LUPERCALIAN FEST,
THE BEGIN…
Dalam bahasa
Inggris, “Kasih sayang” ditulis sebagai “Affection”,
bukan “Love”. Ada perbedaan mendasar
antara istilah Affection dengan Love. Yang pertama lebih dekat dengan persaan
atau curahan hati, bersifat kejiwaan yang halus dan indah, sedang yang kedua,
“Love”, lebih dekat dengan tindakan yang mengarah kepada kepada atau kegiatan
aktivitas seksual. Mungkin sebab itu, hubungan seksual disebut sebagai “Making
Love”.
Nah, terkait dengan
pemahaman tersebut, Valentine’s day sesungguhnya tidak tepat jika diartikan
sebagai “Hari Kasih Sayang”. Karena peristiwa yang terjadi berabad tahun silam,
yang kini diperingati sebagai Hari Valentine, berawal dari suatu peristiwa yang
lebih tepat disebut sebagai pesta kemaksiatan (Making Love Party) Ketimbang
Pesta Kasih Sayang. Peristiwa tersebut
merupakan suatu ritual bagi bangsa Pagan Roma yang dinamakan Lupercalian
Festival.
Dalam Kepercayaan
pagan Roma, bulan Februari dianggap sebagai bulan penuh “cinta” (Love, bukan
affection) dan bulan kesuburan (baca: masa birahi atau syahwat). Lupercalian
atau Lupercus sendiri merupakan nama Dewa Kesuburan (Dewa Pertanian dan
Gembala),
yang dipercaya berwujud seorang lelaki perkasa dan berpakaian setengah
telanjang dengan hanya menutupi tubuhnya dengan kulit kambing. Mitologi
mengenai Lupercus terkait erat dengan kisah Remus dan Romulus yang tinggal di
bukit Palatine dan diyakini kisahnya mengawali pembangunan Kota Roma.
Selain Roma,
kepercayaan Pagan Yunani kuno juga meyakini bulan Februari tepatnya pertengahan
Januari dan mencapai puncaknya pada pertengahan
Februari merupakan bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada perkawinan
suci Dewa Zeus dan Hera. Baik kepercayaan Pagan Roma maupun Pagan Yunani,
keduanya meyakini bahwa Februari merupakan bulan penuh gairah dan cinta (baca:
syhawat).
LUPERCALIA FEST
Lupercalia festival
merupakan sebuah perayaan yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 18 Februari,
di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14
Februari),
diersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen Of Feverish Love) bernama Juno Februata.
Pada tanggal 13-nya, dipagi hari, pendeta tertinggi pagan Roma menghimpun para
pemuda dan pemudi untuk mendatangi kuil pemujaan. Mereka dipisah dalam dua
barisan dan sama-sama menghadap altar utama. Semua nama perempuan muda ditulis
dalam lembaran-lembaran kecil. Satu lembaran kecil hanya boleh berisi satu
nama. Lembaran-lembaran kecil yang berisi nama perempuan muda itu lalu
dimasukkan
kedalam wadah mirip kendi besar, atau ada juga yang menyebutnya dimasukkan ke
dalam wadah mirip botol besar.
Setelah itu , sang
pendeta yang memimpin upacara mempersilahkan para pemuda maju satu persatu untuk
mengambil satu nama gadis yang telah berada di dalam wadah secara acak, hingga
wadah tersebut kosong. Setiap nama gadis yang terambil, maka sang empunya nama
harus menjadi kekasih pemuda yang mengambilnya dan berkewajiban melayani segala
yang diinginkan sang pemuda tersebut selama setahun hingga Lupercalian Festival
tahun depan.
Tanpa ikatan
perkawinan, mereka bebas berbuat apa saja. Dan malam pertama di hari itu, malam
menjelang 14 Februari hingga malam menjelang malam 15 Februari, di seluruh
kota, para pasangan baru itu merayakan apa yang kini disebut sebagai ‘Hari
Kasih Sayang’. Suatu istilah yang benar-benar keliru dan lebih tepat disebut
sebagai ‘making Love Day’ alias malam
kemaksiatan.(Bersambung)
Sumber: ermuslim digest,
“The Dark Valentines” Ritual Setan Yang
Kini dipuja.
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/