----- Forwarded Message ----
From: fie uno <[email protected]>
To: ryan chayang <[email protected]>; EICF2 arfan 
<[email protected]>; mbak sari <[email protected]>; jang se 
<[email protected]>; gita cs <[email protected]>; ginong 
<[email protected]>; bulan bintang <[email protected]>; ratna 
wulandari <[email protected]>; uwi cut cut <[email protected]>
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:22:36
Subject: Fw: PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU (very nice story!!!)






----- Forwarded Message ----
From: Umriyah <[email protected]>
To: cah ei <[email protected]>; Dian Dian Dian <[email protected]>; Ida 
Bangunan <[email protected]>; Handoko <[email protected]>; sis 
minto <[email protected]>; Lina Lina Lina <[email protected]>; Mika - - 
<[email protected]>; fie uno <[email protected]>; Isti Sby 
<[email protected]>; Nori Ridwan <[email protected]>; rini cantik 
<[email protected]>
Sent: Thursday, January 22, 2009 7:54:33 AM
Subject: PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU












PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU
> 
> Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang
> pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik
> dan lebih menuruti apa mauku.
> 
> Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi
> kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian
> mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit.
> Aku pikir dia workaholic.
> 
> Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang
> kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah
> romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2
> seperti itu sebagai ungkapan sayang.
> 
> Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan
> makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan
> berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang
> terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
> 
> Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan
> anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku
> menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
> 
> Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami.
> Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek
> sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya,
> dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena
> sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang
> perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha,
> temannya Mario saat dulu kuliah.
> 
> Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah
> melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar
> indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu
> berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh
> pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang
> lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
> 
> Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu,
> Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang
> akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang
> mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu
> dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
> 
> Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada
> Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari
> bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai
> sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan
> komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang,
> ada pekerjaan yang membingungkan.
> 
> Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di
> RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal,
> karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa
> dengan suara riangnya,
> 
> " Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau
> makan juga? uhh... dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus
> mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu
> sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta
> yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur
> hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
> 
> Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
> membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih
> sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya.
> Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku
> buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang
> kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa
> sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
> 
> Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu
> manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan
> ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali
> lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
> 
> Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati
> bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak
> dihatinya.
> 
> Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka,
> hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
> 
> Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya
> keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka
> password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat
> tante Meisha ?"
> 
> Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
> 
> Dear Meisha,
> 
> Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
> hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada
> Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya,
> karena dia ibu dari anak2ku.
> 
> Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2
> mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu,
> tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak
> menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2
> terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak
> sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk
> mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku
> menikahinya.
> 
> Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika
> cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh
> tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2
> belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara
> alami. Itu yang aku rasakan.
> 
> Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang
> lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami.
> Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat
> Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan
> selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi
> tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada
> tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you
> are the only one in my heart.
> 
> yours,
> 
> Mario
> 
> Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru
> berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan
> menyayangiku.
> 
> Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia
> mencintai perempuan lain.
> 
> Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari
> untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari
> bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
> 
> Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan
> tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor
> untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak
> pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku
> terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu
> terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia
> memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
> 
> Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang
> perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia
> tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan
> aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan
> melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
> 
> Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah
> dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu,
> aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan
> Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
> 
> **********
> 
> Setahun kemudian...
> 
> Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman
> itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
> 
> " Mario, suamiku....
> 
> Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja
> dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu
> yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak
> bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin
> memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak
> memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan
> menuruti keinginanku... Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan
> banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku
> sehingga mau melakukan apa saja untukku.....
> 
> Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan
> kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu
> yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
> 
> Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa
> kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi
> istriku ?"
> 
> Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
> 
> Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia
> bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah
> wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
> 
> Istrimu,
> 
> Rima"
> 
> Di surat yang lain,
> 
> ".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
> sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah
> melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang
> penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang
> Meisha......"
> 
> Disurat yang kesekian,
> 
> ".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
> 
> Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan , aku tidak lagi marah2 padamu,
> aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar
> masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros,
> dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku
> selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu,
> untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika
> engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku
> menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat
> engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.......
> 
> Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap
> berusaha dan menantinya........"
> 
> Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya...
> dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
> 
> Disurat terakhir, pagi ini...
> 
> "..............Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9.
> Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu
> pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia.
> Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah
> kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai
> motor.
> 
> Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
> dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak
> sakit.
> 
> Tahukah engkau suamiku,
> 
> Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9
> tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari
> matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?........."
> 
> Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
> 
> " Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
> keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku
> tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu,
> dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu
> menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama
> menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan
> tinggi...... aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante..... aku
> melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak......" Jelita
> memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk
> merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
> 
> Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
> mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
> 
> 
> Dear Meisha,
> 
> Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2
> dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh
> basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku
> baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai
> bergetar.... Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?
> 
> Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan
> besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil
> mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena
> dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku....
> 
> Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
> disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah
> terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika
> seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
> 
> Jakarta , 7 Januari 2009  (dedicated to my friend....may you rest in
> peace...)
 
 

Thanks & B' Regards,
***************************
EntisE-mail :              [email protected] 
 
****************************
________________________________
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke