sedih banget... miris ajah bacanya

--- On Fri, 6/6/08, Deni Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Deni Setiawan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: FW: Kabur dari Penjara dengan tape - Uli
To: "ea ea" <[EMAIL PROTECTED]>, "JRC PEMBANGUNAN" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Deni Kantor" <[EMAIL PROTECTED]>, "Dewok Samsung" 
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, 6 June, 2008, 3:44 PM








--- On Thu, 6/5/08, Deny Lingga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Deny Lingga <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: FW: Kabur dari Penjara dengan tape - Uli
To: "Deny Lingga" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, June 5, 2008, 11:25 PM








ADA PEMBUNUH LARI DARI PENJARA MENGGUNAKAN TAPE ULI 
 
Posted by: "eko tjahyono" [EMAIL PROTECTED] 
Thu May 3, 2007 3:14 am (PST) 

Satu ini saya serius !!!! dan cerita ini saya hanya memforward dari apa yang 
saya dapatkan email dinas saya, sedang file aslinya silahkan klik URL dibawah 
ini.

http://rgardino. multiply. com/journal/ item/28

Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, 
pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan 
seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, 
pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. 
Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot 
palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang 
sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu 
sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 
tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang 
diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan. 

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk 
penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago 
bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan 
berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun 
nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia 
sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap 
berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, 
dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si 
ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi. Berita ini rupanya 
sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia 
mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang 
orang yang membunuh ayahnya.

“siapa yang bunuh ayah saya!” teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

“Gue terus kenapa?” ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut 
gelak tawa di belakangnya. 

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut 
si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh 
tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. 
Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

“Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!” ujar kepala lapas yang ikut 
menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua 
tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya 
pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap 
pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan 
hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 
1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara. 

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca 
artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 
8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang 
bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini 
disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif 
selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel 
tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak 
seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia 
keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi 
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang 
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu bahwa 
dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling 
aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. 
Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan 
ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan 
ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, 
pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di 
sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya 
terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda 
tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan 
juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang! 

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang 
ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua 
hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala 
Lapas yang ditulisnya sendiri.

Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat. 

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas 
berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun 
juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai 
jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi 
menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan 
berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna 
untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin 
sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib 
setempat. Itulah yang namanya keadilan!

Kartika Puspitasari
REWS - EHS
Hewlett Packard Indonesia
<Safe Our FOREST ... Print ONLY when you need to>








Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin 
accept no liability for any loss or damage arising
from the use of this E-Mail or attachments.


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.24.6/1486 - Release Date: 6/5/2008 6:29 
PM



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke