Assalamu'alaikum wr wb
“Katakanlah:"Sesungguhnya
Tuhan-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara
hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (siapa yang dikehendaki-Nya)".Dan barang
apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi
rezki yang sebaik-baiknya.”
(QS.34:39)
Pernah ke pantai ? Ketika
kita berjalan di tepi pantai, pasti kita akan meninggalkan jejak langkah kaki
kita, yang tak lama kemudian jejak itupun kembali terhapus,di isi pasir, dan di
sapu air. Pernah memperhatikan tanah kosong ? tak lama kemudian, pasti ada
tetumbuhan yang mengisinya. Begitulah.., alam ini, tak suka dengan kekosongan,
seperti ada energi yang menyeimbangkan supaya kekosongan itu selalu terisi.
Begitupun dengan
kita, sebagai bagian dari alam, makhluk ciptaanNya. Hukum ini pun berlaku.
Ketika kita memberikan buku untuk sahabat kita, tak lama kemudian ada buku baru
yang kita miliki. Ketika kita bersedekah, ternyata ada pemasukan baru buat kita.
Pengosongan ternyata melahirkan pengisian. Ibaratkan tangan yang mengepal atau
menggenggam sesuatu, tak mungkin bisa menerima sesuatu kan ? Ya.., begitulah,
tidak akan ada pemberian yang baru, sampai kita melepas apa yang kita pegang.
Dengan
kata lain, kalau kita ingin di isi, maka kita harus mengosongkan terlebih
dahulu. Manage-lah keosongan itu, usahakan selalu ada ruang kosong, supaya ada
tempat untuk di isi.
Pengosongan ini,
bisa di lakukan secara suka rela, bisa juga di ‘paksa’ keadaan. Misal, kita
sengaja bersedekah dengan penuh keikhlasan, maka Insyaallah itu merupakan
bentuk pengosongan yang akan segera terisi kembali. Tapi bisa juga kita
kecopetan, sakit sehingga perlu obat dan perawatan, atau musibah lainnya, yang
membuat –setidaknya- materi kita melayang. Sama – sama pengosongan uang, tapi
yang satu penuh ridho dan kebahagiaan, yang satu lagi penuh benci dan
kekecewaan. Kita milih yang mana ?
Tak selamanya
pengosongan yang tak menyenangkan kita, itu tak baik bagi kita. Sebagaimana
sebaliknya,
tak selamanya juga pengosongan yang kita anggap baik, itu baik bagi kita.
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”(QS.2:216)
Contoh, seorang
calon mahasiswa yang keukeuh ingin masuk fakultas dan universitas idamannya,
yang akhirnya kandas juga. Pada awalnya ia sedih, tapi ternyata ia menjadi
lebih produktif dan mendapatkan ganti yang lebih baik. Ada juga yang gembira
mendapat pekerjaan baru, tapi ternyata membuat dia lalai dan terjerembab dalam
kubangan dosa. Jadi tetaplah positif dan ikhlas.
Pengisian tak mesti
selalu sama dengan pengosongan. Apa yang kita keluarkan tak harus kembali dalam
bentuk dan jumlah yang sama. Karena yang mengetahui apa yang pas buat kita
adalah Allah swt. Bisa jadi betul, kalau kita ingin sepatu baru, coba cek
sepatu kita, barangkali ada sepatu yang nganggur, kemudian kita sedekahkan, dan
selanjutnya kita memiliki sepatu baru lagi, entah hadiah, atau kita beli sendiri
dari rizki lebih kita.yang jelas sepatunya kembali lagi, sama – sama sepatu.
Atau
ketika kita ingin cinta, maka kita beri cinta pada orang lain, dan kemudian
orang lainpun mencintai kita. Balasannya equal alias sama. Tapi ada juga
pengembalian yang jumlahnya lebih dari apa yang kita berikan. Sedekah Rp.
5.000, ternyata dapat hadiah senilai Rp.100.000. Memang demikian salah satu
janji Allah swt
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(kurnia-Nya)
lagi Maha Mengetahui” (QS. 2:261)
Yang agak unik, ada
juga pengembalian itu dalam bentuk berbeda atau malah di tangguhkan dalam waktu
yang di tentukan kemudian. Misal karena mengharap realisasi janji Allah swt
pada ayat di atas, kita sedekah Rp.100.000, supaya dapat Rp.700.000. di tunggu –
tunggu, ternyata tidak ada juga, ‘pengembalian’ yang 7 x lipat itu. Padahal ia
telah di selamatkan dari
sakit, yang pengobatannya lebih dari Rp.700.000, atau ia di kemudian hari
menikah dengan perempuan shalihah, yang dengannya justru tak hanya menghemat
Rp.700.000 tiap bulannya, tapi juga pendamping hidup yang setia. Ada juga yang
gemar berinfak dan rajin berdo’a tapi permintaannya tak juga terkabul, ruang
kosongnya masih juga belum terisi, bisa jadi ia akan mendapatkannya kelak di
akhirat, dengan balasan yang lebih baik. Jadi, bukan urusan kita, apakah mau di
balas dengan yang sama bentuk dan kuantitasnya, atau mau di balas dengan yang
lebih banyak, atau mau di balas dengan bentuk yang berbeda, atau mungkin di
tangguhkan pembalasannya. Tugas kita, adalah terus berusaha memberi, dan setia
berdoa. Biarlah Allah swt yang maha tahu dan maha adil yang mengurus
pembalasannya.
Hal – hal yang
positif, hanya akan mengisi pada ruangan yang steril dari hal – hal negatif.
Selama masih ada hal negatif, maka hal positif tak mau datang mengisi.
Mari kita perjelas.
Misal ketika kita bekerja, malas dan tidak mood, coba perhatikan meja kerja
kita, mungkin tidak rapih, sehingga kita tidak nyaman dalam bekerja, maka coba
bersihkan, rapihkan file – file sesuai arsipnya,buat daftar kerja, dan lakukan
sesuai prioritasnya. Hal ini berarti kita telah mengosongkan dan mengeluarkan
hal – hal negatif. Kemudian kita menjadi lebih nyaman, relax dan fokus. Walaupun
daftar kerja kita cukup banyak, tapi karena kita sudah positif dan damai, maka
kita bisa menyelasaikannya.
Jadi teringat
sebuah hadist nabi, bahwa orang yang beriman itu tak mungkin berdusta,jika ia
berdusta berarti sedang tidak ada keimanan dalam hatinya.
Contoh lain, kalau
kita merasa kalah dan kekurangan dalam hidup, merasa dunia ini tidak adil, yang
kaya tambah kaya, sementara yang miskin tambah banyak, kita merasa tidak selalu
mendapatkan kesempatan sebagaimana mereka yang beruntung, kita punya penyakit
sehingga kita tidak bisa sesukses mereka, lingkungan kita yang tidak sekondusif
yang di harapkan, dan berbagai kondisi negatif lainnya, merupakan manifestasi
yang membuat kita demikian adanya. Menjadi korban kehidupan. Maka jika kita
ingin merubahnya, kosongkanlah diri kita dari persepsi – persepsi negatif itu.
Buatlah
ruang baru, persepsi baru, sikap baru yang akan mengundang kemungkinan baru dan
melahirkan dunia baru bagi kita. Kita percaya bahwa Allah maha adil, maha kaya,
kita yakin bahwa apa yang kita keluarkan akan di ganti, sehingga kita tak takut
kekurangan, kita yakin bahwa rizki kita sudah di atur, kita yakin bahwa alam ini
penuh dengan sumber daya, jika sumber daya yang satu habis maka akan lahir
sumber daya yang baru, kita yakin bahwa dalam diri kita sudah tersedia potensi
yang mumpuni untuk keberlangsungan dan keberhasilan kita, dst. Ketika muatan
negatif
telah di sterilkan, maka insyaallah, kita telah menyediakan ruang untuk di isi
muatan positif, dan akan terwujud. Kita telah membuat skenario menjadi pemenang
dalam hidup, bukan menjadi korban. Keberlimpahan sesungguhnya telah ada di
sekililing kita, dan kekurangan hanya ada pada diri kita. Bukalah hati dan
pikiran kita untuk menerima keberlimpahan itu, buatlah kekosongan sebagai
tempatnya dan tariklah dengan keberlimpahan itu dengan usaha dan do’a.
Wallohu ‘alam
mohon maaf bagi yang kurang berkenan, kesalahan dari saya, kebernaran dari
Allah swt, semoga bermanfaat.amiin
wassalamu'alaikum wr wb
tedi darussalam