Menjalani Zaman Penuh Fitnah
29 Jun 08 15:32 WIB

Oleh Ihsan Tandjung

Zaman yang sedang kita jalani dewasa ini merupakan zaman sarat fitnah. Banyak 
pesan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam
mengenai fitnah di akhir zaman yang sangat cocok menggambarkan zaman
yang sedang kita lalui saat ini. Inilah zaman ketika giliran kemenangan
di dunia bukan berada di fihak ummat Islam. Ini merupakan zaman di mana
Allah subhaanahu wa ta’aala menguji orang-orang beriman.
Siapa di antara mereka yang mengekor kepada orang-orang kafir, siapa di
antara mereka yang emas imannya dan bahkan rela berjihad di jalan Allah
subhaanahu wa ta’aala hingga meraih kemuliaan mati syahid.
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ
قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya
kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan
masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia
(agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan
orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian
kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran 140)
Dalam ayat di atas Allah subhaanahu wa ta’aala menegaskan
bahwa adakalanya ummat Islam memperoleh kemenangan dalam medan
peperangan namun adakalanya kaum musyrikin-kuffar yang menang. Ini
merupakan perkara biasa dalam kehidupan di dunia yang fana. Dunia
merupakan tempat di mana segala keadaan berubah silih berganti, tidak
ada yang tetap dan langgeng. Kadang manusia menang, kadang kalah.
Kadang lapang, kadang sempit. Susah-senang, sehat-sakit, kaya-miskin,
terang-gelap, siang-malam, berjaya-terpuruk semuanya silih berganti dan
selalu bergiliran. Itulah dunia. Berbeda dengan di akhirat nanti.
Manusia hanya punya satu dari dua pilihan keadaan. Pertama, ia mungkin
hidup abadi dalam kesenangan hakiki di dalam surga Allah subhaanahu wa
ta’aala. Atau sebaliknya, hidup kekal dalam penderitaan sejati di
neraka Allah subhaanahu wa ta’aala.
Sedemikian kelamnya zaman yang sedang kita jalani dewasa ini
sehingga seorang Ulama Pakistan yang sempat tinggal lama di Amerika
menyebutnya sebagai A Godless Civilization (Peradaban Yang Tidak Bertuhan). 
Ahmad Thompson, seorang penulis muslim berkebangsaan Inggris menyebutnya 
sebagai Sistem Dajjal.
Ia mengatakan bahwa sejak runtuhnya Khilafah Islam terakhir -sekitar
80-an tahun yang lalu- dunia didominasi oleh fihak kuffar. Perjalanan
ummat manusia semakin menjauh dari nilai-nilai Kenabian, ajaran Islam.
Berbagai sisi kehidupan diarahkan oleh nilai-nilai kekufuran sehingga
kondisinya saat ini sudah sangat kondusif untuk kedatangan fitnah
paling dahsyat, yakni fitnah Dajjal.
Semenjak runtuhnya kekhalifahan terakhir, ummat Islam menjadi laksana anak-anak 
ayam kehilangan induk. Masing-masing
negeri kaum muslimin mendirikan karakter kebangsaannya sendiri-sendiri
seraya meninggalkan dan menanggalkan ikatan aqidah serta akhlak Islam
sebagai identitas utama bangsa. Akhirnya tidak terelakkan
bahwa ummat Islam yang jumlahnya di seantero dunia mencapai bilangan
satu setengah miliar lebih, tidak memiliki kewibawaan karena mereka
terpecah belah tidak bersatu sebagai suatu blok kekuataan yang tunggal
dan mandiri. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sudah mensinyalir bahwa 
akan muncul babak keempat perjalanan ummat Islam, yakni kepemimpinan para 
Mulkan Jabriyyan (Raja-raja yang memaksakan kehendak). Inilah babak yang sedang 
dilalui ummat dewasa ini.
Jangankan
kaum muslimin memimpin dunia, bahkan mereka menjadi ummat yang
diarahkan (baca: dieksploitasi) oleh ummat lainnya. Inilah babak paling
kelam dalam sejarah Islam. Allah subhaanahu wa ta’aala gilir kepemimpinan dunia 
dari kaum mu’minin kepada kaum kafirin. Inilah zaman kita sekarang. We are 
living in the darkest ages of the Islamic history.
Dunia menjadi morat-marit sarat fitnah. Nilai-nilai jahiliah modern
mendominasi kehidupan. Para penguasa mengatur masyarakat bukan dengan
bimbingan wahyu Ilahi, melainkan hawa nafsu pribadi dan kelompok. Pada
babak inilah tegaknya Sistem Dajjal. Berbagai lini kehidupan ummat
manusia diatur dengan Dajjalic values
(nilai-nilai Dajjal). Segenap urusan dunia dikelola dengan nilai-nilai
materialisme-liberalisme-sekularisme, baik politik, sosial, ekonomi,
budaya, medis, pertahanan-keamanan, militer bahkan keagamaan.
Masyarakat kian dijauhkan dari pola hidup berdasarkan manhaj Kenabian.
