Mengeja Malam...

28 Jun 08 07:00 WIB

Oleh Dikdik Andhika Ramdhan

Jaraknya memang cukup jauh. Jika ditempuh dengan berjalan kaki mungkin bisa 
memakan waktu sekitar setengah jam perjalanan. Namun entahlah, aku memilih 
untuk lebih baik berjalan saja malam itu, tidak untuk menggunakan bis kota 
sepert biasanya. Melewati keramaian malam di tengah hiruk pikuknya suasana ibu 
kota.

Beberapa lampu jalanan meskipun remang namun masih setia mengarahkan langkah 
kaki ini, setidaknya untuk tidak dibuatnya aku terseok dalam memilah pijakan 
dimalam itu. Beberapa proyek penggalian jalan memang masih terlihat di sekitar 
pinggiran jalanan.

Merasakan langsung bagaimana suasana malam di jalanan ibu kota, tanpa kita 
berada dalam sebuah kendaraan memang sering membuatku merasa menghadirkan kesan 
tersendiri. Bagaimana tidak, hal ini memang bisa disebut sering aku lakukan. 
Ketika diri-diri ini merasa sulit untuk bisa mensyukuri semua nikmat dan 
karunia-Nya, dengan melakukan hal ini alhamdulillah sedikitnya bisa menjadikan 
diri untuk kembali biasanya menerima semuanya dengan penuh kesabaran dan 
kesyukuran.

Memang semestinya sebagai seorang muslim tentunya hal terbaik ketika kita 
mendapatkan kabar bahagia dari orang lain, kitapun ikut merasakan 
kebahagiaannya. Namun, dasar mungkin karena masih lemahnya iman ini kadang 
kondisi tersebut malah menyudutkan diri untuk kemudian melenakan hati dan 
terlupa mensyukuri atas segala apa yang telah aku dapati selama ini. Padahal 
dalam diri ini aku yakin, bahwa tak ingin sedikitpun aku untuk menjadi bagian 
dari orang-orang yang hanya mampu bersedih serta kecewa dalam kebahagiaan orang 
lain, ataupun justru bahagia dalam kesedihan orang lain, na'udzubillah...

Dan jika malam itu, aku memilih untuk merenungkan segalanya, bersama dengan 
langkah-langkah kecil kaki ini ternyata memang subhanalloh luar biasa.

Di sana, disepanjang perjalanan itu aku dapat melihat betapa sayangnya Alloh 
padaku, ketika mata ini menyaksikan tubuh-tubuh kaku yang terlelap dalam 
kedinginan malam tergeletak hanya di bawah sebuah jembatan penyeberangan saja, 
ketika mata ini menyaksikan seorang anak kecil masih harus berlari-lari sambil 
meneriakkan minuman dagangannya meloncat dari satu bis kota ke bis kota 
lainnya, ketika seorang kakek tua harus tergopoh-gopoh untuk berdiri dan 
mengulurkan sebuah topinya untuk hanya sekedar meminta belas kasihan dari 
mereka yang melewatinya, bahkan juga ketika aku harus menyadari ketika seorang 
ibu dengan berlinang air mata mencoba tetap tegar sambil menyapu jalanan ibu 
kota meskipun malam telah cukup larut daripadanya.

"Hhhh.............."
Meskinya tak ada lagi yang bisa meluluhkan hati ini, untuk bisa tetap bersyukur 
dalam kondisi apapun. Memang tak akan pernah bisa berhenti jika kita hanya 
menatap langit, kemudian mencoba meraihnya, dan ketika sampai di atas langit 
ternyata selalu saja ada langit selanjutnya.

Setiap orang memang telah memiliki jalannya masing-masing yang jauh-jauh hari 
telah Alloh tuliskan dalam Lauh Mahfuz-Nya. Sehingga tak heran semestinya 
ketika jalan kehidupan itu menghampiri masing-masing di antara kita dengan rupa 
cerita yang berbeda. Tinggal di mana posisi kita untuk bisa mentafakuri 
semuanya, untuk kemudian bersujud bersyukur atas segalanya.

Mungkin semestinya kita tuliskan dalam sebuah karton berukuran besar sebuah 
kalimah Alloh, "Lain syakartum la'azidannakum walain kafartum Inna adzabi 
syadiid." Barang siapa yang bersyukur maka Alloh akan menambahkan nikmat-Nya, 
namun barang siapa yang kufur maka sebaliknya, azab Alloh sangatlah pedih. Lalu 
kemudian karton itu kita tempel tepat dihadapan kita, atau mungkin tepat di 
sebelah tempat tidur kita, agar maknanya terus menerus terngiang dalam hati 
ini. Agar artinya terus-menerus terpatri dalam jiwa ini. Hingga tidak lagi 
terlupa dan tidak akan lagi pernah terlupa.

Untuk kemudian bayangku menerawang, mengingat kembali ayat-ayat Illahi yang 
kini seakan hadir dan menjelma dalam benak ini. "Fa bi ayyi alaa’irobbikumaa 
tukadzdzibaan...?", "Fa bi ayyi alaa’irobbikumaa tukadzdzibaan...?"

Berulang, dan terus berulang ayat-ayat itu hingga akhirnya ada tetes air mata 
diujung mata ini.

Yaa Rabb...
Ampuni kami yaa Rabb...
Betapa rapuh kami ini yaa Rabb, betapa lemah diri ini...
Untuk itu kami mohonkan padamu Rabb,
Jadikanlah diri ini untuk semakin dekat dengan-Mu, kuatkanlah iman didada ini, 
kokohkanlah keyakinan atas segala kuasa-Mu ya Rabb, jadikanlah kami 
hamba-hamba-Mu yang pandai untuk senantiasa mensyukuri segala nikmat dan 
karunia dari-Mu.

Andaikan mereka-mereka yang hanya tidur di bawah kolong jembatan, ataukah 
mereka-mereka yang setiap hari berjuang keras dihamparan jalanan ibu kota ini 
masih mampu tersenyum menatap hari esok. Mungkin saatnya diri inipun harus bisa 
lebih dari hanya tersenyum, namun juga percaya, bahwa rahmat dan kuasa-Nya akan 
selalu bersama mengiringi langkah-langkah kecil ini.

Wallahu'alam bish-shawab

dikutip dari www.eramuslim.com

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke