dari milis tetangga

Note: forwarded message attached.

LuVly,
   
  NaThaLia SaNnia

       
--- Begin Message ---



PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.



Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK

akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan

limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak

ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara

langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.



Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya

menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang

bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,

sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan,

teman

saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan

acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.



Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa

Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat

senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang

berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.



SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.



Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal

ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan

ukur di Indonesia,
yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir.

Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen

100 gram.



Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem

Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk

ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah

bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai

satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua

anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan
"pound".



Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1

pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang

legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara

dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia

internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia.

Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.

Sampai kapan mau dipertahankan ?



BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?



Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di

bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata,

kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena

akan menyesatkan.



Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana

penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah

dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid

(anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh

memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1

pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan

sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak

usia dini.



Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan

yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia

mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk

melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan

petunjuk resmi.



TANGGUNG JAWAB SIAPA ?



Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan

kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama

kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar

tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;



"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan

secara internasional , yang menyatakan bahwa :



1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?



Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini

diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?



Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain

Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?



Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku

pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?



Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,

sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang

pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya
ialah

harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem

baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum

diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia

yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound

(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini

dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa

yang mau pakai ?.



HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.



Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang

merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih

banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah

satu

contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue

dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.



Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan

masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera

dihentikan.



Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis

mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak

Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki

kesalahan.



Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal

Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun

terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di

Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.



Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak

kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya,

prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan

dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang

sangat berat.



Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal

menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti

aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan

hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan

yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri

yang

berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.



Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar

sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan

penuh dengan tantangan berat.



ACUAN MANA YANG BENAR ?



Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan

juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini

bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan

lagi.



Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat

dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya

diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.



Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara

internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).



1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)



1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)



1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)



Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep

obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah

kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?

Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!

Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.

(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,

bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)



KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.



Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan

pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua

dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons

dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem

timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai

pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang

benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam

kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita,

generasi penerus bangsa ini.



# # # # #



Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun

elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan

mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.



Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat

umum, untuk diketahui secara luas.



Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan

kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan

diperbanyak/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.



Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan

menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi

setempat dikota anda berada.



Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau

berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga

Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa

pamrih sedikitpun.



Unquote.

Best Regards

Joni Marwan


--- End Message ---

Kirim email ke