Pusara Tanpa Nama

24 Mar 08 05:32 WIB

Oleh Musthofa Sukawi

Di suatu siang yang terik, aku bermaksud berziarah ke
makam seorang ulama besar yang sangat digandurungi
masyarakat Indonesia, Imam Syafi'i. Ini adalah ziarah
pertamaku di makam sang imam, setelah beberapa bulan
kemarin aku tiba di negeri seribu pusara. Dari halte
bus, aku melangkahkan kaki menelusuri lorong kecil
yang diapit bangunan-bangunan kumuh. Aku melangkah
sendirian tanpa seroang teman.

Tapi sayang, setelah jauh aku berjalan, aku menemui
jalan buntu. Seketika aku sadar bahwa aku telah
tersesat jalan. Karena menurut informasi teman-temanku
yang sudah pernah berziarah, makam Imam Syafi'i hampir
selalu dipadati peziarah dan berada di komplek sebuah
masjid. Sementara sekarang aku berada di area
pemakaman yang sangat kotor. Aku berada di tengah
pusara-pusara tua yang tampak kusam karena sudah lama
tidak terawat.

Aku merasa kecapekan setelah berjalan jauh. Sesaat aku
duduk beristirahat di samping sebuah pusara tua. Aku
pandangi pusara yang kusam itu. Tak ada nama yang
tertoreh pada batu nisannya. Mataku masih
memandanginya seolah ingin menembus dinding tebal yang
menghalangi pandanganku. Ingin sekali aku mengetahui
keadaan dalam liang kubur nan jauh di sana.

Bagaimana kondisi sang penghuni kuburan ini? Apakah
dia berada dalam gelimang rahmat, atau siksaan yang
malah dia dapat? Sejenak terlintas di benakku sebuah
kisah Rasulullah yang melintasi suatu pekuburan. Rasul
mendengar suara jeritan penghuni kubur karena mendapat
siksaan. Lalu Rasul bersabda, "Dua orang itu disiksa
bukan karena dosa besar.

Salah seorang disiksa karena permasalahan buang air
kecil, dan seorang lagi disiksa karena senang
menggunjing." Segera Rasul mengambil sebatang dahan
basah dan membelahnya menjadi dua. Rasul meletakkan
belahan dahan itu pada dua pusara di hadapannya.
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini?"
tanya seorang sahabat Nabi. Rasul menjawab, "Semoga
ini bisa meringankan siksanya, hingga dahan basah ini
menjadi kering."

Aku masih membayangkan kondisi penghuni kuburan itu.
Namun, tiba-tiba hatiku terasa bergetar saat lamunanku
menyapa diriku sendiri. Bagaimana aku nanti saat
berada di alam kubur? Kembali aku teringat pada sabda
Nabi. Dua orang disiksa dalam kubur hanya karena
persoalan kencing dan gunjingan; dua hal yang dianggap
persoalan biasa di kalangan masyarakat pada zaman
sekarang. "Astaghfirullah!" gumamku spontan.

Bagaimana dengan dosa yang lebih besar dari itu? Bagai
air bah yang datang dari tempat yang tinggi, lamunanku
menerjang jauh ke masa-masa silam yang pernah aku
lalui. Tubuhku turut bergetar seolah tak kuat menahan
getaran dalam hatiku. "Astaghfirullah!" kembali
bibirku tak kuasa membendung ucapan itu. Aku mematung,
diam membisu sambil menundukkan wajahku dalam-dalam.
Tak terasa butir-butir air mata netetes di atas pasir.
"Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Aku berlindung
kepada-Mu dari siksa kubur dan siksa neraka."

Setengah jam lebih aku merundukkan wajah dengan
sesekali air mata yang tak tertahan. Setiap kali aku
mengingat dosa-dosa di masa silam, terbayang pula
siksaan yang nantinya sebagai balasan. Di saat itulah,
air mataku mengalir deras meski tanpa suara isakan.
Aku masih terhanyut dalam perasaan hatiku. Hingga
suara adzan Ashar terdengar berkumandang menyadarkan
lamunanku.

Aku usap air mataku dengan selembar tisu. Sebelum
beranjak, aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari
sesuatu. Tepat ke arah sebuah pohon yang rindang itu
aku melangkah. Seolah ingin mengikuti jejak Nabi, aku
mengambil dahan basah kemudian menaruhnya di atas
pusara seraya menghadiahkan bacaan surat al-Fatihah.
Aku tidak tahu, apakah penghuni kubur itu mendapat
siksaan atau tidak. Tapi aku berharap, semoga seutas
dahan basah itu bisa memberi manfaat kepadanya.

Usai itu, aku bermaksud berjalan dengan maksud mencari
sumber suara adzan yang masih berkumandang. Aku
telusuri jalan setapak di sela bangunan perumahan
penduduk. Dan akhirnya, aku menemukan masjid tempat
adzan itu dikumandangkan. Subhanallah, ternyata masjid
Imam Syafi'i! Dengan wajah berseri, aku melangkah
memasuki masjid. Aku tidak langsung menuju ke ruangan
tempat sang imam disemayamkan. Setelah aku menunaikan
shalat Ashar berjamaah, baru aku beranjak menuju
pusara Imam Syafi'i.

Di depan pintu masuk, aku ucapkan salam kepada sang
imam. Aku berusaha mendekat ke arah pusara yang
berterali itu. Tapi kerumunan penziarah terlalu padat
sehingga aku tidak bisa mendekat. Bahkan aku terseret
arus hingga terpojok di sudut ruangan. Aku hadiahkan
lantunan ayat-ayat Fatihah kepada sang imam yang
selama ini menjadi madzhabku.

Namun, betapa aku terperanjat dan termangu ketika
melihat pemandangan di hadapanku. Apa yang sedang
mereka lakukan itu? Aku merasa aneh melihat prilaku
mereka. Di antara penziarah itu ada yang menciumi
terali pusara, ada yang bergelayutan ingin menyentuh
pagar pusara, dan ada juga yang berdoa khusyuk hingga
menangis di tepi pusara. Yang menambah perasaan
heranku lagi, ada juga penziarah yang berfoto-foto di
samping makam sang imam! Tiba-tiba perasaan di hatiku
menjadi tidak menentu. Aku tidak mengerti, dan aku
tidak paham akan pemandangan di hadapanku ini. Bahkan,
sebuah keingintahuan yang tiba-tiba muncul dalam
hatiku, "Bagaimana sikap Imam Syafi'i ketika melihat
semua ini?"

Dengan perasaan hampar aku menerobos keluar ruangan.
Aku akui, kesan ziarah pertamaku ke makam Imam Syafi'i
terasa kurang menyentuh. Aku lebih merasa berkesan
saat berada di pusara tanpa nama itu. Sungguh aku
merasa ngeri melihat pemandangan yang baru saja aku
lihat. Bagaimana mereka menafsiri sabda Rasul yang
dulu pernah melarang berziarah kubur? "Dulu aku
melarang kalian untuk berziarah kubur. Tapi sekarang,
berziarahlah!" Selama dalam pejalanan pulang, aku
masih bertanya-tanya dalam hati, adakah faedah lain
dari ziarah kubur selain mengingat pada kematian dan
mendoakan si mayit? []

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke