--- Asep Sumantri <> wrote:

> To: [EMAIL PROTECTED]
> From: Asep Sumantri 
> Date: Sun, 24 Feb 2008 07:37:16 -0800 (PST)
> Subject: PKS+ Premiere  Ayat-Ayat Cinta   (The
> Movie)
> 
> Subject: Ayat-Ayat Cinta (The Movie)
>      
>     Buat yang sudah menunggu filmnya, berikut
> komentar dari milis sebelah.
>      
>     Premiere Ayat-Ayat Cinta (AAC)
> 
>      Senin malam (18/2) pukul 18.45 WIB di Plaza
> Senayan, merupakan pemutaran
> 
>     perdana film Ayat-Ayat Cinta besutan Hanung
> Bramantyo yang dibintangi artis-artis
> 
>     seperti Riyanti Cartwright, Fedi Nuril, Carissa,
> Zaskia Adya Mecca, Melanie Putri, dan
>     lain-lain. Film itu sendiri diangkat dari novel
> dengan judul yang sama
>     karya Habiburahman el Shirazi.
> 
>     Sejak awal berita novel ini akan difilmkan,
> banyak orang meragukan
>     filmnya tak akan sebagus novelnya. Menuangkan
> buku setebal lebih dari
>     300 halaman ke dalam film berdurasi hanya dua
> jam bukan persoalan
>     gampang. Terlebih, jangan membandingkan
> Habiburahman dengan Hanung,
>     keduanya memang maestro, tetapi di bidang yang
> berbeda. Goresan indah
>     pena Kang Abik belum tentu sejalan sentuhan
> directing Hanung dalam
>     membesut sebuah film.
> 
>     Layar lebar bukanlah buku, sebaliknya, buku tak
> selebar gedung
>     bioskop. Meski demikian, ada beberapa catatan
> yang coba saya selipkan
>     dalam tulisan ini, berdasarkan pengamatan
> langsung (maksudnya, nonton
>     langsung) film AAC yang diputar perdana Senin
> malam kemarin.
> 
>     Pertama, bagi yang sudah membaca buku AAC
> (sebagian orang membacanya
>     berulang-ulang) , akan merasakan beberapa
> distorsi di film ini. Salah
>     satunya adalah, kejutan ketika Fahri melakukan
> ta'aruf dengan Aisha.
>     Seingat saya, di bukunya, Fahri terkejut ketika
> bertemu Iqbal di rumah
>     Aisha. Di filmnya, justru sebaliknya. Sebelumnya
> Aisha sudah
>     memberitahu bahwa Iqbal adalah pamannya. Contoh
> lain... ah, jangan,
>     nanti nggak surprise, makanya nonton saja
> langsung ya...
> 
>     Kedua, buat yang belum pernah baca bukunya
> nih... film ini lumayan
>     bagus, menurut sebagian orang yang saya tanya
> komentarnya setelah film
>     ini, "bagus, inspiring dan cukup melegakan". Ada
> lagi, "Kalau ibu-ibu
>     yang nonton mungkin bisa meleleh airmatanya".
> Komentar lain, dari para
>     lelaki tentunya, "Kalau saya jadi Fahri, saya
> nikahi semua, Aisha,
>     Maria, Nurul dan Noura, kan jatahnya empat
> tuh...". Sementara kaum
>     hawa berkomentar, "Sedih, kasihan Maria. Salut
> buat Aisha, kok bisa ya
>     berbagi suami..." Nah, sedangkan Irfan
> Hidayatullah, ketua FLP (Forum
>     Lingkar Pena) yang nontonnya bersebelahan dengan
> saya (kursi D-14,
>     saya di D-15), berkata, "happy ending buat
> Maria..." dan "Untuk ukuran
>     film Indonesia, ini membanggakan. Terlebih Kang
> Abik itu anggota FLP"
> 
>     Ketiga, tentang Mesir. Sayang sekali pemandangan
> alam dan segala hal
>     yang berkenaan dengan Mesir sangat minim. Kurang
> diexplore. Terlihat
>     sangat parsial, hanya digambarkan sungai Nil,
> padang pasir dan onta.
>     Selebihnya kota Kairo dan kampus Al Azhar,
> itupun tetap kurang maksimal.
> 
>     keempat, Poligami. Inilah yang paling
> menghebohkan di film AAC. Nyata
>     sekali dan lumayan dominan pesan poligami yang
> diangkat di film ini.
>     Ada keharuan, ada kelucuan, juga perselisihan
> antara Aisha dan Maria.
>     Juga bagaimana bingungnya Fahri menghadapi dua
> isterinya itu. Kang
>     Abik dan Hanung, Anda sudah memulai pesan
> poligami di film ini, saya
>     cuma membayangkan setelah jutaan orang menonton
> film ini, akan ada
>     fenomena poligami di negeri ini.
> 
>      
> 
>     Ketika memasuki area studi XXI (twentyone) Plaza
> Senayan, Jakarta,
>     nuansa timur tengah menghiasi seluruh studio.
> Setiap penonton yang
>     masuk melalui eskalator akan langsung disapa
> sebaris senyum belasan
>     gadis-gadis cantik berpakaian ala Aisha, lengkap
> dengan gamis dan
>     cadarnya, beberapa dari mereka membawa sebuah
> baki berisi kurma.
> 
>     Begitu masuk area studio, nuansa Aisha itu lebih
> kental. Setiap
>     pengunjung yang datang diberi souvenir sebuah
> syal untuk penutup wajah
>     (cadar), syal yang sama yang dikenakan Aisha
> dalam film AAC. Selain
>     itu, bisa saya saksikan puluhan wanita
> berpakaian gamis dan bercadar
>     lalu lalang di seluruh area studio. Belum lagi
> penjaga loket karcis
>     yang semunya berjilbab, gamis dan cadar.
> Sebagian pria berwajah-wajah
>     tampan (mirip-mirip saya lah), melilitkan
> kafiyeh di lehernya.
>     Pokoknya timur tengah habis deh, yang nggak ada
> cuma onta saja. ha ha...
> 
>     Cadar ini seolah jadi fenomena tersendiri di
> Senin malam itu. Mulai
>     dari penonton yang datang tidak mengenakan
> pakaian muslimah pun
>     tiba-tiba mengenakan cadar. Agak aneh sih,
> bagian bawahnya agak
>     terbuka tetapi wajahnya ditutupi cadar. Sampai
> para wartawati pun
>     mengenakan cadar ketika mewawancarai para aktor
> dan aktris pemeran AAC.
> 
>     Kenapa saya bilang ini fenomena? Saya teringat
> ketika film Ghost yang
>     diperankan oleh Demi Moore diputar, seluruh
> dunia seperti demam Ghost.
>     Tiba-tiba saja semua gadis memotong rambutnya
> pendek diatas leher
>     seperti Demi. Atau ketika film Ada Apa Dengan
> Cinta (AADC) ngetop di
>     pasaran, tiba-tiba semua lelaki -kebanyakan
> remaja- jadi pendiam dan
>     sok puitis seperti Rangga (Nicholas Saputra).
> 
>     Apakah AAC akan memunculkan fenomena baru? di
> jalan-jalan, di mall,
>     sekolah, kampus, perkantoran dan di berbagai
> area publik lainnya akan
>     terlihat orang berlalu lalang mengenakan cadar?
> atau tiba-tiba
>     toko-toko pakaian kebanjiran order pakaian gamis
> ala Aisha?
> 
>     kita lihat saja nanti...
> 
>     Saya juga bilang, film ini bisa jadi alternatif
> tayangan bermutu
>     karena sarat pesan moral (kalau boleh dibilang
> dakwah-nya). Mengingat
>     sudah lama sekali negeri ini tidak memproduksi
> film-film bernuansa
>     religi dengan kualitas yang cukup mengundang
> decak kagum. Terakhir
>     saya nonton film yang sarat nuansa religinya ya
> film Cut Nyak Dien,
>     meski sebagian orang mengatakan itu film sejarah
> dan nasionalis.
> 
>     Tapi setelah mendapat ucapan dari saya, Kang
> Abik justru mendekatkan
>     mulutnya ke telinga saya dan berkata pelan,
> "perjuangan belum selesai,
>     kita ada kemungkinan menghadapi somasi dari
> kalangan non muslim"
> 
>     Kang Abik mengaku diberondong pertanyaan oleh
> puluhan wartawan soal
>     kemungkinan somasi ini. Beliau pun menjawab
> tidak tahu menahu, dan
>     bertanya balik kepada wartawan, sisi mana yang
> dianggap merugikan
>     agama tertentu. Kang Abik dan saya -juga
> penonton lainnya- semoga
>     sepakat, tidak ada satu bagian pun dari film ini
> yang merugikan agama
>     tertentu.
> 
>     Kalau mau diteliti lagi, apakah pada bagian
> ketika Maria mengucapkan
>     dua kalimat syahadat saat menikah dengan Fahri
> di rumah sakit? atau
>     ketika Maria menutup mata untuk selamanya saat
> sedang sholat berjamaah
>     bersama Fahri dan Aisha? Entahlah...
> 
>     Tapi menurut saya nih -semalam saya sms dengan
> isi yang sama ke Kang
>     Abik- ini hanyalah sebuah trik bisnis. Bagaimana
> pun film adalah
>     sebuah industri dengan target mengeruk milyaran
> rupiah. Jadi, apapun
>     caranya tentu akan dilakukan untuk membuat orang
> berbondong-bondong
>     membeli tiket di berbagai studio 21.
> 
>     Boleh jadi, produser film ini terlanjur termakan
> issu bahwa para
>     pembaca AAC tidak akan menonton film ini
> lantaran takut filmnya tak
>     sebagus novelnya. Akibatnya, dibuatlah satu cara
> agar orang penasaran
>     untuk menonton film ini, baik itu muslim maupun
> non muslim.
> 
>     Dan media adalah cara yang paling tepat
> dijadikan corong untuk
>     menghembuskan issu ini. Lewat media diangkatlah
> sebuah issu film ini
>     akan disomasi oleh kalangan agama lain.
> 
>     Tetapi kalau pun benar akan disomasi oleh pihak
> lain, saya kira ini
>     bisa dipandang dari sisi positif. Itu artinya,
> film ini berhasil,
>     setidaknya berhasil memancing reaksi orang. Nah,
> kasus yang sama -saya
>     dengar- terjadi juga dengan film hollywood
> Kingdom of Heaven yang
>     disebut-sebut diprotes kaum gereja. Tapi
> nyatanya film tersebut terus
>     diputar tanpa halangan...
> 
>     So, Kang Abik... jalan terus... (habis)
> 
>      
> From: BDI
> Sent: Thursday, February 21, 2008 11:01 AM
> Subject: FW: Ayat-Ayat Cinta (The Movie)
>      
> 
>     
>     
> -'-'-'-'-'-'-'-'-'-'-'-'
> Messages in this topic (2) Reply (via web post) |
> Start a new topic
> Messages | Polls | Calendar
> 
> 
>        
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile.  Try it now.


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke