Ustadz Harus Ganteng?
Senin, 10 November 2008 11:06
Ada
ustadz bagus, mumpuni, sarat ilmu, dilengkapi dengan teknik penyampaian
yang memikat. Sayangnya, sang ustadz dianggap memiliki kekurangan,
tampangnya tidak menarik alias tidak bisa dibilang tampan. "gesture-nya
nggak pas, kurang menjual," ujar seorang produser televisi. Setelah hunting
kesana
kemari, mencari informasi dari berbagai sumber, didapatlah seorang
ustadz yang diinginkan. Sarat pertama, tampan alias ganteng. Wajah
bersih, menarik, good looking, dan yang paling utama; menjual!
Sedangkan sarat lainnya, soal kapasitas keilmuan, bobot materi, bahkan
integritas kepribadian, bisa jadi nomor sekian.
Materi bisa saja ada yang menuliskan, kepasitas keilmuan bisa sambil
jalan, integritas kepribadian bisa dikamuflase dengan wajah rupawan dan
keahlian retorika yang memikat. Maka jadilah sosok ustadz atau ustadzah
hasil sulapan, yang ditampilkan demi meraup keuntungan melalui
mekanisme rating dan selera pasar, sekaligus keinginan pihak sponsor.
Ustadz dan ustadzah ini, karena kegantengannya dan kecantikannya
cepat meroket, melesat bak selebritis. Bahkan hampir tidak ada bedanya
dengan selebritis, sebab ia pun kerap masuk dalam beragam acara
infotainment yang sebelumnya menjadi hegemoni penuh para selebritis
kita. Dan lantaran ingin memenuhi selera pasar pula, penampilan sang
ustadz dan ustadzah pun dipermak layaknya seorang artis. Pakaiannya
jadi trendsetter, banyak para jamaah yang berupaya mengikuti semua gaya
dan penampilannya, dari baju gamis, kacamata, jilbab sampai sepatu.
Ustadz dan ustadzah pun jadi bintang iklan, cenderung dimanfaatkan
oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari popularitas
keustadz-annya. Mereka pikir, ustadz dan ustadzah kan punya pengikut,
jamaah atau bahkan fans, jadi yang diincar itu bukan ustadznya, tapi
yang berada di belakang ustadz itu.
Kemudian, makin terkenallah ustadz dan ustadzah ini, diundang
ceramah ke berbagai daerah dan kota seluruh Indonesia, sampai ke luar
negeri. Kehadirannya disambut meriah, pakai tepuk tangan agar tambah
ramai. Ustadz dielu-elukan, dan orang-orang pun berebut menyentuh
tangannya untuk diciumi tidak peduli ustadznya masih muda, sedangkan
yang mencium tangan muda itu adalah lelaki tua yang jalannya sudah
membungkuk.
Permintaan ceramah pun semakin banyak, sehingga ustadz bisa memilih
mana bayaran yang paling besar jika terdapat jadwal yang bentrok.
Bahkan pada saatnya, sang ustadz melalui managernya boleh mengajukan
tarif tertentu kepada panitia penyelenggara atau tidak jadi sama
sekali. Maklum, permintaan tinggi, harga juga bisa ditinggikan.
Gigit jarilah para pengurus masjid di kampung-kampung, di desa-desa
dan di berbagai pelosok negeri yang nyata-nyata tidak sanggup
menyediakan uang transport dan akomodasi yang memadai saat harus
mengundang ustadz kondang ini berceramah di masjidnya. Sebab, kelas
ustadz ini memang bukan lagi di masjid-masjid kecil, di kampung-kampung
becek, melainkan di masjid besar, dan hotel.
Coba hitung, selain tarif yang mahal, masih harus menyediakan tiket
pesawat, akomodasi yang layak sekelas selebritis. Ujung-ujungnya,
ustadz kampung lagi yang dipakai, selain bayarannya murah, tidak perlu
tiket pesawat, hotel, dan bisa dijemput pakai motor. Meskipun
seringkali yang disebut ustadz ‘kampung’ ini kualitasnya boleh jadi
lebih bagus dari ustadz kondang dari kota. Baik kualitas materinya,
juga integritas kepribadiannya. Sayangnya, jamaah kita sudah silau oleh
ketenaran sang ustadz kota.
Ketika seorang teman bertanya, “Ssst… hati-hati bicara seperti itu. Memangnya
siapa ustadz yang Anda maksud?”
Belum ada sih, ini hanya kekhawatiran saya saja. Makanya
saya sering titip pesan kepada para ustadz-ustadz muda yang ganteng,
bobot ilmunya bagus dan integritas kepribadiannya tidak diragukan,
“Ustadz, jangan mau ditawarin masuk tv ya, saya khawatir ustadz jadi
susah ditemui. Nanti saya kalau mau konsultasi atau tanya soal agama
harus lewat manager ustadz…”
Kalau ustadz yang lain, yang kualitasnya keilmuannya sama baiknya,
punya integritas kepribadian yang juga menarik, namun secara fisik tak
bakal dilirik stasiun televisi, saya cukup tersenyum dengan
ungkapannya, “kalau semua ceramah di tv, terus yang ceramah di
masjid-masjid kampung siapa?”
Ustadz oh ustadz, nggak harus ganteng kok jadi ustadz. (gaw)
taken from www.warnaislam.com
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/