Dalam bidang politik ummat dipaksa
mengikuti budaya -tanpa rasa malu dan rasa takut kepada Allah
subhaanahu wa ta’aala- di mana seorang manusia menawarkan dirinya
menjadi pemimpin, bahkan dengan over-confident mengkampanyekan dirinya
agar dipilih masyarakat. Sambil menebar setumpuk janji kepada rakyat.
Padahal Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ
فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ أُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ
أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
”Hai Abdurrahman, janganlah kamu meminta pangkat kedudukan!
Apabila kamu diberi karena memintanya, maka hal itu akan menjadi suatu
beban berat bagimu. Lain halnya apabila kamu diberi tanpa adanya
permintaan darimu, maka kamu akan ditolong.” (HR Muslim 9/343)
Sementara itu di bidang ekonomi dan keuangan ummat dipaksa tunduk pada tiga 
pilar setan, yaitu Bunga Bank (baca: Riba), Uang Fiat (baca: uang kertas) dan 
Money Creation
yaitu sistem yang memberi kekuasaan pada bank untuk melakukan proses
penciptaan uang. Padahal Islam memiliki konsep yang sangat baku tentang
uang dan segala bentuk transaksi yang melibatkan uang. Bukan hanya
sebatas teori tetapi blue print keuangan Islam memang pernah diwujudkan
dalam bentuk nyata sejak masa awal ke-Khalifahan Islam dan terbukti
hasilnya berupa kemakmuran bagi seluruh rakyat. Itulah yang
diisyaratkan dalam Al-Qur’an sebagai dhzahab(emas) dan fidhdhoh(perak) dan 
secara empiris berupa dinar dan dirham. Suatu jenis mata uang yang memiliki 
intrinsic value serta aman dari inflasi.
Di bidang hukum ummat dipaksa tunduk pada
nilai-nilai legal dan illegal (baca: halal dan haram) berdasarkan hawa
nafsu para law-makers. Kita bisa menyaksikan suatu saat perilaku
homoseksual dan lesbianisme dicap illegal-haram namun pada lain waktu
dianggap legal-halal. Padahal Allah berfirman: ”Barangsiapa yang tidak berhukum 
menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang 
kafir.” (QS Al-Maidah 44). Bahkan sistem Dajjal mencap kebanyakan orang-orang 
beriman pejuang tegaknya agama Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai teroris. Dan 
menempatkan para kriminal pelanggar berat HAM sebagai pimpinan negara-negara 
maju.
Di bidang pertahanan keamanan ummat
dipaksa tunduk pada konsep ashobiyyah (fanatisme kelompok). Angkatan
militer berbagai negara dewasa ini dibentuk untuk mempertahankan spirit
right or wrong is my country. Barangkali
selain angkatan militer Hamas di Palestina, tak ada satupun kekuatan
hankam yang dibentuk dengan cita-cita menegakkan kalimat Allah atau
mati syahid. Kebanyakan prajurit militer modern menjadi budak jalur komandonya. 
Mereka tidak pernah dibina untuk menjadi hamba Allah sejati. Allah subhaanahu 
wa ta’aala berfirman: ”Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan
Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji
yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran” (QS At-Taubah 111)
Sedangkan seni dan budaya telah
menjadi industri syahwat. Sangat langka dijumpai produk di bidang ini
yang bila dinikmati membawa manusia menjadi lebih dekat dan mengingat
Allah Yang Maha Indah. Hampir semua film, tontonan, nyanyian, tarian
maupun novel menyeret manusia kepada pemuasan syahwat semata tanpa
pandang halal-haramnya.
Sungguh, nilai-nilai Dajjal (Dajjalic Values) telah mendominasi
segenap lini kehidupan ummat manusia dewasa ini. Sangat boleh jadi
kedatangan oknum Dajjal sudah sangat dekat. Sistem Dajjal
telah memperoleh kekuasaan yang cukup di seluruh dunia, sehingga begitu
si Dajjal dikenali dan diakui, Dajjal (makhluk bermata satu) bisa
langsung dinobatkan sebagai pimpinan yang dinanti-nanti sebagaimana
diisyaratkan dalam the great seal yang tergambar di lembar uang satu
dollar Amerika Serikat. Sekaranglah saatnya kita bersikap dan memilih.
Apakah kita mau mengikuti genderang tarian mengawetkan babak keempat
Sistem Dajjal ini? Ataukah kita secara aktif mempersiapkan diri
menyongsong babak kelima, yakni babak Khilafatun ‘ala Minhaj An-Nubuwwah
(kekhalifahan mengikuti pola Kenabian) sebagaimana disinyalir Nabi
Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bakal menjadi babak lanjutan
setelah babak penuh fitnah ini berlalu?

dikutip dari www.eramuslim.com


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke