Assalamu'alaikum wr wb
Semut-semut berdatangan, berkerumun, berkoloni menuju satu
tujuan, seonggok bangkai kecil, putih kehitaman…, “apa itu ya.. ?” ohh 
ternyata…cicak
malang, kasian.. 

Seonggok bangkai tanpa pemakaman, tanpa diiringi saudara-saudara
yang menangisi, melainkan di selimuti eforia koloni semut yang menikmati. 
Ya..cicak
itu sudah mengakhiri cerita hidupnya, nyawanya telah meninggalkan badan
kecilnya,dan selesai sudah segalanya.… 


Adapun kita, makhluk hidup bernama manusia, juga sama akan
menemui titik akhir dari cerita hidup kita, namun apakah sama menjadi seonggok
bangkai yang tanpa pemakaman, dan tanpa tangis handai taulan, kita tak tau ?,
atau seperti umumnya manusia sebagai makhluk yang di muliakan, kita di
mandikan, di kafani, dan di kubur dalam tanah, tak di biarkan bergelimpangan, 
lengkap
dengan tangisan saudara dan teman-teman, kita juga tak bisa memastikan ?, atau
kita sama mengakhiri rangkaian cerita hidup kita, sama dikafani, di shalatkan
dan di kuburkan, namun tak hanya di iringi tangisan orang yang mencintai kita,
tapi juga di tangisi bumi yang kehilangan oleh amal baiknya, dan langit karena
kehilangan do’a-do’anya, semoga demikikan, walau tetap kita tak bisa memastikan
? yang bisa kita lakukan ialah berusaha keras untuk konsisten dalam keimanan
dan amal shaleh, bukan sebaliknya, mengulur taubat atau bergelimang dalam
pembangkangan, seperti Fir’aun dan para pendukungnya, yang kepergiannya tak di
tangisi langit maupun bumi 


“Maka
langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh. “  
(QS.
44:29)


Jika cerita cicak berakhir bersamaan dengan kematiannya,
tidak demikian dengan kita, manusia. Kita masih punya eposide yang mesti di
jalani, yaitu pertanggungjawaban, atas setiap amal yang kita lakukan semasa
hidup. Yang setiap hari malaikat sibuk mencatatnya, yang setiap waktu bumi yang
kita pijak merekamnya, yang setiap saat tangan dan kaki kita menyaksikannya. 
Sudahkah
kita mempersiapkannya ? ataukah kita terlena dengan kesibukan hampa makna, yang
akhirnya membawa pada penyesalan tanpa ampunan, dan penderitaan tak
berkesudahan. Atau kita menabung, sedikit demi sedikit, dalam setiap hari yang
masih dijatahkan, untuk mengundang keridhoanNya dan membangun hunian yang
nyaman tak tertandingkan.    


“Hey..,ternyata cicak itu tak lagi berekor..,” sebuah
keunikan cicak, ketika terancam maka ia akan memutuskan sendiri ekornya,
sebagai bentuk pertahanan. Siapa yang mengajarkannya ? unik..! strategi 
pengelabuan
yang cerdas, ketika cicak pura-pura mati, dan ekornya masih bergerak – gerak 
untuk
mengalihkan perhatian pemangsanya. Jika cicak saja, di anugrahiNya kemampuan
yang demikian, apatah lagi kita – manusia - sebagai khalifah di muka bumi ini,
pasti lebih dari itu. Jika cicak yang tanpa sayap itu, bisa yakin akan rizki,
sabar menunggu, dan sigap menjemput nyamuk – nyamuk yang lincah berterbangan,
apatah lagi kita, dengan berbagai potensi yang di anugerahkanNya. Tak mungkin
Allah swt, menugasi kita peran sebagai khalifah, tanpa bekal dan potensi yang
cukup untuk mengembannya. Jika cicak yang tak sekolah itu tak kelaparan dan
kehabisan bagian rizkinya, mengapa banyak diantara kita yang bersikutan dan
mengambil jalan haram dalam menjemput rizki yang sudah di sediakan ? 


Terlepas dari “kontroversi” sunahnya membunuh cicak, karena
dulu ia meniup-niupi api yang membakar nabi Ibrahim as, supaya lebih besar, dan
hendak memberitahukan pada musyrikin quraisy persembunyian Nabi Muhammad saw
dan abu bakar ra, sehingga Rasulullah menjulukinya “si fasik kecil”. Ada setitik
pelajaran dari makhluk dinding ini yang bisa kita ambil, untuk memperbaiki diri
kita, menjadi manusia yang semoga di akhir hidupnya di tangisi langit dan bumi,
amiin.  
mohon maaf, semoga bermanfaat,
wassalamu'alaikum wr wb



      Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! 
http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke