan hikmahnya
banyak sekali kalau mau diungkap, bahkan selalu ada
penemuan baru yang bersifat ilmiyah dan mampu
membuktikan kebenaran agama Islam. Termasuk hikmah di
balik pelarangan makan babi. Selain karena babi hidup
lebih jorok dari hewan ternak lainnya, juga semua
agama samawi baik yahudi, nasrani dan Islam, sepakat
memposisikan babi sebagai lambang kebusukan dan
kenajisan.

Banyak orang mengungkapkan bahwa babi itu kalau
terpaksa, mau makan kotorannya sendiri. Sementara
hewan lainnya masih punya harga diri. Mendingan mati
dari pada makan kotorannya sendiri.Juga banyak yang
mengatkan bahwa daging babi terlalu banyak mengandung
zat-zat yang berbahaya bagi tubuh manusia. Karena
makannya tidak terkontrol, apa saja dimakannya,
sehingga tubuhnya pun mengandung segala jenis
penyakit.

Dan masih banyak lagi rahasia dan hikmah di balik
pelarangan makan babi yang bisa dapatkan. Namun semua
itu sekedar menambah keyakinan yang sudah ada di dalam
hati kita. Bukan sebagai landasan utama. Dan buat
kita, apakah di balik larangan makan babi itu ada
hikmah atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya
dengan ketaatan kita kepada Allah SWT yang telah
melarang kita makan babi.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,
darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui
batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah:
173)

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'laikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
---------------------------------------------------------
--- edwin mluvi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> saya mah angkat tangan kang....
> hehehehehe....
> 
> 
> On 11/1/07, nandi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   Artikelnya bagus..
> > ada komentar yang bagian ini nih.. ada yang bisa
> bantu
> > jawab (pertanyaan paling bawah)??
> > ==========================
> > ..
> > Contoh: babi haram. Semua tahu, di Qur'an ada.
> Tapi kalo
> > >orang lain tanya kenapa haram, kita bengong.
> kemudian
> > >orangitu akan tanya: kenapa kita menjalani
> sesuatu yang
> > >kita sendiri gak tau kenapa.
> > >
> > > Bikin malu umat sendiri.
> > >
> > > Seorang profesor di Egypt sudah memecahkan ini.
> Babi
> > >adalah satu-satunya mamalia yang memiliki ginjal
> tidak
> > >sempurna. Darah kotor mamalia berisi urea yang
> beracun.
> > >Urea ini oleh ginjal mamalia disaring 98%. ZDalam
> tubuh
> > >babi however, regrettably kebalikannya. Ginjal
> babi hanya
> > >menyaring 2% urea. Artinya 98% urea dalam darah
> tetap
> > >dalam darah dan terseap ke dagingnya.
> > >
> > > Bukankah darah kotor bisa dikeluarkan melalui
> > >penyembelihan di leher?
> > >
> > > Ya, tapi sayangnya lagi, babi adalah
> satu-satunya
> > >mamalia yang tidak memiliki leher.
> > >
> > >
> > > Yah itu sedikit uneg-uneg gua akan kehidupan
> sosial dan
> > >spiritual kita.
> > ..
> > ===========================================
> > Pertanyaan :
> >
> > 1. Dengan teknologi sekarang, daging babi dapat
> diolah
> > sehingga 100% sehat. Lalu apakah hukum daging babi
> menjadi
> > halal ?
> > 2. Jadi kenapa babi diharamkan ? Apakah
> al-quran/nabi
> > muhammad menjelaskan lebih detil ? Ataukah kita
> tetap
> > harus mencari2 kenapa babi diharamkan ?
> >
> > - Nandi -
> > 
> >
> 


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke