--- On Thu, 15/1/09, Muthia Aini <[email protected]> wrote:

From: Muthia Aini <[email protected]>
Subject: Fw: [Jagaditha] * Antara Gaza, Grace, TV One dan Karni Ilyas *
To: "adi nugroho" <[email protected]>, "Dani W" <[email protected]>, 
"wandie syachfutra" <[email protected]>, "dewi roeshani" 
<[email protected]>, "diach tp" <[email protected]>, "lina 
sukandar" <[email protected]>, "sekar laras" <[email protected]>, 
"tya" <[email protected]>, "Gita receptionist" <[email protected]>, "mba eny 
srimartanti" <[email protected]>, "agnia tp30" <[email protected]>
Date: Thursday, 15 January, 2009, 2:22 PM










----- Forwarded Message ----
From: Aep Saepul Mahali <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>
Sent: Wednesday, January 14, 2009 11:06:20 AM
Subject: [Jagaditha] * Antara Gaza, Grace, TV One dan Karni Ilyas *

*Antara Gaza, Grace, TV One dan Karni Ilyas
*
Dalam Apa Kabar Indonesia Pagi Senin 5 Januari 2009, dengan halus
Indriarto Priyadi dan terutama Grace Natalie mencoba menggiring opini
pemirsa bahwa Israel "terpaksa" menyerang. Mereka berbincang bahwa
Israel
tak akan berhenti menyerang jika serangan roket Hamas tak dihentikan.
Dalam sesi pertama dengan pengamat Bantarto Bandoro, pembicaraan
berkutat
pada Hamas yang memang mengganggu dan "memancing" serangan Israel dengan
serangan roket ke negeri zionis itu.

Pengamat internasional CSIS itu juga menyebut bahwa perang akan
berlangsung lama karena -tidak seperti agresi Israel ke Lebanon yang
dipukul Hizbullah dan "ditengahi" pasukan PBB- Hamas menolak kehadiran
pasukan perdamaian. Opini pemirsa pun tergiring kepada kesimpulan:
Israel
menyerang karena kesalahan Hamas dan serangan akan terus berlanjut
karena
Hamas dengan degil menolak campur tangan internasional PBB.  Kerja tim
yang baik antara Indriarto, Grace dan sang pengamat CSIS.
Menjelang sesi berikutnya, wawancara dengan KH. Ahmad Satori dari Ikatan
Dai Indonesia (Ikadi), Indriarto membuka dengan menyebutkan seruan
boikot
produk "yang katanya" dari Amerika oleh beberapa kelompok (Muslim tentu
saja). Ungkapan agak sinis ini kemudian ditimpali Grace, "padahal mereka
suka menggunakan produk itu." Sebuah judgement bahwa kelompok Muslim
yang
menyerukan boikot produk Amerika sebenarnya justru pecinta produk itu.

Sekitar dua hari sebelumnya, dalam sebuah ilustrasi tentang sejarah
konflik di Palestina, narator TV One menyebutkan bahwa tanah Palestina
dikuasai Israel setelah gerilyawan Israel berhasil memaksa Inggris-yang
diberi mandat oleh PBB- hengkang dari sana. Ini adalah kedustaan yang
bodoh dan buta sejarah. Kenyataannya Inggris sejak 1917 memang berencana
memberikan tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel oleh kelompok
zionis Yahudi. Deklarasi Balfour dengan jelas membuktikan kedustaan ini.
Ada juga penayangan rekaman video dari pihak Israel yang mengebom sebuah
masjid. Serangan keji yang menghancurkan rumah ibadah dan menewaskan
jamaahnya ini dilakukan dengan alasan masjid menjadi gudang penyimpanan
roket-roket Al-Qassam. Ada cuplikan menarik dalam video itu, setelah
ledakan bom pertama ada ledakan kedua ( secondary explosion ) yang
diberi
tanda dan catatan oleh editor video Israel . Hal itulah yang diklaim
sebagai "bukti" adanya roket di dalam masjid. Yang menggelitik, cuplikan
itu selalu diulang-ulang oleh TV One dalam tayangan berita tentang
serangan Israel .
Beberapa poin di atas menunjukkan adanya upaya penggiringan opini oleh
TV
One. Yaitu agar publik di Indonesia , termasuk umat Muslim, yang
mengutuk
serangan brutal dan keji Israel menjadi "memaklumi." Pertanyaannya,
kenapa
hal itu dilakukan TV One?
Jauh sebelumnya, Grace Natalie juga melakukan penggiringan opini dalam
berita kasus terorisme Palembang . Grace, yang "meninjau" lokasi
pesantren
yang dituduh menjadi sarang dan tempat latihan tersangka teroris
Palembang, melengkapi laporannya dengan ilustrasi bahwa pesantren itu
"aneh" karena hanya memiliki sepuluh santri.
Kalau saja Grace seorang Muslim, atau rajin mengamati
pesantren-pesantren
kecil di pedesaan, niscaya ia akan menemukan pesantren (rintisan tentu
saja) yang hanya memiliki lima , empat, tiga atau bahkan satu santri
saja.
Keheranan seorang Grace yang bukan Muslim dan tidak memahami dunia
pesantren memang wajar. Namun komentar bodohnya bahwa hal itu "aneh"
memberi bobot bagi penggiringan opini bahwa pesantren adalah sarang
teroris.

