--- Begin Message ---
Assalamu'alaikum wr.wb.
Ini lebih dikhususkan untuk akhwat... semoga bermanfaat !
Siapakah yang Ukhti Pilih ?
Menikah, satu kata ini akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi pemuda
ataupun pemudi yang sudah mencapai usia remaja. Remaja yang sudah mulai
memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, akan memperhatikan pasangan yang
diimpikan menjadi pasangan hidupnya. Sejenak waktu, hatinya akan merenda mimpi,
membayangkan masa depan yang indah bersamanya.
Saudariku muslimah yang dirahmati Allah, tentu kita semua menginginkan pasangan
hidup yang dapat menjadi teman dalam suka dan duka, bersama dengannya membangun
rumah tangga yang bahagia, sampai menapaki usia senja, bahkan menjadi pasangan
di akhirat kelak. Tentu kita tidak ingin bahtera tumah tangga yang sudah
terlanjur kita arungi bersama laki-laki yang menjadi pilihan kita kandas di
tengah perjalanan, karena tentu ini akan sangat menyakitkan, menimbulkan luka
mendalam yang mungkin sangat sulit disembuhkan, baik luka bagi kita maupun bagi
buah hati yang mungkin sudah ada. Lagipula, kita mengetahui bahwa Allah Taala,
Robb sekaligus Illah kita satu-satunya sangat membenci perceraian, meskipun hal
itu diperbolehkan jika memang keduanya merasa berat. Mencegah lebih baik
daripada mengobati. Itulah slogan yang biasa dipakai untuk masalah kesehatan.
Dan untuk masalah kita ini, yang tentunya jauh lebih urgen dari masalah
kesehatan tentu lebih layak
bagi kita untuk memakai slogan ini, agar kita tidak menyesal di tengah jalan.
Saudariku muslimah, sekarang banyak kita jumpai fenomena yang sangat
memprihatinkan dan menyedihkan hati. Banyak dari saudari-saudari kita yang
terpesona dengan kehidupan dunia, sehingga timbul predikat cewek matre, yaitu
bagi mereka yang menyukai laki-laki karena uangnya. Ada juga diantara saudari
kita yang memilih laki-laki hanya karena fisiknya saja. Ada juga diantara
mereka yang menyukai laki-laki hanya karena kepintarannya saja, padahal belum
tentu kepintarannya itu akan menyelamatkannya, mungkin justru wanita itu yang
akan dibodohi.
Sebenarnya tidak mengapa kita menetapkan kriteria kriteria tersebut untuk
calon pasangan kita, namun janganlah hal tersebut dijadikan tujuan utama,
karena kriteria-kriteria itu hanya terbatas pada hal yang bersifat duniawi,
sesuatu yang tidak kekal dan suatu saat akan menghilang. Lalu bagaimana
solusinya ? Saudariku, sebagai seorang muslim, standar yang harus kita jadikan
patokan adalah sesuatu yang sesuai dengan ketentuan syariat. Karena hanya
dengan itu kebahagian hakiki akan tercapai, bukan hanya kebahagian dunia saja
yang akan kita dapatkan, tapi kebahagiaan akhirat yang kekal pun akan kita
nikmati jika kita mempunyai pasangan yang bisa diajak bekerjasama dalam
ketaatan kepada Allah.
Diantara kriteriakriteria yang hendaknya kita utamakan antara lain:
1. Memilih calon suami yang mempunyai agama dan akhlak yang baik, dengan hal
tersebut ia diharapkan dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam
membimbing keluarga, menunaikan hak istri, mendidik anak, serta memiliki
tanggung jawab dalam menjaga kehormatan keluarga.
Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda, Jika datang melamar kepadamu
orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika
kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang
luas. (HR. Tirmidzi, hasan)
Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin Ali, Saya punya seorang putri,
siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ? Hasan bin Ali menjawab, Seorang
laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan
menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.
2. Memilih calon suami yang bukan dari golongan orang fasiq, yaitu orang yang
rusak agama dan akhlaknya, suka berbuat dosa, dan lain-lain.
Siapa saja menikahkan wanita yang di bawah kekuasaanya dengan laki-laki fasiq,
berarti memutuskan tali keluarga. (HR. Ibnu Hibban, dalam Adh-Dhuafa & Ibnu
Adi)
Ibnu Taimiyah berkata, Laki-laki itu selalu berbuat dosa, tidak patut
dijadikan suami. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang salaf. (Majmu
Fatawa 8/242)
3. Laki-laki yang bergaul dengan orang-orang sholeh.
4. Laki-laki yang rajin bekerja dan berusaha, optimis, serta tidak suka
mengobral janji dan berandai-andai.
5. Laki-laki yang menghormati orang tua kita.
6. Laki-laki yang sehat jasmani dan rohani.
7. Mau berusaha untuk menjadi suami yang ideal, diantaranya: Melapangkan nafkah
istri dengan tidak bakhil dan tidak berlebih-lebihan; memperlakukan istri
dengan baik, mesra, dan lemah lembut; bersendau gurau dengan istri tanpa
berlebih-lebihan; memaafkan kekurangan istri dan berterima kasih atas
kelebihannya; meringankan pekerjaan istri dalam tugas-tugas rumah tangga; tidak
menyiarkan rahasia suami istri; memberi peringatan dan bimbingan yang baik jika
istri lalai dari kewajibannya; memerintahkan istri memakai busana muslimah
ketika keluar; menemani istri bepergian; tidak membawa istri ke tempat-tempat
maksiat; menjaga istri dari segala hal yang dapat menimbulkan fitnah kepadanya;
memuliakan dan menghubungkan silaturahim kepada orang tua dan keluarga istri;
memanggil istri dengan panggilan kesukaannya; dan yang terpenting bekerjasama
dengan istri dalam taat kepada Allah Taala.
Satu hal yang perlu kita ingat saudariku, bahwa di dunia ini tidak ada yang
sempurna. Jangan pernah membayangkan bahwa laki-laki yang sholeh itu tidak
punya cacat & kekurangan. Tapi, satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan
adalah ikhtiar dengan mencari yang terbaik untuk kita, serta bertawakal kepada
Allah dengan diiringi doa.
Wassalam...
Penyusun: Ummu Ibrohim (Bulletin Zuhairoh)
Murojaah: Ust. Aris Munandar
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--- End Message ---