Salah Kaprah…

            


                                      Published by hidayat nurwahid at 10:16 
under Rehat
  


                              


                              


              Umat
Islam Indonesia adalah umat yang suka bersilaturahmi. Saling
berkunjung, saling menyapa dan saling berkomunikasi. Tetapi, mengapa
tetap saja selalu menghadirkan kebencian, kedengkian dan konflik,
padahal silaturahmi terus dijalin banyak pihak?
Kalau boleh dikatakan penyakit, penyakit itu adalah seringkali kita
keliru menggunakan istilah kata. kita keliru menggunakan istilah
silaturahmi. Padahal, yang betul adalah silaturahim.
Lantas, apa bedanya silaturahmi dengan silaturahim ?padahal susunan
hurufnya sama saja. Ya, memang perbedaannnya ada pada akhiran yang ada
pada huruf mim.
Pada dasarnya silaturahmi berasal dari dua kata, “silah” dan
“rahmi”. Silah artinya menyambungkan. Sedang rahmi artinya rasa nyeri
yang diderita para ibu ketika melahirkan. Hal ini tentu sangat berbeda
rahim yakni menyambung rasa kasih sayang dan pengertian.
Itu sebabnya kebencian, kedengkian dan konflik masih saja ada meski
silaturahmi terus terjalin. Sebab, yang kita sambung adalah rasa nyeri
para ibu kita ketika melahirkan tadi.
Ungkapan lain yang seringkali kita gunakan, dan ternyata salah
adalah membatalkan puasa. Seringkali pada saat-saat menjelang maghrib
dan akhirnya adzan berkumandang, pada saat yang sama kita sedang sibuk
mengerjakan sesuatu yang harus selasai. Pada saat itulah salah seorang
dari kita: mari kita batalkan puasa kita, ayo batalkan puasanya dulu.
Padahal, kalau ungkapan itu benar-benar diniatkan untuk membatalkan
puasa, maka batal benar puasa kita. Batal dalam perspektif tidak ada
ganjaran pahala sama sekali terhadap puasa kita itu. Padahal, kita
telah menahan lapar, haus serta hal-hal yang membatalkan puasa. Lalu
tiba-tiba ibadah kita itu batal hanya karena niat mem-”batal”-kan puasa
kita.
Sebagai ummat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam,
sudah sepantasnya kita mencontoh beliau. Sebagaimana yang diungkapkan
dalam sebuah hadist, istilah berbuka puasa yang tepat adalah
mempercepat buka puasa serta mengakhirkan sahur dan bukan membatalkan
puasa. Mempercepat dalam artian segera berbuka puasa jika sudah
waktunya berbuka, bukan menyegerakan untuk berbuka belum pada waktunya
berbuka.
Demikan, semoga sedikit tulisan ini benar-benar merupakan harapan
kita untuk perbaikan untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga tidak ada
yang salah kaprah lagi tentang kosakata yang menghadirkan
ketidaknyamanan dalam keseharian kita. Apalagi jika berkaitan dengan
ibadah.
Wassalam.


              

                        


            


              

            


                  


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke