Judul : /"Siit uncuwing"/
karya : Rieke Diah Pitaloka
Sumber : http://riekepitaloka.blogdetik.com/2008/06/30/siit-uncuwing/


Setiap pagi bila langit sedang bahagia, /kalangkang/ gunung menyerung 
kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. 
Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk 
ngarai ditutup rimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis
 menari.

Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan. Bekelip 
menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada 
jembatan di atasnya. Jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan
 jalan.

Jalan itu dulu setiap hari dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka 
berangkat sekolah berjalan kaki. Dua setengah kilometer jauhnya dari 
rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi 
mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun 
basahi sepatu sekolah.

Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Di bawah, air 
mengalir tenang meski dicumbu fajar. Gairah sungai hanya tersirat dari 
kilauan berlian diriak air di antara bebatuan. Sungai itu memang selalu
 
mengalun pelahan. Tapi orang-orang di kota kecil itu tahu, sungai itu 
bisa juga mendidih. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sebab air tanpa 
beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Menyapu apa saja yang 
dilalui. Dan itu bisa terjadi meski siang terik. Kalau sudah begitu 
orang-orang di tepi sungai, orang-orang di atas jembatan berseru,
 “/caah 
caah caah/!”

***

September.

Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Pada bulan yang sama, tiap 
tahun, langit kadang biru, kadang kelabu. Hujan malas berkunjung.
 Paling 
seminggu sekali. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air.
 
Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri sungai itu. 
Bertahun-tahun selalu begitu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi 
melintas di jembatan yang sama. Tak ada yang beda.

Rumah kedua gadis itu yang berubah. Ada resah menggayut di tiap hati 
penghuninya. Tak ada lagi berita dari Nining. Surat terakhir dikirim 
empat bulan lalu. Ada foto dirinya, lebih kurus dibanding saat 
tinggalkan rumah. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di 
wajah. Namun ia tetap berusaha tersenyum.

Kepergian Nining memang merubah banyak hal. Rumah tak lagi setengah 
bilik, semua diganti tembok. Cat tak lagi kusam. Lantai semen sudah 
ditambal keramik. Seng yang dulu berisik dan bocor kala hujan, diganti 
genting Jatiwangi. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Akarnya setahun lalu
 
dicabut diganti pondasi beton. Dahan dan batangnya dari besi tempa. 
Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Tapi lagi-lagi 
terbuat dari besi tempa, meski warnanya juga hijau.

***

Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining 
tinggalkan rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Sudah 
seminggu tak mampu bangun. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu.
 
Saat itu takut hantui seisi rumah, apalagi waktu seekor burung berkicau
 
dari pucuk daun kersen di halaman depan. Orang-orang menyebutnya /siit 
uncuwing/.

Suara /siit uncuwing/ terus menggigit hati siapa saja yang mendengar.

Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin.

Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu.

/Siit uncuwing/ pembawa kabar duka, begitu kepercayaan enin. Maka 
perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi.

“/Sieuh/, /sieuh/, /halig siah/, pergi sana, pergi!”

Kali ini enin melempari dengan kerikil.

“Belum waktunya anakku kau jemput. /Sieuh/, /sieuh/, /ka sabrang/ /ka 
Palembang/! /Saguru saelmu teu meunang ganggu/!”

Tetap saja burung itu tak mau pergi. Malah tampak riang. Lompat dari 
satu dahan ke dahan lain.

“Arum, Nining! Bantu Enin. Naik sana ke pohon kersen!” perintah ambu
 panik.

/Siit uncuwing/ kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambar tubuh 
mungilnya. Ia terbang menuju lembayung.

***

Entah kebetulan atau bukan, esoknya abah mulai bisa duduk. Enin peluk 
buah hatinya dengan haru.

“Komar, cepat sehat, Komar.”

Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. 
Ada seurai doa di sudut bibir ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum
 
dan Nining.

Tiga hari kemudian /siit uncuwing/ datang lagi. Mula-mula hinggap di 
pohon arumanis tetangga sebelah. Waktu melihat ambu dengan sapu
 lidinya, 
/siit uncuwing/ menikam rumpun bambu di ujung jalan. Lalu sorenya /siit
 
uncuwing/ kembali. Tak menapak di manapun. Berputar-putar mengelilingi 
atap rumah. Menjerit memanggil kematian. Lepas magrib burung itu
 menjauh 
dengan senyap. Tapi tangis ledakkan rumah. Sebab /siit uncuwing/ pergi 
sambil membawa abah.

***

Enin dan ambu berhari-hari, bahkan hingga tahlil seribu hari, tetap 
salahkan /siit uncuwing/ atas duka yang menancap di hati mereka.

Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. 
Terutama Nining. Baginya penyebab kematian abah bukan gara-gara /siit 
uncuwing/, tapi karena sakit. Sakit, tapi tak diobati. Tak diobati 
karena mereka tak ada uang buat berobat, walau sekadar untuk membayar 
Mantri Abas. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Tapi sekadar 
sukarela pun mereka tak sanggup.

Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada enin dan ambu. Ia hanya 
katakan pada Arum. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan
 rumah.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.”

Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti.

Arum percaya Nining. Tapi enin tidak sepakat, terlebih ambu.

“Jangan pergi, /anaking/. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? 
Kalau pun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“/Geulis/,” enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “ biar 
susah lebih enak di kampung /sorangan/. /Geulis/, /incu/ enin, cari 
kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di 
Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan 
Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijasah SMP dan raport sampai kelas satu SMA, 
tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan 
sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan enin dan ambu. Bahkan ambu rela 
menjual sawah peninggalan abah untuk membayar penyalur dan surat-surat 
keberangkatan, sekaligus ongkos ke Bandung.

***

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan
 pada 
agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang.
 
Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak 
sawah. Pengganti sawah abah, katanya. Tiga bulan kemudian berangkat
 lagi 
setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping rumah.

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?”

“Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, 
pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.”

Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi
 lagi-lagi 
tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu 
pula dengan kiriman uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang 
tak dikirim. Yang lebih mencemaskan tak ada kabar berita darinya.

***

Awal Mei.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa 
didengar enin dan ambu.

“Arum, bilang sama enin dan ambu, insya Allah September teteh pulang. 
Teteh maunya bisa /munggah/ sama-sama. Teteh mau Lebaran di rumah.
 Teteh 
kangen sama kalian bertiga. Doakan teteh supaya bisa pulang.”

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab 
dibaca berulang-ulang, sampai Arum hapal isinya.

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi 
tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas 
sekalipun. Arum sudah mencoba hubungi agen yang berangkatkan Nining. 
Petugas yang menemui hanya menjawab, “nanti akan kami beri tahu, kalau 
sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!”

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak
 pernah 
berbalas. Tak ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk 
kepala. Cemas menjadi bola besar, menggerus perasaan. Apalagi sejak dua
 
hari terakhir Ramadhan /siit uncuwing/ kembali menjejak pucuk kersen di
 
halaman depan.

“Awas, /indit/, /ka ditu/, /ka ditu/, /sieuh/, /sieuh/!”

Ambu tergopoh, enin menyusul di belakangnya.

“/Ka sabrang/ /ka Palembang/, /sieuh/, /sieuh/!” teriak keduanya
 bersahutan.

“/Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu/!”

Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah 
ambu. Ketika /siit uncuwing/ terbang, Arum setengah melompat turun dari
 
pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu.
 Arum 
mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh tinggalkan rumah. 
Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil
 
itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan 
setapak dipinggir jembatan. Menuju sungai.

Ya, /siit uncuwing/ menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di 
tengah sungai.

Arum mengendap.

Tinggal sejengkal dari /siit uncuwing/ ketika orang-orang di atas 
jembatan berteriak, “/caah/!” /Caah/!/Caah/!”

Arum lompat berusaha menangkap /siit uncuwing/. Namun badannya limbung.
 
Semua buram. Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat
 
sayup seiris suara memberi kekuatan, “Arum, /ka dieu/, ulurkan
 tanganmu.”

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat
 tenaga 
Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai.

“/Hayu/ pulang, /geulis/.”

Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan 
Nining, Dan semua jadi gelap.

***

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining
 
yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. 
Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada enin dan ambu yang sedang
 menangis.

Arum lari ke luar.

Di langit ada bulan sepotong.

Di langit ada tiga belas /siit uncuwing/ tanpa suara membawa bingkisan 
dari negri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan
 dengan 
bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha 
tersenyum.

Di surau-surau takbir pertama berkumandang…

Depok, 160907

/enin/ : nenek

/ambu/ : ibu

/abah /: abah

/teteh/ : kakak perempuan

/kalangkang/ : bayangan

/anaking /: anakku

/incu /: cucu

/sorangan /: sendiri

/munggah/ : menyambut hari pertama puasa Ramadhan

/indit /: pergi

/ka ditu /: ke sana

/ka dieu/ : ke sini

/sieuh/ : ujaran untuk mengusir/ ka sabrang ka Palembang/, /saguru 
saelmu teu meunang ganggu/: ke seberang ke Palembang, satu guru satu 
ilmu tidak boleh ganggu (mantra pengusir roh jahat dan hal-hal buruk)


       
---------------------------------
  New Email names for you!  
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Kirim email ke