masihkah anda akan merayakan valentine day? pilihan
ada pada anda...tapi sebelum anda putuskan alangkah
baiknya jika anda baca dulu uraian di bawah! Insya
Alloh bermanfa'at.


wassalam


ronn

-----
Assalamu'alaikum wr. wb.

Langsung saja pertanyaan saya Ustadz, bagaimana hukum
merayakan hari Valentine dalam pandangan syariah
Islam? Mohon dijelaskan hakikat dan sejarahnya. Mohon
dijelaskan, terima kasih

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Nurahini Hendrawati
nura_stevenson
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya
merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak
remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan
bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai
hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah
hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di
barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk
mengungkapkan rasa kasih sayang.

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat
ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut
mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan
remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak
warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta
dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan
valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja
muslim sekali pun.

Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar
Agama Nasrani

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita
dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari
simbol agama Nasrani.

Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya
berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah
Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara
ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga
sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari
raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul:
Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut:
“Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen,
pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi
Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama
Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine
yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World
Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang
mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan
barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada
kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari
ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya
berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam
tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut
merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama
Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari
Romawi kuno.

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan
menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan
penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah
menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak
pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS.
Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya
nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine
sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani.
Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan
perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya
pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama
Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri
perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga
kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan
perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya,
melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat
Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar
agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik.

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical
Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine”
berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini
ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang
Romawi”.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi
“to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta
orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini
merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk
dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan
kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan
panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa
matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu
wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri.
Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik,
seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta
yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah
cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus
ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris
hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta
ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah
semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik
yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu
billahi min zalik.

Semangat valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini
mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa
Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan
mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan
bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa
sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi.
Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta,
kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek
zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan
semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam
kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan
larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng
tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan
seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu
menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan
rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan
memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan
nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya
semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine
itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih
sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang
diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan
antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya
bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan
perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna
make love atau bercinta adalah melakukan hubungan
kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun
mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja
cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau
menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda
begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make
love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat,
berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa
kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak
asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk
menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan
teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa
saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina,
bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan
sekedar mendekatinya pun diharamkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina
itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan
yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

oleh: Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.
www.eramuslim.com

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke