Prasangka
Oleh : Andrie Wongso
Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri kecilnya yang masih
berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue
dan menjajakannya di pasar demi kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh
kekurangan membuat si kecil tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti
anak-anak kecil lainnya.
Suatu hari di musim dingin, saat selesai membuat kue, si ibu tersadar melihat
keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli
keranjang baru dan berpesan kepada putrinya agar menunggu saja di rumah. Pulang
dari membeli keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan
putrinya tidak ada di rumah. Spontan amarahnya memuncak. Putri betul-betul
tidak tahu diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah sebentar saja
malahan pergi bermain dengan teman-temannya!
Setelah selesai menyusun kue di keranjang, si ibu segera pergi untuk menjajakan
kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak menyurutkan tekadnya demi
kehidupan mereka. Dan sebagai hukuman untuk si putri, pintu rumah di kuncinya
dari luar. "Kali ini Putri harus diberi pelajaran karena telah melanggar
pesan," geram si ibu dalam hati.
Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu mendadak nanar saat menemukan gadis
kecilnya tergeletak di depan pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya
tubuh putrinya yang telah kaku karena kedinginan. Dengan susah payah
dipindahkannyalah tubuh putri ke dalam rumah.
"Putri...Putri...Putri..., bangun, Nak! Ini ibu, Nak! Bangun, Nak! Ibu tidak
marah kok. Bangun Putri anakku!" Serunya sambil menangis merung-raung dan
berusaha sekuat tenaga membangunkan dengan menguncang-guncangkan tubuh si putri
agar terbangun. Tetapi putri tidak bereaksi sama sekali.
Tiba-tiba terjatuh dari genggaman tangan si putri sebuah bungkusan kecil. Saat
dibuka, ternyata di dalamnya berisi sebungkus kecil biskuit dan secarik kertas
usang. Dengan tergesa-gesa dan tangan yang gemetar hebat, si ibu segera
mengenali tulisan putrinya yang masih berantakan tetapi terbaca jelas.
"Ibuku tersayang, Ibu pasti lupa hari istimewa Ibu ya. Hi... hi... hi..., ini
Putri belikan biskuit kesukaan ibu. Maaf Bu, uang putri tidak cukup untuk
membeli yang besar dan maaf lagi Putri telah melanggar pesan Ibu karena
meninggalkan rumah untuk membeli biskuit ini. Selamat ulang tahun, Bu. Putri
selalu sayang, Ibu!" Dan meledaklah tangis sang ibu.
Pembaca yang budiman,
Huai Ie, prasangka sering mendatangkan petaka adalah kalimat yang cocok dengan
kisah tadi dan penyesalan biasanya datang menyusul di belakang itu. Begitu
banyak masalah dan problem di dunia ini muncul karena prasangka negatif maka
butuh kedewasaan dalam mengendalikan pikiran agar kebiasaan berprasangka tidak
kita layani begitu saja dan sedapat mungkin kita hilangkan. Kita ganti dengan
berfikir positif sekaligus hati-hati dengan demikian memungkinkan hubungan kita
dengan orang lain akan menjadi harmonis dan membahagiakan.
.::mo0kz::.
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/