Obama-Fever, Sindrom Dependensi Negeri Kita
  Kamis, 06 November 2008 01:00
   Saat-saat yang dinantikan banyak orang itu terjadi juga. General Election
alias Pemilu Amerika Serikat akhirnya sampai pada penentuan hasil
akhir. Dan seperti yang telah diduga dan diramalkan banyak pihak,
Barrack Hussein Obama, calon presiden dari Partai Demokrat memenangkan
kompetisi politik akbar tersebut. Obama, yang pernah bersekolah di
Jakarta itu, menjadi presiden terpilih, sekaligus presiden kulit hitam
pertama bagi negara super power Amerika Serikat. Memang ada banyak simbol yang 
inheren dengan individu Obama yang membuatnya dikagumi dan digadang-gadang 
banyak pihak. Pertama, soal
usia mudanya. Di usia kepala empat, Obama berhasil bertengger di posisi
yang diyakini sebagai kedudukan terpenting di dunia pada masa ini. Hal
ini tentu saja mengundang simpati dan kekaguman banyak pihak. Di
Indonesia, para pendukung isu kepemimpinan kaum muda seolah mendapatkan
‘contoh barang’ yang nyata tentang impian mereka yang selama ini selalu
saja dimentahkan kaum tua dengan alasan-alasan yang memposisikan mereka
seolah-olah kaum utopian. Maka berjuta-juta kaum muda di berbagai
penjuru dunia dengan serta-merta menjadi fans Obama.
Kedua, persoalan ras. Obama yang merupakan warga kulit hitam,
kelompok yang selama ini dimarjinalkan dan berabad-abad teralienasi
pergaulan sosial-politik dunia Barat, muncul sebagai pemimpin utama di
negara sebesar Amerika Serikat. Maka sosok Obama menjelma bak dewa. Dia
dianggap pahlawan kaum marjinal, dan nilai kepahlawanannya seolah-olah
hampir menyaingi heroisme Nelson Mandela pada dekade lalu.
Ketiga, soal afiliasi politik. Obama yang berasal dari partai
Demokrat, berhadap-hadapan dengan partai Republik yang belakangan
terlanjur berbau anyir darah karena kebijakan si ‘Koboi Mabuk’ George W
Bush yang menebar teror dan perang di berbagai belahan dunia,
seolah-olah menempatkan Obama sebagai sebuah antitesis dari Bush.
Seolah Obama adalah kalimat yang merupakan antonim dari nama yang
paling menakutkan abad ini, Bush. Obama dan Bush terpola dalam citra
yang menempatkan mereka berdua seolah seperti Ares dan Dewi Athena pada
mitologi Yunani. Satu menebar ketakutan, yang lain juru damai dan
keselamatan. Anggapan ini memang tampak terlalu menyederhanakan
persoalan, karena dalam logika sehat, jika A melawan B, dan A membenci
C, belum tentu juga A adalah sahabat B. Jika Obama merupakan rival
politik Bush, dan kita -sebagai orang Indonesia yang masih mewarisi
nilai luhur kemanusiaan- membenci segala perilaku beringas George Bush,
maka tidak otomatis Obama mencintai kita. Tapi itulah mainstream pikiran
orang-orang, setidaknya penduduk Indonesia saat ini, mereka telah
terjebak pada pola pikir yang sarat simplifikasi: ‘musuh dari musuh,
berarti teman’.
Keempat, adalah faktor yang paling tidak irrasional, yakni
kebanggaan orang Indonesia bahwa Obama pernah tinggal di Indonesia, dan
ayah tirinya adalah orang Indonesia. Maka tiba-tiba sang presiden
Amerika terpilih ini seolah-olah menjadi sepupu dekat rakyat Indonesia.
Bahkan kalau boleh, Agus, tokoh katro’ yang hobi menelepon ke luar negeri dalam 
iklan sebuah produk layanan seluler di Indonesia, akan menelepon Obama langsung 
ke White House dengan
bahasa jawa! Kita dengan segera mengidentifikasi Obama sebagai bahagian
dari Nusantara, meskipun ternyata dia tak pernah lagi mengunjungi
Indonesia, bahkan juga tak pernah menyinggung persoalan apapun di
wilayah Asia Tenggara dalam tiap kampanye politiknya. Lucu, lugu,
sekaligus menyedihkan.
Obama Syndrome
Dengan berbagai alasan di atas, rakyat Indonesia sibuk dan larut
dalam euforia pemilu Amerika. Dari perbincangan elit nasional sampai
obrolan warung kopi, sibuk mengomentari, menganalisis, sesuai level
kognisi masing-masing, tentang tokoh hebat yang namanya Obama. Di Jawa
Timur, bahkan sebelumnya ada tokoh-tokoh yang menyebut dirinya ulama,
mengadakan istighazah untuk mendoakan kemenangan Obama. Di
Jakarta, Wimar Witoelar dan kawan-kawan larut dalam pesta perayaan
kemenangan Obama atas McCain, persis setelah pengumuman hasil Pemilu
Amerika diumumkan. Baju kaos oblong bergambar Obama laris mais di
mana-mana. Masyarakat kota sedang gila Obama, demam Obama.
Berkumpul dan bergembira, tentu saja hak asasi setiap manusia. Tapi
pertanyaannya, pantaskah? Sesuaikah respon kita terhadap fenomena
politik ini? Saya tidak ingin menjawab pertanyaan ini, biarlah kita
semua yang menjawab dengan perspektif masing-masing.
Namun sebagai sebuah bangsa, saya ingin melihat Indonesia terjangkit 
Obama-fever dari horison yang berbeda. Para teoretisi politik, bahkan para 
mahasiswa politik semester awal, paham bahwa penyikapan sebuah nation-state 
terhadap berbagai kejadian, begitu pula perumusan kebijakannya, merujuk pada 
tiga acuan besar : National goals (cita-cita/ tujuan bangsa), national ability 
(kemampuan nasional) atau national power (kekuatan nasional), dan international 
conditions (faktor-faktor internasional yang bersifat eksternal).
Maka sebuah bangsa yang memiliki tujuan nasional yang jelas, akan
mengukur dukungan dan penolakan dari satu parameter: sejauh mana sebuah
peristiwa mempengaruhi pencapaian cita-citanya. Bila pencapaian
cita-cita diberi dampak positif oleh sebuah kejadian, maka dukungan
menjadi suatu hal yang niscaya. Jika tidak, maka yang terjadi adalah
hal yang sebaliknya. Dan bila ada suatu momen yang tidak atau belum
jelas memberikan suatu pengaruh yang signifikan pada pencapaian tujuan,
maka sikap yang biasa ditunjukkan adalah: “who cares?”. Sebuah
bangsa yang memiliki kemampuan nasional yang cukup, maka ia akan
berjalan pada trek-nya. Membangun dan memperkuat kapasitas, tanpa
terlalu abai dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan hal tersebut.
Dari pengamatan dan sisa-sisa sikap ksatria yang membuat kita masih
mampu untuk jujur, kita mengakui bahwa Indonesia tidak cukup kuat dalam
dua faktor di atas. Maka pengaruh yang kemudian dominan adalah international 
conditions. Kondisi
dan situasi ekssternal yang lebih banyak mencitrakan dan mengkonstruksi
tanggapan kita sebagai sebuah bangsa, dalam merespon berbagai peristiwa.
Lalu mengapa Obama? Ah, rasanya saya sungkan untuk menyebut
nama-nama Paul Baran, Samir Amin, Andre Gunder Frank atau Antonio
Gramscii, dan sekumpulan teoretisi sosial ‘kiri’ lainnya yang sealiran
dengan mereka untuk menjawab hal ini. Tapi tidak mengapa, meskipun
secara ideologi mereka dalam pandangan saya termasuk kelompok teoretisi
‘kufur’, tapi teori dependensi yang mereka lahirkan rasanya cukup
bisa membuat kita memahami tentang apa yang tengah terjadi saat ini.
Andre Gunder Frank mengelompokkan negara maju ke dalam negara-negara
metropolis maju (developed metropolitan countries) dan negara sedang 
berkembang dikelompokkan ke dalam negara satelit yang terbelakang (satellite 
underdeveloped countries). Sementara itu, Samir Amin membagi perekonomian dunia 
menjadi dua, yaitu negara-negara maju di pusat (core/central) dan kelompok 
negara miskin pinggiran (periphery)
berada di sekitar negara pusat tersebut. Nah, negara terbelakang atau
periferi tersebut, dalam pandangan teori dependensia, akan amat
bergantung, bahakan mengekor terhadap kebijakan dan keputusan ekonomi
negara maju yang menjadi sentral.
Itu sisi ekonomi, sisi genuine dari teori dependensi ini.
Namun kalau kita sedikit memodifikasi dan mengembangkannya kepada sayap
sosial dan tren prilaku, ternyata dependensi alias ketergantungan kita
tak hanya sebatas dunia ekonomi. Kita telah demikian lama memuja
Amerika sebagai poros dunia, dan kini kekaguman itu sampai pada wilayah
tren, wilayah selera, wilayah bawah sadar. Kita telah mengkonstruksi
pikiran kepahlawanan kita dengan American taste, dan Obama
adalah subjek idola baru, sebagai bagian dari kecamuk simulakra dalam
dunia pikiran kita. Yah, ternyata dependensi kita memang keterlaluan.
Tergantung di alam nyata, terjajah di alam jiwa. Wallahu a’lam.

dikutip dari www.warnaislam.com



      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke