“Pesankan Saya, Tempat di Neraka!!”

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya 
tiap orang mengetahui akhir hidupnya…. Seandainya tiap orang menyadari hidupnya 
bisa berakhir setiap saat… Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya 
dalam keadaan yang buruk… Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…

______________________



Ditulis oleh:  raihan ja’far [EMAIL PROTECTED]


Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar 
mengisahkannya…Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi 
muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak 
lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan 
menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai 
multi fungsi. Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, 


Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian 
kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang 
kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara 
pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai 
keprihatinan sosial. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk 
disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu 
yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan 
agama dan norma kesopanan. Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? 
Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena 
merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif 
seseorang. “Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, 
tempat di neraka Tuhan Anda!! Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak 
pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan
 kalimat-kalimat Allah. Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa 
orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan 
muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir 
mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka 
terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada 
didekat pintu keluar. “Bangunkan saja!” begitu kira-kira permintaan para 
penumpang. Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak 
bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus 
beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua 
yang duduk disampingnya. 


Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya 
tiap orang mengetahui akhir hidupnya…. Seandainya tiap orang menyadari hidupnya 
bisa berakhir setiap saat… Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya 
dalam keadaan yang buruk… Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah… 
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan 
semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat. Dan mereka 
yang terlena seharusnya segera sadar…mumpung kesempatan itu masih ada. 


Ya mumpung pada kali ini kita masih diberi kesempatan untuk berada di 
penghujung bulan suci Ramadhan, mari kita manfaatkan untuk lebih mensucikan 
diri kita dengan bertobat, kembali kepada yang kuasa, mengaku dan mengadu, dan 
bersimpuh memohon ampun, dan berdoa agar Ia memberikan taufikNya kepada kita 
untuk tidak kembali berbuat sesuatu yang tidak disenangiNya, Rasulullah 
bersabda: jika kita tidak diampuni pada bulan ini(bulan suci Ramadhan) maka 
pada bulan mana lagi kita mengharap ampunannya.




      

Kirim email ke