Hati-Hati Menuliskan Wallahu A’lam  
  Senin, 02 Februari 2009 22:40
   PENULIS artikel keagamaan (Islam) atau media Islam lazimnya mengakhiri 
tulisan dengan kalimat Wallahu a’lam (artinya: "Dan Allah lebih tahu atau Yang 
Mahatahu/Maha Mengetahui). Sering ditambah dengan bish-shwabi. menjadi Wallahu 
a’lam bish-shawabi. Hal
itu untuk menunjukkan, Allah-lah yang mahatahu atau lebih tahu segala
sesuatu dari kita. Allah-lah yang Mahabenar dan Pemilik Kebenaran
mutlak. Kebenaran yang kita tuliskan itu relatif, nisbi, karena kita
manusia tempat salah dan lupa –mahalul khotho wan-nisyan. Maka, semuanya kita 
kembalikan kepada Allah Swt Sang Pemilik Kebenaran. Al-Haqqu min robbik…
 Namun coba perhatikan, banyak yang keliru atau khilaf dalam penulisannya, 
tepatnya penempatan koma di atas (‘.
Catatan: sebutan “koma di atas” untuk tanda baca demikian sebenarnya
tidak tepat, tapi disebut “tanda petik tunggal” juga tidak tepat karena
petik tunggal itu begini ‘…’ dan bukan pula “apostrof” (tanda
penyingkat untuk menjukkan penghilangan bagian kata) karena dalam kata
itu tidak ada kata yang dihilangkan/disingkat.  Kita sepakati aja deh
ya, namanya “koma di atas”.
 Penulisan yang benar, jika yang dimaksud “Dan Allah Mahatahu” adalah Wallahu 
a’lam (tanda koma di atas [‘] setelah huruf “a” atau sebelum huruf “l”. Tapi 
sangat sering kita jumpai penulisannya begini: Wallahu ‘alam (koma di atas [‘] 
sebelum huruf “a”.
 Jelas, Wallahu a’lam dan Wallahu ‘alam  berbeda makna. Yang pertama (Wallahu 
a’lam) artinya “Dan Allah Mahatahu/Maha Mengetahui atau Lebih Tahu”. Yang kedua 
(Wallahu ‘alam) artinya “Dan Allah itu alam”, bahkan tidak jelas apa arti ‘alam
di situ? Yuk, kita tanya ustadz kita: “Dalam bahasa Arab, lafadz atau
kata ‘alam artinya apa, Tadz?” Kalau ‘alamin atau ‘aalamin, jelas
artinya alam, seperti dalam bacaan hamdalah –alhamdulillahi robbil ‘alamin.
 Dalam Al-Quran, setelah saya buka salah satu buku andalah saya, Konkordansi 
Qur’an karya Ali Audah, tidak ditemukan kata ‘alam, hanya ‘alamatin (QS. 16:16) 
 yang artinta “tanda-tanda” atau “alamat” dan ‘alamina (artinya: semesta alam) 
seperti dalam hamdalah dan sangat banyak ayat lain.
 Kalau lafadz a’lam (tepatnya: a’lama/a’lamu = lebih tahu/mahatahu) banyak. 
Wallahu a’lamu juga banyak (QS. 4:25, 4:45, 6:117, 84:23). Kalimat Allahu 
a’lamu lebih banyak lagi.  
 Jadi, kalau yang kita maksud itu “Dan Allah Mahatahu”, maka penulisan yang 
benar adalah Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.
 Mari kita bedah. Eh, tunggu dulu… Saya bukan ahli bahasa Arab nih,
cuma tahu dikit banget. Pak Ustadz, khususnya Ustadz Ahmad Sarwat dan
Ustadz Taufik Hamim, mohon koreksinya ya…
 A’lam  itu asal katanya ‘alima (ain-fatah, lam-kasroh, mim-fatah), artinya 
tahu. Dari kata dasar ‘alima itu kemudian terbentuk kata ‘ilman (isim mashdar, 
artinya ilmu/pengetahuan), ‘alimun (fa’il/pelaku, yakni orang yang berilmu), 
ma’lumun (pemberitahuan, maklumat), dan sebagainya, termasuk a’lamu/a’lam  
(lebih tahu).
 (Sebentar, intermezo dulu, jadi ingat ini: Kun ‘aliman au muta’ammilan au 
mustami’an au mababban fala takun khomisan…
Jadilah guru/orang berilmu, murid/belajar ilmu, pendengar, atau
pecinta/simpatisan ilmu, jangan jadi orang kelima: jadi guru kagak,
murid kagak, pendengar kagak, simpatisan juga bukan, apa dong?
“Fatahlik!” Binasalah kita kalau jadi orang kelima itu!).
 Baiklah, Saudara-Saudaraku…! Mari kita lanjutkan bahasan kita yang 
kelihatannya sepele padahal penting ini.
 Tanda petik tunggal atau koma di atas (‘ dalam a’lam itu transliterasi bahasa 
Indonesia untuk huruf ‘ain dalam bahasa Arab (seperti Jum’ah, Ka’bah, Bid’ah, 
Ma’ruf, dan sebagainya). Kata a’lam  artinya “lebih tahu”. Jadi, kian jelas 
‘kan, penulisan yang benar: Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.
 Tentu, kesalahan penulisan itu tidak disengaja, salah kaprah
aja alias kesalahan yang sering dilakukan, secara sadar atau tidak
sadar, merasa benar –padahal salah—karena tidak ada yang mengoreksi.
 Saya yakin, maksudnya Wallahu a’lam, “Dan Allah Mahatahu”.
 Ya sih, bisa juga, penulisan Wallahu ‘alam memang
disengaja, secara sadar, karena mengira kalimat itu artinya “Dan Allah
Tahu”. Tapi bukankah yang dimaksudkan “Allah Lebih Tahu” atau
“Mahatahu/Maha Mengetahui”?  Lebih dari itu, more than that, “tahu” dalam 
bahasa Arab itu ‘alim/’alima, bukan ‘alam/’alama, apalagi alamak…! Kalau 
maksudnya “Dan Allah tahu”, penulisannya Wallahu ‘alim/’alima/’alimun.
 Gimana, Tadz? Ah, saya jadi terkesan sok tahu
neeh…. Afwan, Saudara-Saudaraku… saya sekadar mengingatkan.  Bahkan,
siapa tahu, justru saya yang keliru, koreksi ya…! Wallahu a’lam bish-shawab. 
Wasalam. (www.romeltea.com).*
www.warnaislam.com



      

Kirim email ke