Semakin cerdas kita memanaje prioritas, semakin dekat kita pada tujuan
yang diharapkan

Seringkali kita (atau saya aja ya?) merasa
pusing, ketika  banyak pilihan kegiatan
yang ingin atau harus di lakukan, atau malah pusing karena sama sekali tidak
ada kegiatan? Bagi orang yang belum memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya,
maka semua kegiatan menarik untuk di lakukan, seperti nahkoda tanpa kompas dan
tujuan, semua penjuru mata angin menjadi layak di sambangi. Ada ini, ingin 
ikut, ada ajakan ke sana juga ikut,dst. Tapi tentunya kita
bukan seperti itu kan, kita pastinya orang – orang yang sudah memiliki tujuan
yang jelas, baik tujuan global, yaitu mengapa kita di ciptakan, tak lain untuk
beribadah dan menjadi khalifah. Maupun tujuan spesifik dalam peran hidup kita
masing-masing. Tapi rupanya, memiliki tujuan saja belum cukup, apalagi bila
tujuan itu tak erat – erat di pegang dalam pikiran, dan tindakan. Ada satu
variable lagi yang harus menemani kita dalam proses perwujudan tujuan tersebut,
yaitu manajemen prioritas.
 
Manajemen prioritas, yang dalam bahasa
arab di sebut fiqih aulawiyat, berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya,
tidak mengakhirkan yang seharusnya di dahulukan, membesarkan yang sebetulnya
kecil, dan seterusnya, sesuai dengan prioritasnya. 
 
Mengapa mesti di manaje sesuai prioritas
nya sih ?
Pertama, ya untuk keberhasilan kita
sendiri. Orang yang melakukan segala sesuatu seenaknya, tentunya tak akan
seberhasil orang yang mengatur aktivitasnya sesuai dengan urutannya. Karena
manajemen prioritas ini, erat sekali hubungannya dengan keseimbangan hidup, dan
keseimbangan hidup merupakan salah satu unsur pembangun kebahagiaan.
 
Kedua,  karena waktu yang tersedia lebih sedikit dari tugas yang seharusnya kita
kerjakan. Pastinya kita hidup tidak berperan tunggal, kita sebagai anak, anggota
keluarga, anggota masyarakat, hamba Allah, karyawan, mahasiswa, pengusaha, dst,
setiap peran tentunya ingin bertumbuh dan menjadi baik. Dan itu akan
terbantu dengan manajemen prioritas.. Kalau kita ingin menjadi pribadi yang 
bermanfaat,
tentunya kita perlu memiliki kapasitas plus energi yang cukup. Karena orang
yang tak memiliki sesuatu tak bisa memberi sesuatu, dan yang memiliki
sesuatupun, bahkan berlimpah sekalipun, belum tentu mampu memberi, bila
kekurangan energi untuk memberi. Keduanya, baik kapasitas dan energi mesti di
bangun dengan sebaik- baiknya, dan keduanya memerlukan waktu.
 
Ketiga, karena Allah swt melalui
aturanNya, telah mengajarkan hal ini. Kalau Allah swt mengajarkan sesuatu, di
jamin itu untuk kebaikan dan keberhasilan kita semua. Ada amal yang lebih utama 
dari yang lainnya, ada waktu dan tempat yang lebih utama dari yang lainnya, 
dst. Misalnya waktu dan tempat
mustajab (peluang dikabulkannya sangat besar) dalam berdo’a. Seperti antara
adzan dan iqamat, berarti prioritas amal waktu itu adalah berdo’a dari pada
membaca shalawat atau tilawah. Juga Allah swt menggambarkan dalam Al-Qur’an
salah satu karakter orang yang menempati taman surga plus mata air nya, ialah
orang yang banyak istighfar di waktu sahur, 
 
“Sesungguhnya
orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata
air-mata air,  sambil mengambil apa yang
diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di
dunia adalah orang-orang yang berbuat baik;  Mereka sedikit sekali tidur di 
waktu malam. Dan di waktu sahur mereka
memohon ampun (kepada Allah)” (QS 51:15-18)
 
Jadi prioritas waktu sahur bukan sms an,
mumpung gratisan, atau cengengesan yang berlebihan karena nonton olga dan
kawan2 . (itu juga kalau kita
pengen bermain air di taman surga lho)
 
Kalau demikian pentingnya, so what ? 
Ya.... berarti kita berusaha untuk berhias
diri dengannya. Menjadikannya sebagai kebiasaan dalam keseharian kita. Memang
prioritas setiap kita berbeda-beda. Bagi yang terlilit hutang, prioritasnya
berusaha untuk melunasinya, bagi yang mau menghadapi ujian, prioritasnya
belajar, bagi yang sedang konflik, prioritasnya mencari solusi, dan seterusnya. 
Tapi
sebatas memperkaya referensi dan mengingatkan lagi, hal – hal berikut bisa jadi 
acuan : 
 
        * Lebih mendahulukan yang mendekati tujuan dari pada yang tidak 
(tentunya sudah jelas dulu tujuan kita apa ?)
        * Mendahulukan tugas atau acara penting , yang belum ada penanggung 
jawabnya dari pada yang sudah ada penanggung jawabnya. Misalkan menghadiri 
acara yang tanpa kita, acara tersebut tidak bisa berjalan optimal, dan 
mengcancel acara, yang ada dan tidak adanya kita, masih bisa berjalan optimal.
        * Lebih mendahulukan kualitas dari pada kuantitas, bagusnya memang 
keduanya dapat, tapi kalau mesti memilih, tak apa lah, mengalahkan sedikit 
kuantitas demi kualitas yang terjaga. Contoh khatam Al-Qur’an di bulan 
ramadhan, targetnya di turunkan jadi 1 kali saja, tapi di sertai khatam membaca 
arti bahasa indonesia nya juga.
        * Mendahulukan yang sudah di sepakati/jelas dari pada yang masih di 
perselisihkan/ragu, sebagimana Rasulullah saw bersabda “Tinggalkan perkara yang 
meragukanmu menuju kepada
perkara yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah ketenangan di hati
sedangkan kedustaan itu adalah keraguan.” 
        * Mendahulukan yang penting dan mendesak dari yang penting namun masih 
bisa di tunda
        * Mendahulukan menghindari dan menghilangkan bahaya daripada mendapat 
manfaat 
        * Mendahulukan yang manfaatnya lebih banyak dari pada yang sedikit, 
atau yang menyangkut hajat hidup orang banyak
        * Mendahulukan menghilangkan yang bahayanya lebih besar dari pada yang 
bahayanya lebih kecil
        * Mendahulukan pemahaman dari pada perbuatan, 
        * Mendahulukan yang wajib dari pada yang sunnah, atau yang pokok dari 
pada yang cabang. Contohnya, kalau shalat taraweh dengan perbedaan bilangannya 
itu sunah apa wajib ? atau membaca doa qunut pada shalat subuh itu sunah atau 
wajib? Keduanya sunah kan. Tapi menjaga persaudaaraan? tentunya wajib. Jadi 
jangan sampai melindungi yang sunah, tapi menghancurkan yang wajib.
        * Mendahulukan yang sunah lebih penting dari pada yang sunah lebih 
rendah, contoh sunah berbuka puasa di awal waktu di dahulukan dari pada sunah 
shalat magrib di awal waktu. 
        * Mendahulukan yang global dari parsial, primer dari sekunder, 
substansi dari istilah, dst..
 
Oh. ya.., 1 lagi, dalam menebar
kemanfaatan, ada lingkaran – lingkaran nya. Yaitu di mulai dari keluarga
terdekat, kemudian kerabat, tetangga dekat, tetangga jauh, dst, jangan sampai
kita terasa sekali manfaatnya oleh orang lain, tapi keluarga sendiri
terbengkalai. 
Sebagaimana Rasulullah SAW, bersabda:
“Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan
untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan
satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar
pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim).
 
Semoga kita senantiasa di bimbing oleh
Allah swt agar senantiasa bisa memanaje aktivitas sesuai prioritasnya. amiin
 
 
Wollhu’alam. 
- mohon maaf & smoga bermanfaat-


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke