Note: forwarded message attached.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--- Begin Message ---
Assalamu'alaikum wr.wb.

Ini lebih dikhususkan untuk akhwat... semoga bermanfaat !

Siapakah yang Ukhti Pilih ?


Menikah, satu kata ini akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi pemuda 
ataupun pemudi yang sudah mencapai usia remaja. Remaja yang sudah mulai 
memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, akan memperhatikan pasangan yang 
diimpikan menjadi pasangan hidupnya. Sejenak waktu, hatinya akan merenda mimpi, 
membayangkan masa depan yang indah bersamanya.

Saudariku muslimah yang dirahmati Allah, tentu kita semua menginginkan pasangan 
hidup yang dapat menjadi teman dalam suka dan duka, bersama dengannya membangun 
rumah tangga yang bahagia, sampai menapaki usia senja, bahkan menjadi pasangan 
di akhirat kelak. Tentu kita tidak ingin bahtera tumah tangga yang sudah 
terlanjur kita arungi bersama laki-laki yang menjadi pilihan kita kandas di 
tengah perjalanan, karena tentu ini akan sangat menyakitkan, menimbulkan luka 
mendalam yang mungkin sangat sulit disembuhkan, baik luka bagi kita maupun bagi 
buah hati yang mungkin sudah ada. Lagipula, kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala, 
Robb sekaligus Illah kita satu-satunya sangat membenci perceraian, meskipun hal 
itu diperbolehkan jika memang keduanya merasa berat. ”Mencegah lebih baik 
daripada mengobati.” Itulah slogan yang biasa dipakai untuk masalah kesehatan. 
Dan untuk masalah kita ini, yang tentunya jauh lebih urgen dari masalah 
kesehatan tentu lebih layak
bagi kita untuk memakai slogan ini, agar kita tidak menyesal di tengah jalan.
Saudariku muslimah, sekarang banyak kita jumpai fenomena yang sangat 
memprihatinkan dan menyedihkan hati. Banyak dari saudari-saudari kita yang 
terpesona dengan kehidupan dunia, sehingga timbul predikat ’cewek matre’, yaitu 
bagi mereka yang menyukai laki-laki karena uangnya. Ada juga diantara saudari 
kita yang memilih laki-laki hanya karena fisiknya saja. Ada juga diantara 
mereka yang menyukai laki-laki hanya karena kepintarannya saja, padahal belum 
tentu kepintarannya itu akan menyelamatkannya, mungkin justru wanita itu yang 
akan dibodohi.
Sebenarnya tidak mengapa kita menetapkan kriteria – kriteria tersebut untuk 
calon pasangan kita, namun janganlah hal tersebut dijadikan tujuan utama, 
karena kriteria-kriteria itu hanya terbatas pada hal yang bersifat duniawi, 
sesuatu yang tidak kekal dan suatu saat akan menghilang. Lalu bagaimana 
solusinya ? Saudariku, sebagai seorang muslim, standar yang harus kita jadikan 
patokan adalah sesuatu yang sesuai dengan ketentuan syariat. Karena hanya 
dengan itu kebahagian hakiki akan tercapai, bukan hanya kebahagian dunia saja 
yang akan kita dapatkan, tapi kebahagiaan akhirat yang kekal pun akan kita 
nikmati jika kita mempunyai pasangan yang bisa diajak bekerjasama dalam 
ketaatan kepada Allah.
Diantara kriteria–kriteria yang hendaknya kita utamakan antara lain:
1. Memilih calon suami yang mempunyai agama dan akhlak yang baik, dengan hal 
tersebut ia diharapkan dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam 
membimbing keluarga, menunaikan hak istri, mendidik anak, serta memiliki 
tanggung jawab dalam menjaga kehormatan keluarga.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Jika datang melamar kepadamu 
orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika 
kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang 
luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin ’Ali, “Saya punya seorang putri, 
siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ?” Hasan bin ’Ali menjawab, “Seorang 
laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan 
menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”
2. Memilih calon suami yang bukan dari golongan orang fasiq, yaitu orang yang 
rusak agama dan akhlaknya, suka berbuat dosa, dan lain-lain.
“Siapa saja menikahkan wanita yang di bawah kekuasaanya dengan laki-laki fasiq, 
berarti memutuskan tali keluarga.” (HR. Ibnu Hibban, dalam Adh-Dhu’afa’ & Ibnu 
Adi)
Ibnu Taimiyah berkata, “Laki-laki itu selalu berbuat dosa, tidak patut 
dijadikan suami. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang salaf.” (Majmu’ 
Fatawa 8/242)
3. Laki-laki yang bergaul dengan orang-orang sholeh.
4. Laki-laki yang rajin bekerja dan berusaha, optimis, serta tidak suka 
mengobral janji dan berandai-andai.
5. Laki-laki yang menghormati orang tua kita.
6. Laki-laki yang sehat jasmani dan rohani.
7. Mau berusaha untuk menjadi suami yang ideal, diantaranya: Melapangkan nafkah 
istri dengan tidak bakhil dan tidak berlebih-lebihan; memperlakukan istri 
dengan baik, mesra, dan lemah lembut; bersendau gurau dengan istri tanpa 
berlebih-lebihan; memaafkan kekurangan istri dan berterima kasih atas 
kelebihannya; meringankan pekerjaan istri dalam tugas-tugas rumah tangga; tidak 
menyiarkan rahasia suami istri; memberi peringatan dan bimbingan yang baik jika 
istri lalai dari kewajibannya; memerintahkan istri memakai busana muslimah 
ketika keluar; menemani istri bepergian; tidak membawa istri ke tempat-tempat 
maksiat; menjaga istri dari segala hal yang dapat menimbulkan fitnah kepadanya; 
memuliakan dan menghubungkan silaturahim kepada orang tua dan keluarga istri; 
memanggil istri dengan panggilan kesukaannya; dan yang terpenting bekerjasama 
dengan istri dalam taat kepada Allah Ta’ala.
Satu hal yang perlu kita ingat saudariku, bahwa di dunia ini tidak ada yang 
sempurna. Jangan pernah membayangkan bahwa laki-laki yang sholeh itu tidak 
punya cacat & kekurangan. Tapi, satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan 
adalah ikhtiar dengan mencari yang terbaik untuk kita, serta bertawakal kepada 
Allah dengan diiringi do’a.


Wassalam...


Penyusun: Ummu Ibrohim (Bulletin Zuhairoh)
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

--- End Message ---

Kirim email ke