Tapi terlepas dari hal tadi, Grace Natalie dan TV One memang hebat.
Liputan mereka tentang kasus terorisme selalu berhasil mencapai level
eksklusif. Saat para wartawan di Yogyakarta tak bisa mendekati rumah
tempat Mbah alias Zarkasih ditangkap, Grace malah terlihat ada di mobil
Densus 88 yang melakukan penangkapan. Tak heran jika dalam pemberitaan
penangkapan tersangka teroris di Palembang pun Grace bisa masuk rumah
salah satu tersangka dan memamerkan "temuannya," sebilah pedang samurai
yang biasa dijajakan di kakilima. Tak begitu dahsyat, tapi lumayan, bisa
menambah bobot penggiringan opini bahwa itu memang rumah teroris.
Bos Grace, Karni Ilyas, malah lebih hebat lagi. Pada saat penangkapan
Amrozi, ia melaporkan langsung dari TKP, padahal posisinya waktu itu
Pemred SCTV. Demikian juga saat penyerbuan di Batu yang berakhir dengan
kematian Dr. Azahari, Karni yang waktu itu Pemred Anteve melaporkan
langsung dari TKP. Di mana ada kasus terorisme besar yang terungkap, di
situ pasti ada Karni Ilyas atau anak buahnya -salah satunya Grace
Natalie.
Hubungan Karni yang dekat dengan Komjen. Gories Mere membuatnya selalu
mendapatkan liputan eksklusif tentang operasi Densus 88.
Jangan lupa juga bagaimana reporter TV One (waktu itu masih bernama
Lativi) Alfito Deannova berhasil mengajak Ali Imron -terpidana seumur
hidup kasus Bom Bali yang seharusnya meringkuk dalam penjara-
jalan-jalan
menapaktilasi lokasi persiapan dan pelaksanaan Bom Bali. Ali memang
fenomenal, saat kawan-kawannya meringkuk dalam sel, ia malah bisa ngopi
bareng Gories Mere di Kafe Starbucks yang di yakini salah sebuah usaha
milik jaringan zionis internasional.

Ketika hal itu memicu kegemparan, Gories beralasan bahwa Ali dibon untuk
mengungkap jaringan teroris. Ini masih masuk akal, Gories memang
berwenang
melakukan berbagai upaya dalam penyidikan. Namun bagaimana bisa TV One
"mengebon" Ali yang napi untuk acara eksklusifnya? Lagi-lagi stasiun
televisi yang sahamnya dimiliki oleh taipan media keturunan Yahudi
Rupert
Murdoch -melalui Star TV Group-  ini memang hebat.
Okelah, bisa jadi Karni Ilyas berniat baik, memfasilitasi Polri dengan
stasiun televisi tempatnya bekerja dalam kampanye pembentukan opini
memerangi terorisme di Indonesia . Biarlah kelompok Muslim dan pesantren
yang sempat menjadi sasaran kampanye itu marah dan sedih, toh mereka
masih
bisa membantah, ini negeri demokrasi tempat pendapat bebas diumbar kan ?
Tapi sangat jahat kalau Hamas, Muslim Palestina dan bangsa terjajah itu
kemudian dihalangi dari dukungan Muslim dan bangsa Indonesia . Yaitu
dengan membentuk opini bahwa Israel tidak salah kalau menyerang mereka.
Salah mereka sendiri melakukan perlawanan terus-menerus pada penjajah
zionis yang jauh lebih kuat. Ini adalah kampanye terselubung mendukung
kekejian zionisme.

*(dikutip dari muslimdaily. net)*

-- 
Using Opera's revolutionary e-mail client: http://www.opera.com/mail/


------------------------------------

we're not the best,
but we'll do our best...Yahoo! Groups Links







      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke