Mudah2an bermafaat...insya Alloh

Warm regards

ronn

------------------------------------------

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

UST. H Ahmad Sarwat, Lc, yang saya hormati, saya ingin
mengajukan pertanyaan tentang JIL. Bagaimana pandangan
ust tentang JIL? Saya melihat JIL menyatakan Islam
tapi koq mereka membenci MUI pada saat fatwa aliran
sesat kpd Ahmadiyah dll.

Bahkan ada wacana untuk membubarkan MUI. Apakah di
dalam JIL banyak alumni dari IAIN (UIN)? Mereka
menerjemahkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan
pemikiran mereka, apakah ini merupakan salah satu
kebebasan berfikir dalam Islam?

Dalam website-nya dia membuka salam dengan " Dengan
nama Allah Tuhan Pengasih Tuhan Penyayang Tuhan segala
agama" Lalu apakahagama Budha, Hindu bertuhankan
Allah? Padahal mereka menyembah patung, memberi
sesajan kpd patung-patung. Apakah mereka tidak percaya
bahwa sesungguhnya agamayang diterima Allah SWT adalah
Islam?

Demikian pertanyaan saya, bila ada kekeliruan dalam
pertanyaan ini saya mohon maaf.

Wassalam

DS
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Islam memang memberikan kebebasan berpikir serta
berpendapat. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
Bahkan kebebasan berpikir yang ada di dalam agama
Islam justru menjadi inspirasi orang Barat untuk
kemudian membebaskan diri dari kungkungan raja dan
hegemoni gereja. Lantas mereka bisa maju, terjadi
Revolusi Industri di Inggris hingga sampai sekarang
ini.

Para pemuka kebebasan di Barat sangat diinspirasikan
oleh kebebasan yang ada di negeri muslim. Mereka bebas
menyapaikan pendapat, memberikan gagasan, menemukan
begitu banyak karya di bidang ilmu pengetahuan.
Padahal di Eropa, para raja dan kekuatan gereja saat
itu sangat indoktrinatif.

Kitab Injil mereka campur aduk dengan pemikiran mereka
yang picik, lalu dipaksakan kepada masyarakat. Di
antara pengekangan gereja di Eropa saat itu antara
lain:

Konsep Trinitas

Trinitas adalah sebuah tema yang paling kontroversial.
Sebab konsep trinitas itu sangat bertentang dengan
ajaran asli Nabi Isa dan ditentang oleh begitu banyak
Gereja di Timur.

Tapi dengan kekuatan senjata dan kekuasaan, Gereja
Eropa berhasil memaksakan paham kaum penyembah berhala
untuk ditelan bulat-bulat, sehingga dijadikan dogma
yang tidak boleh dibantah.

Seorang raja Inggris, Hertog, bahkan tega membunuh
ribuan orang dengan jalan dibakar hidup-hidup dalam
rangka memaksakan dogma sesat itu di kalangan
rakyatnya. Tapi siapa yang sempat bertaubat sebelum
dibakar hidup-hidup, masih ada kesempatan diampuni dan
hukumannya dikurangi menjadi pemenggalan kepala dengan
pedang, sebagai ganti dari dibakar hidup-hidup.

Pengekangan Ilmu Pengetahuan

Gereja bukan hanyamemaksakan masalah khilafiyah di
bidang aqidah saja, tetapi juga merasuk ke wilayah
lain yang tidak seharusnya mereka masuki, yaitu ranah
ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentunyadengan
pendekatan dogmatis yang justru melecehkan kemajuan
ilmu pengetahuan.

Misalnya mereka paksakan doktrin bahwa bumi itu rata
seperti meja. Padahal tidak ada ayat Injil yang
menyebutkan demikian. Tentu saja indoktrinasi seperti
ini ditentang oleh para ilmuwan yang saat itu telah
berhasil membuktikan kebenaran teori heliosentris.

Akibatnya masyarakat Eropa tertekan selama
berabad-abad, mereka ditindas, disiksa, dipaksa dan
dilecehkan akalnya.

Betapa mereka mendambakan hidup di bawah alam
kebebasan berpikir sebagaimana yang dialami oleh
bangsa-bangsa muslim di dunia Islam. Ketika tekanan
sudah mencapai puncaknya, meledaklah arus kebebasan di
Barat sana, di mana salah satu pemicunya justru datang
dari Islam.

Kebebasan Berpikir Versi Islam

Di bidang aqidah, agama Islam relatif punya konsep
yang sederhana. Tidak berbelit-belit sebagaimana
keruwetan para filsuf barat yang memang rancu cara
berpikirnya.

Maka di dunia Islam tidak pernah timbul jurang pemisah
antar sekte aliran filsafat. Sehingga tidak pernah
terjadi hegemoni ulama atau indoktrinasi aqidah.
Apalagi dalil dan nash yang dimiliki umat Islam sudah
sangat jelas dan mudah dipahami. Beda dengan dogma
gereja yang sumbernya justru otak para pemikir
linglung di Eropa.

Di bidang ilmu pengetahuan, kebebasan berpikir versi
Islam sangatbisa kita banggakan. Dengan kebebasan itu,
sejarah Islam bertabur cahaya dengan para penemu di
bidang ilmu pengetahuan. Ibnu Sina, Ibnu Rusydi,
Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Ibnu Bathuthah, Al-Idrisi,
dan sederet nama ilmuwan besar yang sampai hari ini
masih dianggap sebagai tokoh iptek dunia.

Meski Al-Quran banyak bicara tentang fenomena alam,
tetapi tidak ada satu pun ayat yang bicara terlalu
detail tentang hal itu. Ini bedanya antara Injil hasil
karangan manusia dengan Al-Quran kalamullah, yaitu
hal-hal yang terkait dengan iptek lebih banyak
diserahkan kepada otak manusia.

Sehingga silahkan saja manusia menikmati kebebasan
berpikirnya, silahkan lakukan penelitian, eksplorasi,
bahkan manusia ditantang untuk menembus jagad raya.
Sesuatu yang di dalam dogma Gereja Eropa saat itu
merupakan kemustahilan.

Kebebasan Pemikiran Versi JIL

Tapi hari ini, yang diusung oleh Jaringan Islam
Liberaldengan nama kebebasan berpikir sama sekali
tidak ada kaitannya dengan ilmu pengatahuan.

Kebebasan berpikir versi JIL tidak lain adalah agenda
yahudi zionis dalam rangka menghancurkan eksistensi
semua agama, termasuk Islam.

Yang mereka usung bukanlah kebebasan berpikir Islam
seperti yang dahulu dikembangkan.

Dahulu kebebasan berpikir yang datang dari dunia Islam
adalah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan
dalam masalah aqidah dan prinsip dasar agama.
Kebebasan berpikir di masa Islam dahulu melahirkan
banyak kemajuan buat bangsa dan negara, terutama di
bidang ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan dan
penemuan-penemuan besar.

Sedangkan kebebasan versi JIL saat ini tidak
menghasilkan apa-apa, kecuali kufur dan laknat dari
Allah.

Yang mereka usung adalah liberalisme yahudi yang
intinya ingin merusak semua agama, mencampur aduknya,
melecehkannya danmencampur aduk aqidah.

Liberalisme = Agenda Zionis

Pluralisme dan Liberalisme Agama merupakan pintu masuk
bagi penghancuran agama itu sendiri. Hal ini sudah
menimpa agama Nasrani ratusan tahun lalu di Eropa dan
Amerika, sehingga gereja di sana banyak yang kosong
dan kemudian dijual.

Banyak pula orang Eropa dan Amerika yang mengaku
sebagai Kristiani kian lama kian sedikit dan berubah
menjadi agnostik, kaum yang tidak mau tahu soal agama.
Inilah buah dari Liberalisme yang melanda umat
Kristiani Eropa dan AS.

Setelah itu, kaum Liberalisme dan Pluralisme yang
didalangi oleh apa yang disebut-sebut Henry Ford
sebagai The International Jews ini mengarahkan
sasarannya ke umat Islam dunia.

Indonesia sebagai negeri kaum Muslimin terbesar dunia
menjadi tujuan utama gerakan penghancur agama ini.
Berkedok sebagai Islam Pluralis, Islam Liberalis,
Islam Damai, Islam Kultural, dan kedok-kedok lainnya,
mereka mencoba mendangkalkan agama Allah ini.

Itulah JIL di Indonesia, mereka bukan mengusung
kebebasan pemikiran sebagaimana layaknya dahulu umat
Islam, tetapi pada hakikatnya mengusung misi zionisme
international untuk menghancurkan Islam dari dalam.
Waspada dan waspada.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

taken from www.eramuslim.com

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke