The Death of Capitalism
Selasa, 07 Okt 2008 16:14
Pada
saat umat Islam seluruh dunia mengumandangkan takbir, tahlil, dan
tahmid, menyambut datangnya Idul Fitri, dan hari kemenangan dengan
penuh kegembiraan, di Gedung Putih, Presiden George W. Bush, sibuk dan
bingung menyelamatkan ekonomi Amerika. Bahkan, sebuah media terkemuka,
mengutip seorang ahli ekonomi, yang menganilisis krisis keuangan di
Amerika, menyimpulkan bahwa Amerika sebagai adidaya akan punah. Krisis
ekonomi yang disebabkan ambruknya lembaga keuangan di Amerika,
dikawatirkan menuju kearah depresi ekonomi seperti yang terjadi di
tahun l930.
Presiden George W. Bush sempat frustasi ketika mengajukan usulan
mengeluarkan dana talangan (bailout) sebesar 700 milyar dolar di tolak
oleh Kongres (DPR). Penolakan Kongres sempat menyebabkan harga indek
Dow Jones Industrial Average di New York (DJIA), anjlok tajam, mencapai
778 point. Dan, menyebabkan runtuhnya berbagai lembaga keuangan di
banyak Negara. Meskipun, melalui lobby yang intensif dengan Ketua
Kongres, Nancy Peloci, akhirnya Kongres menyetujui usulan Presiden
George Bush, mengeluarkan dana talangan sebesar 700 milyar dolar. Yang
menarik, justru kalangan Demokrat, memelopori tercapainya dukungan
Kongres, dari Republik dan Demokrat (bipartisan), atas kebijakan
Presiden George Bush, yang ingin menyelamatkan ekonomi Amerika. Tak
kurang-kurang Presiden Bush, menyatakan: “Krisis ekonomi dampaknya
dapat mengancam seluruh rakyat Amerika ”, tegasnya. Menurut pengamat
ekonomi dari CSIS, Hadi Susastro, dana talangan 700 milyar dolar, belum
akan menyelesaikan akar masalah.
Situasi krisis ekonomi di Amerika, akibat ambruknya lembaga-lembaga
keuangan di negeri Paman Sam. Warren Buffet, seorang investor, di
Amerika, menggambarkan kondisi ekonomi di negerinya itu, seperti ketika
Jepang menyerang ‘Pearl Harbour’, yang hancur lebur. Istilah ekonomi
‘Pearl Harbour’ itu, menggambarkan, bagaimana hebatnya akibat krisis
ekonomi di Amerika sekarang ini. Seorang peraih hadiah Nobel Ekonomi
tahun 2001, Joseph Stiglitz menyatakan, ia tidak kawatir dengan
kerugian di Wall Street (investor dan korporasi), tapi yang ia
kawatirkan, di mana lembaga keuangan menghentikan meminjamkan uang ke
sektor riil. Akibatnya, jika hal itu terjadi, akan berhenti produksi
dan pekerja. Dan, keadaannya akan lebih buruk dari resesi, ujar
Stiglitz.
Krisis keuangan di Amerika menjadi perhatian seluruh dunia. Termasuk
dua kandidat calon presiden, Mc. Cain (Republik) dan Barack Obama
(Demokrat). Krisis keuangan ini juga menjadi tema kampanye kedua
kandidat. Dalam debat antara Mc.Cain dan Obama, krisis keuangan di
Amerika, mendapat perhatian utama mereka. Mc. Cain dan Obama, keduanya
menyetujui kebijakan yang diambil Presiden George Bush, yang
mengeluarkan dana talangan 700 milyar dolar. Tujuannya untuk
menyelamatkan lembaga-lembaga keuangan di Amerika, yang menjadi sumber
kehidupan ekonomi kaum Yahudi.
Sejak 2002, sudah lebih 45, bank di Amerika, yang bangkrut, dan
ditutup. Puncaknya lembaga keuangan terbesar keempat di Amerika, Lehman
Brothers, yang menghadapi kesulitan likuiditas, yang akhirnya bangkrut,
dan ditutup. Karena pemerintah Amerika, melalui Bank Sentralnya (The
Fed) menolak membantu mengeluarkan dana talangan, guna menyelamatkan
lembaga keuangan itu. Karena, Lehman Brothers, banyak membantu dana
kampanye Obama (Demokrat). Lehman Brothers adalah usaha dagang yang
mula-mula didirikan oleh keluarga keturunan Yahudi Jerman, yang
berimigrasi ke Amerika, dan menetap di Alabama. Tiga bersaudara
berdarah Yahudi, yang mula-mula mendirikan perusahaan dagang, kemudian
berubah menjadi lembaga financial, yang dikenal dengan ‘Lehman
Brothers’.
Sesungguhnya, yang terjadi sekarang di Amerika, adalah hancurnya
sistem keuangan riba, yang menjadi sumber kehidupan kaum Yahudi.
Ekonomi kapitalisme adalah ekonomi riba, yang menjadikan uang, bukan
lagi sebagai alat tukar, tapi sudah diperdagangkan. Ekonomi kapitalisme
dengan bertumpu pada riba ini, menjadi sangat rakus, dan menghancurkan.
Menurut Faisal Basri, kapitalisme mutakhir yang digerakkan sektor
keuangann (financially-driven) tumbuh pesat sangat luar biasa, sejak
awal dasa warsa 1980an. Transaksi di sektor keuangan tumbuh meroket
ratusan kali lipat, dibandingkan dengan nilai perdagangan dunia. Di
negara-negara maju, lalu lintas modal bebas bergerak. Praktis tanpa
pembatasan. Sementara, semakin banyak negara-negara berkembang yang
mengikuti. Uang dan instrument keuangan lainnya tak sekedar sebagai
penopang sektor produksi riil, melainkan telah menjelma sebagai
komoditas perdagangan, diternakkan beranak-pinak, berlipat ganda dalam
waktu singkat. Produk-produk keuangan dengan berbagai macam turunannya
menghasilkan ekspansi kapitalisme dunia yang semu, ungkapnya. (Kompas,
6/10/2008).
Awal krisis, akibat kebijakan ekonomi Presiden George W. Bush, yang
bertahun-tahun membiayai perang Iraq, membiayai perang melawan
terorisme, membiarkan defisit anggaran (APBN) terus menggelembung, dan
dalam waktu yang sama mengalami defisit perdagangan luar negeri. Di
sisi lainnya, tabungan rakyat Amerika sudah minus, melampui dengan yang
dibelanjakan (disposable income). Guna membiayai ekonomi yang sangat
boros, Presiden Bush, terus meningkatkan utangnya, yang semakin
menggelembung, yang mencapai jumlah trilyunan dolar. Kondisi inilah
yang mendorong kehancuran ekonomi Amerika
Kondisi ini ditambah sikap rakus para ekskutif korporasi di Amerika,
yang mereka mengejar bonus, besar-besaran. Tanpa menyadari dampaknya.
Korporasi di Amerika yang menerima pinjaman global telah menanamkan
modalnya di sektor perumahan, yang kini tak laku, dan nilai harganya
turun drastis. Keadaan ini seperti yang terjadi di kawasan Asia di
tahun l990an, yang meminjamkan dana ke sektor perumahan (properti),
yang jumlahnya sangat fantastis. Di sisi lain, terjadi praktik penipuan
yang dilakukan para ekskutif di Amerika, yang tergiur iming-iming bonus
besar, yang mereka menyalurkan pinjaman besar-besaran ke sektor
properti. Praktek ini menurut Avery Goodman, ahli pasar uang Amerika,
sudah terjadi sejak periode 200l-2007. Lehman Brothers hanyalah salah
satu kasus, korban dari kerakusan para ekskutif. Para ekskutif
korporasi Amerika tidak menaruh perhatian posisi keuangan korporasi,
tapi membiarkan perusahaan terjerat utang. Maka,kehancuran sudah di
depan mata.
Namun, kehancuran ekonomi Amerika ini, tak terlepas dari peran Bank
Sentral Amerika (The Fed), di mana lembaga yang memiliki otoritas
keuangan ini, berkomplot dengan sejumlah ekskutif Yahudi, yang memegang
korporasi di Amerika, di mana saat korporasi keuangan melakukan
jor-joran menyalurkan kredit ke sektor properti dan sudah gagal bayar,
justru The Fed menurunkan suku bunga. Bahkan,sesudah krisis terjadi The
Fed masih terus memasok dana kepada korporasi. Ketika perusahaan Lehman
Brothers bangkrut, terbongkar kasus ketika Lehman Brothers mendapatkan
pinjaman 10 milyar dolar dari Bank Sentral New York yang dipimpin
Timothy Geithner, padahal Lehman sudah tidak mampu memenuhi kewajiban
membayar (insolvent).
Tanda-tanda kehancuran ekonomi Amerika sudah didepan mata. Krisis
ini tidak hanya terjadi pada pasar modal, pasar surat utang, dan sektor
perumahan, yang juga mengalami penurunan secara drastis. Ratusan ribu
orang kehilangan pekerjaan, sejak terjadinya krisis keuangan. Akibat
lembaga-lembaga keuangan di Amerika tutup. Ditambah pertumbuhan
ekonomi di Amerika minus. “Kita telah melihat data yang memburuk di
depan mata, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Amerika, dan
ini mengawali kondisi yang buruk”, ujar Piere Ellis, seorang ekonom di
New York.
Sebuah Koran The Pheladelphia Inquirer, yang terbit 30/9/2008, dalam
sebuah artikelnya berjudul: “US Crisis Puts Global Standing in Peril”,
menyebutkan krisis keuangan tidak saja menguras keuangan, dan dana
pensiunan yang lenyap, tapi krisis keuangan ini akan berdampak bagi
kepemimpinan Amerika. The Pheladelphia juga menyatakan, sejak Perang
Dingin, Amerika menjdi kekuatan militer terbesar di dunia, menjadi
kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dan New York adalah pusat keuangan
yang paling berpengaruh di dunia, serta dolar memiliki status sebagai
nilai tukar internasioal, tapi dengan krisis yang terjadi sekarang,
posisi Amerika sebagai adidaya akan terancam punah.
Daya krisis keuangan Amerika sekarang ini,lebih dahsyat,
dibandingkan dengan invasi militer ke Iraq. Bahkan, dolar Amerika sudah
mulai ditinggalkan, beberapa negara tidak lagi menggunakan dolar,
seperti Amerika Latin, Timur Tengah, Uni Eropa, dan beberapa Negara
Asia. Inilah akhir perjananan kapitalisme global. Satu setengah dekade,
sejak runtuhnya Soviet, sebagai imperium, kini nampaknya kapitalisme
global, yang dipimpin Amerika sebagai sistem idelogi dan ekonomi,
diambang kehancuran.
Sangat ironis. Masih banyak para pemimpin Islam, yang berwatak dan
bermental inferior. Mereka masih mendewakan Barat, sebagai kiblat
mereka. Mereka masih memberikan loyalitasnya kepada Amerika. Mereka
tidak hanya menjadikan Amerika sebagai partner strategisnya, tapi
menjadikan Amerika sebagai ‘tuannya’, sebagai ‘doronya’, bahkan
menyerahkan ‘hidup dan matinya’ kepada negara yang sudah bangkrut yaitu
Amerika. Materialisme yang bersumber dari para pengikut penyembah ‘sapi
emas’, kaum Yahudi sudah berakhir. Tak ada lagi yang layak dimitoskan.
Karena nilai dan sistem yang mendasari kehidupan mereka adalah
kebathilan.
Mestinya para pemimpin Islam mencari solusi dan alternative atas
situasi krisis global sekarang ini. Bukan justru mereka ramai-ramai
meninggalkan nilai dan prinsip-prinsip Islam. Dan, menjadikan
nilai-nilai sekuler dan materialism yang menjadi dasar kehidupan
mereka. Umat manusia mengharapkan solusi dan alternative. Bukan
orang-orang yang hanya bisa mengekor dan mengejar kehidupan dunia, yang
sudah diambang kehancuran, yaitu kapitalisme global. Wallahu ‘alam.
taken from www.eramuslim.com
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/