DARI BLOG ADHITYA MULYA, BUAT YANG DI JAKARTA
SEMANGAT
 
Survivalitas
Monday, August 04, 2008
 



Jakarta adalah kota yang sangat kejam. Lebih kejam dari bayangan banyak orang. 
Sebenernya apa sih modal penting untuk bisa hidup di Jakarta? Gelar S2? Punya 
mobil? Buka usaha? Uang yang banyak? Koneksi dan pergaulan?

Jawabannya satu: Survivalitas.

Dalam hidup, gua sering berpapasan dengan orang tua yang berusaha keras 
membantu anaknya mencari pekerjaan. Bahwa justru anak yang dilarang pergi dari 
rumah setelah mereka nikah.
”Biar sama kami aja dulu sampe kalian bisa nabung dan mentas...”

Ada lagi gua denger cerita ada bapak yang menyekolahkan anaknya S2 di sebuah 
lembaga yang bergengsi. Ketika tahu bagaimana teman-teman anaknya itu, sang 
bapak berinisiatif membelikan jas, HP dan mobil untuk sang anak pakai. Bukan 
manja. Tapi karena ayahnya ingin anaknya bisa masuk pergaulan yang membuat 
dirinya sukses. Dari banyak orang tua itu, ada hal yang sama yang gua dengar 
keluar dari mulut mereka.
”Jaman kami dulu kerjaan gak terlalu susah. Sekarang susah cari kerjaan.”

Intinya semua orang tua ingin melihat dan membantu anaknya menjadi sukses dan 
mentas di Jakarta ini. Semua orang ingin survive dan semua orang ingin anaknya 
survive. Kenapa sih beberapa orang menemukan bahwa untuk survive di Jakarta 
khususnya dan di Indonesia umumnya susah? Ini jawabannya:

Indonesia adalah Negara di Asia Tenggara yang pendapatan perkapitanya sangat 
kecil. Setidaknya termasuk di bottom 3 atau bottom 2.

Tapi ironisnya,

Jakarta adalah kota termahal kedua setelah Singapura untuk biaya hidup. Dan 
termahal ke 43 sedunia. Melebihi Berlin dan Melrbourne (mercer survey). 
Bayangkan, orang Jakarta harus hidup dengan biaya kedua termahal setelah 
singapura tapi pendapatan perkapita kita sangat-sangat-sangat kecil 
dibandingkan Thailand, Malaysia atau Filipina sekali pun. Ini artinya seseorang 
kerja di Jakarta hampir tidak bisa nabung tapi jika orang yang sama memutuskan 
untuk minggat dari Indonesia dan memulai hidup di Manila atau Thailand, mereka 
bisa nabung – untuk gelar, profesi dan industri yang persis sama.

Dari sini timbul pertanyaan kenapa kenyataannya seperti itu?
- karena kita banyak korupsi. Dana pembangunan yang seharusnya dipakai untuk 
membuat transportasi lebih efisien, malah dikorupsi oleh 1 orang. Imbasnya, ada 
100 orang yang harus membayar ongkos transportasi lebih mahal. Ongkos transport 
lebih mahal membuat sebutir telur yang seharusnya bisa dibeli dengan harga 1100 
menjadi 1300.

- Karena kita banyak import untuk hal-hal yang menjadi basic. Ini membuat biaya 
hidup jadi mahal. Kedelai import dan beras import. Ketika rupiah melemah, harga 
tempe dan nasi di warteg mau gak mau naik.

Bayangin aja lu makan di warteg. Lu makan nasi dan tempe. Nasi dan tempe 
harganya jadi naik ketika rupiah melemah. Ini karena mereka import. Nasi dan 
tempe jadi tambah naik lagi ketika ongkos transportasi naik.

Yang sebenernya nasi dan tempe itu berharga 2000 perak, kita harus bayar 2700 
perak. Sayang kan 700 peraknya? Padahal di Thailand, mereka cukup pinter untuk 
ngakalin ini sehingga rakyat bisa nabungin 700 perak itu. Makanya untuk orang 
yang persis sama, mereka lebih kaya dan lebih mapan di negara lain ketimbang di 
Indonesia.

Yang ada, sebuah keluarga ayah ibunya bekerja siang malam hanya bisa untuk 
membiayai anak sekolah sampai mentas. Habis itu mereka melihat tabungan, 
kosong. Dan jadilah terbalik, setelah anaknya mentas, anak mereka harus balik 
menanggung orang tua. Ini membuat PR si anak jadi double. Satu dia harus 
support orang tuanya – balas budi. Satu dia harus nabung untuk anaknya sendiri. 
Makin lama makin parah.

Itu semua di atas adalah PR pemerintah. Kita gak bisa ngapa-ngapain kecuali 
doa. Kalo pun ada langkah kongkrit ya pindah ke negara lain dan menetap di sana 
sampai pensiun.

Apa yang kita bisa lakukan untuk ngakalin ini semua? Kita harus men-set up 
model finansial yang baik.

Model Finansial Keluarga
Ada beberapa jenis income berdasarkan caranya.
1. income aktif dari bekerja di sebuah perusahaan. Statusnya fixed.
2. income aktif dari wira usaha
3. income pasif dari asset intelektual
4. income pasif dari asset lunak/keras

Percaya atau nggak, gua bisa bilang bahwa satu keluarga dengan 2 tenaga kerja 
(ayah ibu) sebenernya bisa memiliki keempat jenis income itu di saat yang 
bersamaan.

1. income aktif dari bekerja di sebuah perusahaan. Statusnya fixed.
Ini adalah favorit semua orang. 4 dari 5 pasangan muda sekarang memiliki set up 
di mana suami dan istri kerja untuk perusahaan.
Semuanya mudah dengan kerja untuk perusahaan. Tapi apa masalahnya?
- Apa yang terjadi jika krismon datang lagi dan salah satu dipecat?
Jawabannya gampang, turunkan kualitas hidup.

- Apa yang terjadi jika keduanya dipecat?
Gak ada income lain. Ini sering terjadi di tahun 1998. Jaman kakak-kakak kita 
yang sekarang umurnya udah 35-40 tahun. Kita tanya sama mereka susah apa nggak 
hidup waktu itu.
Tapi ya semua ini probabilitasnya kecil.

Yang agak mengganggu gua adalah ada banyak sekali orang – terutama temen-temen 
cewek gua yang kerja karena gengsi. Kayaknya kalo gak kerja dipandang rendah 
sama temen-temen. Maluuuu banget kalo jadi ibu rumah tangga. Kalo gak pake 
powersuit dan bawa mobil bukan kerja namanya. Kayaknya gimana gitu kalo punya 
karir padahal kan inti hidup itu bukan karir tapi mencukupi keluarga di segala 
aspek. Lahir batin. 3 pertanyaan dalam kubur nanti tidak termasuk pertanyaan: 
“Apakah kamu kerja di HSBC di saat hidup?” Bukan juga “Apakah pernah expat?” 
Padahal penghasilan istri dari wira usaha jahit bisa aja malah jauh lebih gede 
dari penghasilan suami.

Dunia barat lah yang mengedepankan agar wanita dan pria harus sama-sama kerja. 
Padahal yang penting itu cukup lahir batin dan suami istri sama-sama memberikan 
kontribusi positif terhadap financial keluarga. Emansipasi wanita bukan berarti 
wanita harus ada di kantor seperti pria. Tapi seharusnya, sama-sama memiliki 
tanggung jawab dan kontribusi financial yang positif terhadap keluarga. Caranya 
gimana gak penting, yang penting halal.

Dan kalo mau lebih cuek lagi, biarin si suami yang buka usaha bengkel, si istri 
yang kerja. Terserah siapa yang mau ngantor dan siapa yang mau usaha. Yang 
penting keduanya produktif.

2. income aktif dari wira usaha
Model yang sangat baik adalah jika suami kerja, istri kerja tapi mereka juga 
punya bisnis sampingan yang bener-bener jalan. Tapi jarang ada yang bisa 
bertahan seperti ini.

Model yang gak kalah baiknya adalah salah satu kerja dan satunya lagi buka 
usaha. Income dari wira usaha ini penting agar kalo sampe yang kerja di PHK 
atau misalnya si suami jatuh sakit. Keluarga masih ada income yang 
berkesinambungan. Ingat bahwa rata-rata suami di dunia ini meninggal lebih 
cepat 6 tahun dari istri. Jadi kalo istri gak kerja atau gak wira usaha sama 
sekali, 6 tahun itu akan sangat sulit.

3. income pasif dari asset intelektual
Aset intelektual adalah aset yang lu hasilkan dari otak lu, dipatenkan dan lu 
mendapatkan royalti dari asset itu.

Di amerika sih, kalo lu bisa bikin tools, dipatenkan dan laku, lu bisa pensiun 
kaya dari royalti paten itu. Seperti penemu post it notes dan lainnya.

Di Indonesia yang namanya paten masih gak dihargai – apalagi dengan pembajakan 
menjamur ya. Sejauh ini yang gua tau, orang-orang mendapatkan royalti dari 
karya adalah:

- Buku dan penulisnya. Buku itu punya yang namanya nafas buku. Di Indonesia 
yang minat baca masih rendah, royalti buku biasanya berhenti mengalir di tahun 
ketiga kalo bukunya gak laku-laku amat. Royalti buku itu turun tiap 6 bulan 
sekali. Jadi kebayang udah nunggu 6 bulan dan karena gak laku, dapetnya cuman 
100 ribu.
Pertanyaan: Jadi gimana caranya punya penghasilan yang berkesinambungan dari 
buku?
Jawab: Nulis banyak buku dan usahakan bukunya laku.
Kalo kita pinter ngatur timingnya, dengan menerbitkan 6 buku di bulan yang 
berbeda dapat memberikan kita pendapatan royalti perbulan. Ngerti kan maksudnya?

Ada penulis yang udah punya banyak buku dan dia berani beli rumah kecil 
(cicilan perbulannya kecil). Ini dia yang oke banget. Emang rumah kecil, tapi 
beli men. Beli.

- Penyanyi. Income yang berhubungan dengan royalty adalah:
Penjualan album. Tapi kasiannya, di Indonesia ini ada statistik yang 
menunjukkan bahwa untuk 1 kopi asli terjual, ada 14 pembeli memilih beli versi 
bajakannya. Jadi pendapatan dia itu turun 93% karena pembajakan. Untungnya dari 
bonus produser dan lainnya mereka masih dapet milyaran. Hyuukk. Terkadang gua 
mikir, ngapain gua sekolah jungkir balik masuk itb kalo modal suara bagus aja 
bisa beli rumah di PI?

Soundtrack Sinetron. Katakanlah lu penyanyi dan lagu lu dipakai sebagai opening 
titlenya sinetron. Biasanya PH itu ngasih lu royalty per episode. Rangingnya 
dari 5-10 jutaan. Nah kebayangkan rosa dapet berapa tuh dari stripping sinetron 
cinta Fitri yang episodenya udah 150?

4. income pasif dari asset lunak/keras
Saham, reksadana, emas, tanah, property.
Saham, reksadana, emas, tanah, semua ini memberikan kita income dalam bentuk 
paper value. Yang kalo belum kita cairkan kita gak akan ngerasa manisnya.

Property bisa memberikan kita income pasif yang lumayan dalam bentuk kontrakan. 
Dan gak perlu yang fancy dan mahal seperti beli apartemen dan ngontrakin. 
Sebagai perbandingan:
Beli apartemen 1 unit harganya 1 M dan disewain 10 juta sebulan. Sama aja 
dengan bikin kos-kosan sederhana 700 juta 10 kamar dengan harga 1 juta sebulan. 
Chances are bikin kos-kosan harganya lebih murah.
Cuman aja bikin kos-kosan butuh pinjaman bank, sedangkan beli unit untuk 
dikontrakin balik bisa cicil ke bank dalam bentuk KPR.

Nah sekarang kita udah liat nih. Semakin banyak jenis income yang kita kuasain, 
semakin mampu kita menahan resiko krismon. Kalo suami di-PHK, bisnis makanan 
istri masih jalan. Si suami sekalian aja jadi salesnya. Tangan si istri 
kepotong mesin obras, masih ada uang dari kontrakan sebelah. Orang kontrakan 
ketiban rejeki 1 milyar dan minggat, yah masih ada royalti buat bayar SPP anak.

Kita bisa bayangin kalo kita cuman punya 1 model income dan hanya 1 orang yang 
berpenghasilan.

Hal terakhir tentang survivalitas
Kita udah bahas apa, kenapa dan model-model finalsial seperti apa yang kita 
dapat pakai untuk survive di Jakarta. Ada satu hal terakhir yang menjadi kunci, 
yaitu:

Sekarang kita udah punya penghasilan dari keempat jenis incomenya dan 
penghasilan gabungan dari semuanya adalah X. Nasehat gua adalah kalo income 
kita X, jangan sampe biaya gaya hidup kita 0.8X. kalo bisa 0.5X. 0.5X lagi 
disimpan untuk hari tua. Jadilah orang yang sederhana tapi gak kikir. Jangan 
juga sampe terlalu banyak nabung tapi hidup jadi gak hepi dan yang ada di otak 
hanya duit duit dan duit.

Juga jangan sampai saking awarenya terhadap uang sampai-sampai selalu merasa 
miskin dan gak nolongin orang. Dari jaman kuliah gua banyak nawarin orang 
ikutan anak asuh dan mereka mendadak miskin. Jujur gua sedih ngedengernya. 
Ingat, sederhana bukan berarti miskin. Sesial-sialnya kita, kita gak lahir di 
Somalia. Sesial-sialnya kita, kita gak buta. Sesial-sialnya kita, setidaknya 
bisa lulus sampe sarjana. Jadi jangan pernah merasa miskin atau sial karena 
masih banyak yang lebih parah dari kita.

Hidup yang terbaik itu bukan hidup bergemilang harta karena harta itu gak 
dibawa mati. Hidup yang terbaik adalah hidup yang terplanning, cukup untuk 
menahan bantingan krismon dan merasa hepi dengan kecukupan itu.

Intinya, hidup yang terplanning, imbang, beralasan dan hepi.

Selamat mencoba.


Labels: finance

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke