Emakku bukan Kartini


Emakku bukan Kartini. Dia hanya anak seorang petani kelapa. Istri
seorang petani kelapa pula. Sampai akhir hayatnya dia buta huruf latin
(bisa membaca huruf Arab). Dia tak sekolah bukan karena tak hendak. Dia
tak sekolah karena berbagai kombinasi yang tak menguntungkannya.

Suatu hari di kampung kedatangan ustaz dari desa lain. Ada pengajian
kecil, mempelajari sifat dua puluh. Emak, ketika itu seorang gadis
kecil, ingin ikut serta belajar. Tapi ia dihardik ayahnya. "Kau bukan
anak perempuan yang patut untuk menjadi cendekia." Emak hanya bisa
menangis.

Tapi Emak tak pernah mengeluh. Pun ia tak melawan. Ia hanya menunggu datangnya 
sesuatu: Kebebasan.

Yang ia tunggu itu datang kemudian, saat ia menikah. Ayah ketika itu
adalah seorang buruh tani. Kerjanya memanjat kelapa milik orang,
mengumpukannya ke suatu tempat hingga siap dijual. Ia sepertinya puas
dengan upah yang dia terima. Tapi Emak tidak. Ia sudah melihat banyak
kehidupan buruh tani. Sampai tua mereka tetap miskin.

Maka ia paksa Ayah untuk pindah kampung. Hijrah. Ini adalah titik tolak
baru dalam sejarah hidup Emak. Ia pindah ke kampung baru. Di kampung
itu masih tersedia lahan yang bisa dibuka. Hanya perlu tenaga untuk
menebang pohon.

Bersama Ayah, dia memulai hidup pengantin barunya di sebuah gubuk,
menumpang di tanah paman jauhnya. Salah satu tiang gubuk itu adalah
batang bohon hidup. Berdinding dan beratap daun nipah, berlantai
belahan kayu nibung. Dari gubuk itulah nasibnya ia ubah.

***

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari kerja keras. Tak pernah Emak
berfikir bahwa ia seorang perempuan, sehingga seharusnya beban kerjanya
lebih ringan. Bersama Ayah ia mengayun kampak, menebang rimba untuk
membuka lahan. Lahan itu kemudian menjadi ladang padi. Hasil panen padi
adalah bekal makan selama setahun. Di lahan itu pula ia mulai menanam
kelapa, membuat kebun.

Emak bekerja keras, lebih keras dari orang lain. Sore hari saat orang
sudah rapih reriungan dengan keluarga, ia baru pulang dari ladang. Di
gubuknya ia masih harus masak untuk makan malam.

Kerja keras itu berhasil. Bebeberapa tahun kemudian kelapanya sudah
mulai menghasilkan. Tak banyak memang. Tapi setidaknya keluarga kami
sudah punya masa depan. Seingatku ketika kemudian aku lahir sebagai
anak ke delapan, keluarga kami bukan keluarga miskin buruh tani, tapi
keluarga pemilik beberapa bidang kebun kelapa, meski bukan pula
keluarga kaya.

***

Emak ingin belajar. Ia tak mengeluh ketika niatnya dihalangi. Ia pun
tak menangisi kesempatan yang berlalu namun tak pernah dapat ia raih.
Tapi ia tahu cara mengubah nasibnya. "Mereka bisa menghalangiku untuk
belajar. Tapi tak seorangpun bisa menghalangi anak-anakku. " begitu
tekadnya. Saat abangku yang tertua memasuki usia sekolah, di kampung
kami belum ada sekolah. Emak tak menyerah. Ia bersama ayah mengayuh
sampan selama tiga hari. Tiga hari. Ke kampung pamannya, seorang lurah.
Di situlah abangku dititipkan untuk bersekolah.

Itulah mulanya, lalu kami semua kakak beradik bisa bersekolah.

Sadar dengan tekad itu Ayah tergerak. Ia ajak orang kampung membangun
sekolah. Ia datangkan guru dari kampung lain. Itulah sekolah yang
kemudian mengubah nasib banyak orang di kampung kami.

***

Tak cukup bertani, Emak berdagang untuk membiayai sekolah anak-anaknya.
Dia beli pakaian, obat-obatan, apa saja yang laku dijual dari kota, ia
jajakan berkeliling dari rumah ke rumah. Sambil belanja kebutuhan
dagang ia bisa menengok anak-anaknya yang sekolah di kota. Di lain
ketika Emak jadi perias pengantin. Berkeliling ke berbagai kampung,
sambil tetap menjajakan dagangannya. Hingga akhirnya semua anaknya bisa
sekolah tinggi.

Di hari tuanya Emak bisa beristirahat. Kami yang sudah bekerja bisa
memberi dia makan, mencukupi kebutuhannya. Saat aku lulus sarjana, Emak
bilang, "Kau bekerjalah di sini, di dekat Emak." Aku menurut.. Tapi aku
juga masih ingin sekolah. Saat kesempatan itu datang, Emak keberatan.
Dia ingin aku tetap di sisinya. "Sudah cukuplah kau sekolah. Kau sudah
jadi sarjana."

Aku bujuk Emak. "Mak. Ingat kan, dulu Emak bekerja mati-matian agar
kami bisa sekolah. Sekarang ini saya dapat beasiswa. Artinya saya tidak
perlu membayar untuk sekolah. Malah saya dibayar. Saya mengkhianati
cita-cita Emak kalau saya tidak sekolah lagi." Akhirnya Emak mengalah,
aku diijinkannya pergi.

Aku berangkat sekolah ke Malaysia. Tapi saat aku di Jakarta aku dengar
Emak pingsan di kamarku saat membersihkannya.. Kepergianku begitu
melukainya.

Tapi Emak tak meratapi itu. Setelah aku, saudara-saudaraku yang lebih
tua juga dapat kesempatan melanjutkan kuliah. Pernah suatu saat hanya
ada abangku yang tertua di sisi Emak. Anak laki-lakinya yang lain pergi
jauh.

Sedihkah Emak? "Sepi", katanya. "tapi sepi itu bisa Emak obati dengan rasa 
bangga."

***

Emakku bukan Kartini. Ia tak menulis surat, yang membuat orang lain
bergerak. Ia bahkan tak bisa menulis. Tapi dengan tangannya, dia
mengubah nasibnya. Nasib kami.

http://berbual. com


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke