Assalamu'alaikum wr wb
semoga bermanfaat, dan mohon maaf bagi yang kurang berkenan

________________________________


Bahayanya menunda dan pentingnya bersegera
 
Menunda, ialah penyakit yang berbahaya, pencuri
yang ulung, dan musuh besar keberhasilan. Ia sudah menjangkiti manusia sejak
dulu, dan akan terus berulang, pada siapa saja dan kapan saja.  Ia bisa 
menggagalkan proyek apapun, dan
menghancurkan prestatasi apapun. Ada 
banyak kisah dan pengalaman yang –seharusnya- menjadi pelajaran tentang
bahayanya menunda. Baik diri kita sendiri yang mengalami maupun orang lain. 
 
Menunda bisa mengundang kemurakaan dan siksaNya
Kisah Ka’ab bin Malik dan dua sahabat Nabi
lainnya, yang tertinggal perang tabuk, karena menunda – nunda persiapan,
terlena dengan panen, serta ciut dengan kemarau dan panas yang amat sangat,
menjadikan ia, di kucilkan selama 40 hari,oleh orang - orang beriman termasuk
keluarganya. Dan hampir tergolong orang munafik. Namun karena kasih sayang dan
luasnya ampunan Allah swt, serta kejujuran Ka’ab dan dua sahabatnya, akhirnya
taubatnya di terima. 
 
“Dan terhadap tiga
orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi
telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun
telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa
tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian
Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.Sesungguhnya
Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. At-taubah 9:118)
 
Menunda bisa menghilangkan cinta
Pengalaman perih, seorang pemuda yang mendamba
perempuan shalehah, namun menunda menyatakan niat sucinya untuk mengenapkan
separuh dien nya,akhirnya harus rela menghadiri resepsi pernikahan perempuan
dambaannya, bahkan ternyata yang mempersuntingnya adalah teman dekatnya
sendiri. Duh…, padahal sang perempuan sholehah telah siap di persunting, bagi
siapa saja pemuda shaleh yang berani melamarnya.
 
Menunda bisa menghilangkan kesempatan kerja,
misal karena telat melamar dan interview. Menunda bisa menguras lebih banyak
dana, karena denda jatuh tempo. Menunda bisa menghancurkan prestasi bagi
seorang pelajar atau mahasiswa yang menunda  belajar dan mengerjakan tugas. 
Menunda komunikasi dan perhatian penuh
kasih sayang bisa membawa pada perceraraian suami istri. Menunda penjelasan dan
mohon maaf bisa melahirkan buruk sangka dan permusuhan.  Karenanya dalam Islam, 
kebekuan komunikasi
maksimal 3 hari.
 
"Tidak
halal bagi seorang muslim mengucilkan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya
bertemu lalu ini berpaling dan yang ini berpa-ling, dan yang terbaik dari
keduanya ialah yang memulai dengan salam” (HR.Bukhari Muslim)
 
Menunda olahraga, berpola hidup sehat dan
chekup, bisa menghilangkan kesehatan bahkan merenggut kehidupan. Menunda
menindak lanjuti ide bisnis, bisa menghilangkan kesempatan dan potensi pasar
karena pesaing yang mandahului. Menunda mematangkan materi dan persiapan, bisa
menggagalkan presentasi. Menunda latihan bisa membuat musuh menang dalam
pertandingan. Menunda mengeluarkan peraturan dan surat keputusan dari pihak 
berwajib di
pemerintahan, bisa menimbulkan konflik berkepanjangan. Dan sederet akibat buruk
lainnya yang menjadi konsekuensi penundaan. 
 
Menunda sangat mudah menjangkiti dan menyebar.
Dalam istilah nya, menunda ini bisa di juga di sebut Keheula Syndrom. Sebuah 
syndrom yang fungsinya mengejar detik sebelumnya
dalam siklus aktivitas kita. Mengejar, karena setiap detik memiliki hak nya
masing – masing dalam menyelesaikan tugasnya. Melewatkan apa yang seharusnya
kita lakukan di hari itu, di jam itu, menit itu dan detik itu, akan membuat
kita melaksanakanya di detik ini. Sesungguhnya setiap hari itu memiliki
pekerjaannya masing-masing dan setiap waktu memiliki kewajibannya
masing-masing. Tidak ada waktu yang kosong dari pekerjaan. Tatkala dikatakan
kepada Umar Bin Abdul Aziz yang pada dirinya juga telah nampak kepayahan karena
banyak bekerja. "Tangguhkanlah pekerjaan ini sampai besok", maka dia
menjawab: "Pekerjaanku satu hari saja telah menguras tenagaku hingga
letih, maka apakah lagi apabila pekerjaan dua hari bertumpuk kepadaku?"
Adalah baik, untuk
menyandarkan apa yang akan kita lakukan besok dengan ucapan Insyaallah, jika
Allah swt menghendaki, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi besok.
Sebagiamana perintah Allah swt
 
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap
sesuatu:"Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan
menyebut):"Insya Allah". Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa
dan katakanlah:"Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang
lebih dekat kebenarannya daripada ini".
(QS. Al-Kahfi 18:23-24)
 
Namun, ungkapan ini
telah ber deviasi dari makna aslinya di masyarkat kita. Jika ada yang
mendahului janjinya dengan ungkapan Insyaallah, berarti bisa iya bisa tidak.
Salah satu kelompok yang berjasa menggeser makna aslinya adalah para penunda,
yang sering bersembunyi pada ungkapan ini. Dan ini adalah kekeliruan yang harus
kita sama – sama perbaiki. 
 
Kata Keheula berasal dari bahasa Sunda, yang artinya nanti. Dalam berbagai 
variannya,
nanti 10 menit lagi, nanti malam, nanti besok saja,nanti minggu depan, dan 
seterusnya. Keheula Syndrom ini adalah pelarian
abadi dari kemalasan dan ketidakmampuan. Jika kita ingin hari esok yang
berantakan, maka tundalah sampai besok apa yang bisa kita lakukan hari ini.
Jika kita menginginkan hari esok yang tenang, produktif dan prestatif, maka
jangan tunda sampai besok apa yang bisa di lakukan lusa. Keheula Syndrom, telah 
banyak mengerdilkan potensi manusia, dan
merampas kebahagiaan, yang seharusnya di dapatkan bila mampu me-manage syindrom
ini. Kenapa me-manage ? Karena ada saat – saat, di mana penundaan di perlukan.
Misalnya menunda membeli barang-barang konsumtif, menunda mengambil keputusan
atas informasi dan pertimbangan yang belum matang, termasuk di dalamnya
menerima pinangan dan keputusan penting lainnya. Menunda bereaksi spontan dan
reaktif terhadap keadaan, sebelum jernih pikiran dan jelas tindakan yang perul
di ambil, menunda untuk menarik nafas, menghimpun energi dan memikirkan
alternatif lain sehingga solusi lebih efektif dan efisien,  menunda membalas 
kejahatan dengan kejahatan,
dan tentunya, menunda yang di usahakan permanen adalah menunda melakukan dosa
dan maksiat. Mengetahui kerugian dan bahaya dari Keheula syndrom , kadang bagi 
sebagian kita tak cukup untuk  meninggalkan kebiasaan ini. Karenanya, kita
bisa menambahkan resep lain supaya syndrom ini bisa bekerja posotif dalam
kehidupan kita. Diantarnya :
 
-         Skala
Prioritas
Mengetahui mana yang penting dan
mana yang tidak penting, mengetahui mana yang lebih penting di anatar yang
penting, serta bertindak dengan berani dan setia terhadapnya, akan membuat
tindakan kita lebih terarah dan penundaan menjadi tersisihkan
-         Bagilah
dalam dosis kecil
Karena terlihat terlalu besar atau
terlalu banyak, membuat kita menundanya.Maka bagilah kedalam bagian – bagian
yang kecil. Sehingga kita bisa lebih mudah mengerjakan dan mencari solusinya. 
-         Buat
Deadline
Merasa waktu masih lama, sering
melalaikan dan membuat kita menunda – nunda apa yang seharusnya kita kerjakan.
Terkadang, dengan target waktu, kita bisa berkarya lebih baik dari pada tanpa
target waktu, karena potensi kita lebih terperas dan termaksimalkan. Deadline
artinya garis kematian, dan begitulah memang, kematian yang tak kita ketahui
mendatangi kita, seharusnya membuat kita lebih optimal menjalani hidup, dan
menanggalkan penundaan.
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok .Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana
dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS.Luqman
31:34) 
 
-         Reward
& punishment
Sebagai motivasi, tak salah bahkan
perlu bagi kita untuk memberi hadiah dan hukuman pada diri kita sendiri atas
prestasi dan kedisiplinan yang kita capai atau hukuman atas pelanggaran dan
penundaan yang kita lakukan. Hadiah itu tak mesti yang mahal, tapi tetap
menggairahkan dan bernilai bagi kita. Tentunya bagi setiap kita hadiah dan
hukumannya berbeda-beda.
 
-         Latihan
dan lingkungan
Penundaan adalah kebiasaan, dan
kebiasaan bisa di perbaiki dengan latihan dan lingkungan yang mendukung. Dalam
Islam, shalat lima 
waktu adalah latihan bagaimana kita menghargai waktu dan menempatkan sesuatu
pada watunya. Latihan perlu proses dan pengorbanan, dari zona nyaman (yang
semu) berpindah pada zona kurang nyaman. Maka lingkungan yang positif, jauh
dari kelalaian, ketidakteraturan dan kesia-siaan bahkan kemaksiatan. Menjadi
penting untuk kita berlatih mengganti penundaan meuju produktifitas dan penuh
prestasi. Penundaan atau Keheula Syndrom biasa bersarang di emosi kita, dan 
salah satu cara termudah untuk merubah emosi
adalah merubah gerak. Berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya,  bisa menjadi 
terapi menghilangkan syndrom ini,
sebagimana Rasulullah saw dalam sebuah riwayat di katakan, Abu hurairah berkata 
tiada seorang pun yang kulihat lebih cepat jalannya
daripada Rasullah saw, seolah bumi ini dilipat - lipat untuknya. Sungguh, kami
harus bersusah payah melakukan itu, sedang Rasulullah saw tidak”.begitulah
Rasulullah saw berjalan, seolah turun ke dataran yang lebih rendah. Dan
berbagai latihan lainnya.
 
 
Lawan dari penundaan
adalah kesegeraan. Ia adalah resep jitu kesuksesan, teman sejati keberhasilan
dan unsur penting kebahagiaan. Ada banyak kisah dan pengalaman yang
membuktikannya, baik kita alami sendiri maupun dari orang lain. Selain itu,
kesegeraan ternyata banyak di perintahkan dalam Al-Qur’an,ia merupakan salah
satu akhlak Qur’ani, karenanya bersegera dalam kebaikan, bukan sebatas untuk
keberhasilan diri, tapi juga sebagai bentuk ketaatan atas perintahNya. 
 
“..Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan..”(QS.Al-Baqarah :148)
 
Bersegera dalam kebaikan, juga akan menjadi
magnet dalam pengabulan do’a kita. Sebagaimana Nabi Zakariya, yang sampai
lanjut usia, masih belum punya keturunan. Ia tetap berdo’a, dan salah satunya
ia senantiasa bersegera dalam kebaikan, hingga Allah swt menganugerahkan
lahirnya Nabi Yahya as
 
“Dan (ingatlah kisah)
Zakariya, tatkala ia menyeru Tuhannya:"Ya Tuhanku janganlah Engkau
membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.  Maka 
Kami memperkenankan do'anya, dan Kami
anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung.
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam
(mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami
dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.
(QS.Al-Anbiya
21:89-90)  
 
Selain untuk bersegera pada kebaikan, juga
Allah swt menyuruh kita untuk bersegera dalam menuju ampunanNya
 
“Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi
yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”(QS. Al-‘Imran 3:133)
 
“Berlomba-lombalah
kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas
langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya.Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya.Dan Allah mempunyai karunia yang besar”
(QS.Al-Hadiid 57:21)
 
 
 
Kisah lain yang sangat menarik, adalah kisah
Ukasyah bin Mihshan. Dalam suatu majelis bersama Rasulullah saw dan para
sahabat. Rasulullah saw bersabda “Akan masuk Syurga dari
umatku tujuh puluh ribu orang tanpa di hisab dan adzab (dalam riwayat lain)
wajah-wajah mereka bercahaya bagaikan cahaya rembulan di bulan purnama.”
Kemudian Rasulullah saw berdiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara para
shahabat menduga-duga siapakah golongan mereka itu. Diantara para sahabat ada
yang menduga; “Semoga mereka adalah orang-orang yang menjadi sahabatnya”. Yang
lainnya mengira; "Semoga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam
keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan perkiraan-perkiraan yang
lainnya. Kemudian Rasulullah saw keluar dari rumahnya dan mengabarkan sifat
golongan yang akan menjadi penghuni Syurga tanpa hisab dan adzab itu. Beliau 
saw bersabda:
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta kay (praktek pengobatan
dengan menempelkan besi panas atau semisalnya pada bagian tubuh yang sakit),
tidak meminta ruqyah (jampi yang tidak syar’i), dan tidak pula berfirasat sial
(dengan sebab melihat sesuatu yang disangka ganjil seperti burung dan
semisalnya), serta mereka bertawakkal penuh kepada Rabb mereka.” Kemudian
Ukasyah bin Mihshan berdiri seraya berkata: “(Wahai Rasulullah) berdo’alah
kepada Allah supaya aku termasuk golongan mereka. Rasulullah saw bersabda:
“Engkau termasuk dalam golongan tersebut. Kemudian sahabat anshar meminta di
do’akan pula, tapi Rasulullah saw bersabda “Engkau sudah di dahului
Ukasyah”..(HR Bukhari Muslim)
 
Demikianlah Ukasyah
telah memanfaatkan momen itu dengan baik, ia bersegera meminta dan bertindak
untuk mendapatkan Syurga tanpa hisab. Sikap Ukasyah inilah yang perlu kita bina
dan di jadikan kebiasaan. Ukasyah
Attitude State (UAS) adalah kondisi sikap dimana peluang kebaikan dan
keuntungan dunia bahkan akhirat akan terbuka lebih lebar. UAS inilah yang
membedakan para pelopor kebaikan dengan para pengikut kebaikan. Hal ini pula
yang membedakan pejuang generasi awal dengan penikmat generasi awal. 
 
“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu)
pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mewarisi (mempunyai) langit dan bumi.
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang
sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang
yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada
masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.Dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan.(QS Al-hadiid 57:10).
 
Antara Keheula Syndrom (Kesyin) dengan Ukasyah Attitude State (UAS), sebetulnya
ada sebuah simpul yang dengannya kita bisa dengan mudah melepaskan diri dari
kekangan sikap menunda, dan beralih pada sikap bersegera. Ia adalah Taqwa, yang 
salah satu dimensi nya
adalah pengendalian diri, dimensi lainnya adalah mengingat kematian, dimensi
lainnya adalah mencontoh Rasulullah saw, dan berbagai dimensi - dimensi  
lainya, yang teramat luas untuk di jabarkan,
dan teramat megah untuk di gambarkan. Dengan ketaqwaan ini, penyakit klasik
menunda bisa di obati, dan kesegeraan berbuat baik bisa terealisasi. Yang akan
berbuah pada kebahgiaan dunia dan akhirat. Maka mari kita sama – sama
mengusahakannya, merawatnya, dan menularkannya. Dan semoga Allah swt
menganugerahkan kepada kita ketaqwaan yang sejati, hingga akhir nanti. 
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam keadaan berserah diri”(QS. Al-‘Imran 3 :102)
 
 
 
Wallohu’alam, 
Astaghfirullahal’adzim..
 
Wassalamu’alaikum
wr wb

tedi darussalam


________________________________

bagi yang lagi UAS, ayo segera belajar.., mudah-mudahan lancar dan sukses 


      

Kirim email ke