Mati Terbunuh Karena CintaKilled by your love OR killing for your love..?
Terbunuh disebabkan cinta ATAU membunuh untuk cinta..?
  Berapa
banyak dari kita yang rela berkorban untuk
memperjuangkan-meraih-menjaga rasa cinta? Rela dan tanpa pamrih
mengorbankan harta bahkan menyerahkan kepemilikan terbesar dalam
dirinya, nyawa, demi sebuah cinta..?
 
Di
waktu perang Uhud, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika orang-orang
meninggalkan Nabi SAW sewaktu keadaan mulai genting karena pemanah di
bukit tidak mau mengikuti perintah Rasulullah sehingga menyebabkan
musuh bisa menyerang lewat belakang, para sahabat-sahabat menjadi
perisai hidup bagi Rasulullah dari desakan panah-panah kaum musyrikin,
Abu Thalhah adalah seorang pemanah ulung dan selalu tepat mengenai
sasarannya. Setiap anak panah yang dilepaskan olehnya ke arah kaum
Musyrikin selalu diamati oleh Rasulullah saw, pada sasaran manakah anak
panah itu menancap. Kemudian Abu Thalhah berkata: “Demi ayah dan ibuku,
yang menjadi tebusanmu, tak usahlah anda mengamatiku nanti terkena
panahan musuh. Biarlah mengenai leherku asalkan lehermu selamat.“
 
Abu
Dujanah melindungi Nabi saw dengan dirinya, sementara panah-panah musuh
bertubi-tubi menghujam di punggungnya. Demikian pula Ziyad bin Sakan.
Ia memayungi Rasulullah saw dengan dirinya sampai gugur bersama lima
orang sahabatnya. Menurut riwayat Ibnu Hisyam orang yang terakhir gugur
melindungi Nabi saw hingga roboh karena luka yang mengenainya, lalu
Rasulullah saw berkata: “Dekatkanlah dia kepadaku.“ Kemudian diletakkan
kepalanya di atas kaki beliau dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya
yang terakhir berbantalkan kaki Rasulullah SAW.
 
Cinta Allah dan Rasul-Nya
 
Sudah
seberapa besarkah cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah kita
lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun di dunia ini,
termasuk nyawa kita sendiri..?
 
Tidaklah
cukup seseorang mendakwakan diri beriman kepada masalah-masalah aqidah
yang harus diimani, sebelum hatinya juga dipenuhi oleh cinta kepada
Allah SWT dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu Rasulullah SAW bersabda:
 
“Tidaklah
beriman seseorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintainya
daripada hartanya, anaknya, dan semua manusia.“ (HR Muttafa‘alaihi)
 
Akhir Zaman, Lemahnya Cinta kepada Allah dan Rasulullah
 
“Nyaris
orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu
makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya
kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak
sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh mencabut
rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam
hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn
itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (HR Abu Dawud)
 
Perjuangkanlah
rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sampai maut mencabut ruh, sampai
kematian menghentikan langkah kaki, sampai desah nafas dan denyut
jantung berakhir di dalam perjalanan mencari keridhoan-Nya.
 
Di bab Perang Uhud, buku Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa'id Ramadhani Al-Buthy 
menuliskan hal berikut ini,
 
[start kutipan]
Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya: 
“Siapa
di antara kalian yang bersedia mencari berita untukku tentang keadaan
Sa‘ad bin Rabi? Masihkah ia hidup atau sudah matikah?” 
 
Salah
seorang Anshar menyatakan kesediaannya, kemudian pergi mencari Sa‘ad
bin Rabi. Akhirnya Sa‘ad ditemukan dalam keadaan luka parah, sedang
menanti datangnya ajal. Kepadanya orang Anshar itu memberitahu: “Aku
disuruh Rasulullah saw untuk mencari engkau, apakah engkau masih hidup
atau telah mati…“ 
 
Sa‘ad
menjawab: “Beritahukan kepada beliau, bahwa aku sudah mati, dan
sampaikanlah salamku kepada beliau. Katakan kepada beliau, bahwa Sa‘ad
bin Rabi menyampaikan ucapan kepada anda (yakni Rasulullah SAW): Semoga
Allah SWT melimpahkan kebajikan sebesar-besarnya atas kepemimpinan anda
sebagai seorang Nabi yang telah diberikan kepada ummatnya! Sampaikan
juga salamku kepada pasukan Muslimin, dan beritahukan bahwa Sa‘ad bin
Rabi berkata kepada kalian: 
 
“Allah tidak akan memaafkan kalian jika kalian meninggalkan Nabi SAW, sedangkan 
masih ada orang-orang hidup di antara kalian.“ 
 
Orang
Anshar itu melanjutkan ceritanya: “Belum sampai kutinggalkan, Sa‘ad pun
wafat. Aku lalu segera menghadap Nabi saw dan kusampaikan kepada beliau
pesan-pesannya.”
            
Jika
cinta seperti ini telah menyelinap dan bertahta di dalam hati setiap
diri kaum Muslimin pada hari ini, sehingga menjauhkan mereka dari
syahwat dan egoisme mereka, dapatlah saya katakan: “Saat itulah kaum
Muslimin akan tampil sebagai generasi baru dan mampu merebut kemenangan
merka dari benteng-benteng kematian, serta mengalahkan musuh-musuh
mereka betapapun rintangan yang harus dihadapinya.”
[end kutipan]
 
Bukti Cinta yang Dituntut di Era Modernitas
 
Meskipun
Rasulullah SAW tidak hidup bersama-sama kita, bukan berarti kita bisa
mengaku-ngaku saja cinta kepadanya. Perlu ada bukti dari setiap ucapan,
perlu ada wujud dari setiap perkataan.
 
Buktikan
rasa cinta kita kepada Allah dan Rasulullah SAW dengan mempelajari
al-Quran dan sunnahnya, memahami kandungannya, mentadaburi sejarahnya,
dan mengamalankannya –sebisa kita- dalam kehidupan sehari-hari.
 
Semoga di akhirat kelak, Allah SWT mengumpulkan kita dengan Rasulullah SAW, 
orang yang kita harapkan balasan cintanya.
 
Hadits
riwayat Anas bin Malik RA: Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada
Rasulullah SAW: "Kapankah kiamat itu tiba?" Rasulullah SAW bersabda:
"Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?" Lelaki itu
menjawab: "Cinta Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah SAW bersabda: "Kamu
akan bersama orang yang kamu cintai" (HR Muttafa‘alaihi)
 taken from www.warnaislam.com



      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke