(punten bilih kirang berkenan)
Kripik buah, dan kecerdasan memilih..

“asw, alhmdlh barusan dah tranfsr 1 jt ke mandiri, tlng di cek,sjz”( sms 
send…), 
“ya rabbi, mudah-mudahan lancar, dan  menguntungkan,amiin…”
Ketikan sms di barengi doa , meluncur di pertengahan siang, antara dzuhur dan 
ashar…. 

Kira-kira seminggu yang lalu, ada temen yang ngajakin bisnis, jualan kripik 
buah, ngambil dari malang di jual di samarinda, di lingkungan  kampus unmul 
(universitas mulawarman). 
“sudah pernah main di bisnis kripik, emang ? Tanya saya saat dia awal 
menawarkan..
“belum, tapi sebelumnya sy udah pernah ngirim batik jogja, sy beli cash, trus 
sama temen2  di kreditin, dan itu lumayan laku, cepet habis..” jawab temen 
saya, yang memang asli samarinda, dan sempet kuliah di sana.
“dan sebagian kuntungan, sama temen2 kampus, itu di alokasikan buat renovasi 
mushola kampus..” tambahnya..
“mmhh, kira2 yg di butuhin berapa klo mau investasi ?” Tanya saya
“ya utuk awalan, 1 juta aja dulu, nanti kalo lancar bisa nambah, karena kripik 
buah dari malang terkenal enak & murah, untuk ongkos ke malang, loby ke 
produsen, pengiriman ke samarinda, pencatatan cashflow, dst, biar sy yang 
ngatur, situ tinggal terima bagi hasil aja” jelasnya dengan nada nyaring, dan  
hampir tak ada jeda, 
“bagi hasilnya gimana ?” selidik saya, mulai tertarik...
“gini, karena yang jualan bukan saya, tapi temen2 LDK, masuk-masukin ke 
koperasi & kantin kampus, sama nawarin ke temen di kelas, jadi mereka sebagai 
marketingnya, sementara saya sebagai pengelolanya, dan situ jadi investornya, 
jadi ada 3 pihak kan, berhubung saya belum tahu, berapa pengiriman kripik 
perkilo nya dari malang ke samarinda, dan siap tahu dapet diskon dari produsen 
kalo beli banyak, jadi saya belum bisa mastiin, tapi yang jelas, keuntungan 
temen2 LDK buat renovasi mushola, trus insyaallah keuntungan bagian sy buat 
pengadaan beras untuk keluarga janda dan jompo.., sy mau beli berasnya dari 
jawa tengah, karena di sana murah banget, trus di kirim ke Jakarta, dan di 
bagikan ke beberapa keluarga janda dan jompo.., karena kalau anak yatim sudah 
banyak yang “care”, tapi kalau mereka kadang seakan terlupakan.., saya melihat 
sendiri, bagaimana mereka mengumpulkan sisa makanan restoran, kemudian 
memakannya…” jelasnya penuh semangat..
“masa iya, daerah mana tuh…?” agak heran sekligus terkesima dalam benak saya..
“di daerah pasar minggu…, saya juga belum bisa ngambil banyak, cuma beberapa 
keluarga aja, yang penting berkelanjutan…, itu baru niat, tapi mudah-mudahan 
terlaksana..”
“ok, ntar sy pikir-pikir dulu” tandas saya mengakhiri

Beberapa sms dan telephon susulan antara saya dan teman saya itu, mengisi hari 
– hari selanjutnya, untuk menambah data, mengira – ngira untung rugi, kang 
google pun tak absen saya kunjungi, browsing tentang kripik buah malang, 
samarinda, dst. Saya harus ngambil keputusan, mau invest atau ngga, agak trauma 
memang, sebelumnya saya sudah sempet menitipkan ke temen yang juga menawarkan 
bisnis, tapi sampai sekarang lebih dari 4 bulan (kontraknya 1 bulan), uang bagi 
hasil yang di janjikan belum diterima, modal awal yang saya titipkanpun baru 
setengahnya kembali, padahal  pengetahuan agamanya, amat bagus, ibadahnya pun 
tak disangsikan lagi…, tapi ..ahh, wallohu ‘alam,

“asw, ok sy insy mau invest, bs mnt no rek nya, “ (sms send), jadinya sy 
putuskan untuk investasi, mungkin bukan hanya sekeder kripik buah, tapi lebih 
dari itu, misi sosial, dan nilai ibadah di baliknya, yang membuat saya 
tertarik, bahkan siap ambil resiko, invest ke temen yang belum lama kenal, 
bahkan baru sekali ketemu, toh ga ada yang ga bersesiko, kita diam pun ada 
resikonya, bismillah…, 

Akhirnya, saya transfer juga uangnya, saya sms dia, dan doapun meluncur  
dipertengahan siang, antara dzuhur dan ashar…, 
Langkah-langkah meninggalkan atm, pikiran seakan menari nari, meloncat kesana 
kemari, “gimana hayo, klo dia ke malang, trus ga balik ke Jakarta lagi…?”, “di 
bisnis itu, defaultnya JANGAN GAMPANG PERCAYA dulu”,”belajar dari pengalaman 
dong…!” dst dst, ilalang keraguan mulai tumbuh satu persatu, benalu 
kekhawatiran mulai merambat pelan-pelan, tapi…segera saya yakinkan diri, “niat 
baik, insyaallah buah nya juga baik”, “temen sy yang satu ini, insyaallah 
amanah”, “no telp & no rekening bisa jadi pegangan kok”, “ga ada keberhasilan 
tanpa keberanian mengambil resiko”, “ga ada kata gagal yang ada sukses atau 
belajar”, bahkan lengkap dengan doa, semoga kehendak langit pun ikut 
melancarkan ikhtiar hambanya di bumi. “do the best& God take the rest”
Hidup ibarat samudara pilihan, yang setiap sisinya selalu dihadapakan pada 
pilihan-pilihan, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dari yang besar 
sampai yang kecil. Apakah bangun saat waktu subuh tiba atau tidur lagi, 
bermimpi lagi bersama selimut yang mengerumuni. Baju mana yang dipakai, mau 
makan sama apa, mau lewat jalan mana yang tidak macet, dst. Dan setiap pilihan 
mempunyai konsekuensi, mereka yang menunda menikah misalkan, berarti siap 
(tersiksa) bertahan dari derasnya godaan, menundukan pandangan, atau mengiasi 
harinya dengan shaum sesuai kemampuan, sedangkan mereka yang memutuskan 
menikah, berarti juga siap meredam kerikil-kerikil konflik yang bermunculan, 
dan bertanggung jawab atas berlayarnya biduk rumah tangga hingga selamat sampai 
tujuan. Mereka yang shalatnya berantakan dan hanya ingin di lihat orang, 
berarti harus siap dengan penggorengan akhirat yang paling dalam, 

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas 
tipuan mereka.Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan 
malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah 
mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali(142). Sesungguhnya orang-orang 
munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan 
kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”.(145) 
{QS.An-nisaa}

sementara mereka yang berinfak di jalan yang di ridhoi Allah swt, juga harus 
siap menerima kembalian yang berlimpah, perlindungan dari bala bencana, 
ketenangan hati, keharmonisan keluarga, bahkan sampai tiket ke syurga, lengkap 
dengan bidadari yang bermata jeli, yang sebelumnya tak pernah tersentuh jin 
maupun manusia.

“Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, 
tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga 
yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.”{QS.Ar-rahmaan : 56}

Konsekuensi itu, mau tak mau, akan kita dapati, atas setiap pilihan yang kita 
putuskan, apakah akan kita tangisi, atau akan kita syukuri. Disinilah letak 
pentingnya kecerdasan memilih dan keterampilan memutuskan, karena hidup adalah 
serangkaian pilihan. Menunda keputusan adalah keputusan, bahkan tidak 
memutuskan pun ialah keputusan itu sendiri, seperti di bisnis tadi, jika 
ternyata benar benar sukses, betapa saya menyesal tidak terlibat di 
dalamnya,karena orang lain lebih cepat memutuskan berinvestasi.  

Coba perhatikan, betapa seorang Anang, akhirnya menceraikan KD, padahal sudah 
memiliki anak dua, apakah dulu Anang cukup matang mengambil keputusan meminang 
KD, bukan di kuasai emosional syahwat semata, apakah Anang siap membesarkan dua 
anak yang masih dalam masa perkembangan itu, tanpa seorang ibu kandung di 
sampingnya ? (ups astaghfirullah.., naha jadi nggosip ini teh..:d), yang jelas, 
hidup adalah rangkaian pilihan, dan setiap pilihan melahirkan konsekuensi, jadi 
cerdaslah dalam memilih, karena kita bebas dalam menentukan pilihan, tapi kita 
tak bebas dalam menerima konsekuensi. 

Tentang keterampilan memutuskan ini, mari kita buka lembaran sejarah, yang 
tinta emas telah mencatatnya, sesosok pemuda, yang tegap dan pemberani, brilian 
dalam mengatur strategi perang, dan lihai dalam memainkan pedang, tak gentar 
melawan siapapun musuhnya. Ialah Khalid bin walid, nama di balik pribadi unggul 
itu, sebelum masuk islam, ia berhasil memporak porandakan barisan kaum muslimin 
di peperangan uhud, bahkan saat itu darah Rasulullah saw mengucur dari wajahnya 
yang mulia, beberapa sahabat banyak yang syahid, karena kepemimpinan Khalid 
yang luarbiasa, dan kelalaian barisan pemanah  kaum muslimin yang lebih memilih 
harta rampasan perang, dari pada patuh pada instruksi pimpinan, Rasulullah saw.

Setelah masuk islam, keunggulan Khalid bin walid, lebih memukau baik kawan 
maupun lawan. Dalam salah satu peperangan, di awal ia masuk islam, yaitu 
peperangan Mu’tah, ia mulai menorehkan prestasi. Perang antara kaum muslimin 
yang berjumlah 3000 (tiga ribu) orang, melawan tentara romawi timur yang 
berjumlah 200000 (dua ratus ribu) orang. Pertempuran yang amat berat, sebuah 
komunitas yang baru tumbuh, dengan jumlah pasukan yang masih sedikit, akan 
melawan Negara adidaya saat itu, dengan kekuatan militer yang super. Berawal 
atas di dibunuhnya 1 nyawa muslim yang diutus ke romawi timur itu, Rasulullah 
saw berani memutuskan untuk mengirim pasukan, sebagai bukti, bahwa 1 nyawa 
muslim adalah amat mahal, dan 3000 pasukan muslim siap menerima resiko untuk 
membalasnya, (hari ini, nyawa ratusan muslim seperti kehilangan harganya?). 
amat penting dan beresiko nya pertempuran ini, Rasulullah saw, sebelum 
memberangkatkan pasukan sudah mengangkat Zaid bin haritsah
 sebagai panglima, dan menangkat 2 wakinya, ia bersabda “apabila zaid 
gugur,Ja’far yang akan menggantikannya, dan bilamana ja’far menjemput ajal di 
medan laga, maka Abdullah bin rawahah yang menggantikannya”

Pertempuran sengit berlangsung, zaid gugur, kemudian ja’far menyusul, lalu 
abdullah pun syahid kemudian, pasukan muslim di tengah pertempuran dengan 
jumlah yang sedikit, kini kehilangan pemimpin, mereka mulai mundur untuk 
merumuskan strategi, memilih pemimpin baru, atau kembali pulang ke madinah. 
Disinlah kecerdasan mengambil keputusan di tunjukan oleh Khalid bin walid, 
dengan penuh keyakinan, ia memutuskan untuk tetap berperang, ia berpikir keras, 
merumuskan strategi yang jitu, untuk bertahan, setidaknya untuk beberapa hari 
kedepan.Di esok harinya Khalid menukar pasukan sayap kiri  ke sayap kanan, dan 
sebaliknya, sehingga pasukan romawi melihat wajah-wajah baru, seakan-akan 
pasukan muslimin mendapat bantuan personil baru, hari selanjutnyapun demikian, 
ia membariskan pasukan muslimin secara memanjang, sehingga tampak seperti lebih 
banyak, dan memerintahkan sebagian pasukannya membuat debu dan pasir 
berterbangan, dengan kuda-kuda mereka, seakan – akan
 datang pasukan bantuan. Dan strategi ini berhasil, pasukan romawi yang 
bertempur demi nafsunya itu, mulai kehilangan semangat berperang, ketakutan 
mulai merasuki sendi-sendi mereka, yang akhirnya di hari ke 7 pertempuran, 
mereka mundur, dan kaum muslimin pun bisa kembali ke madinah dengan tanpa wajah 
yang memalukan. Bahkan efeknya, setelah itu, kaum muslimin tak lagi diremehkan 
oleh berbagai kafilah di daratan arab, karena berhasil melawan 200000 pasukan 
romawi timur. Dan tahukah kita, usia keislaman Khalid saat itu baru tiga tahun, 
semenjak ia mengucapakan dua kalimat syahadat, tapi ia sudah menorehkan 
prestasi, memberi yang terbaik bagi agamanya, lalu di usia keislaman kita yang 
lebih lama dari Khalid, sudahkah kita berprestasi dan memberikan sesuatu untuk 
agama ini ?

Pertanyaan selanjutnya, bagimana di situasi yang demikian genting, dengan 
kekuatan yang jauh tak seimbang, Khalid mampu mengambil keputusan, kemudian 
menindak lanjutinya dengan strategi brilian. Kejelasan tujuan (Allah swt), 
keyakinan yang dalam (hidup mulia atau mati syahid), pengetahuan lapangan yang 
matang, dan dukungan dari luar (loyalitas pasukan), menjadi beberapa jawaban 
penting, “mengapa Khalid mampu mengambil keputusan brilian saat itu?”
Bagi kitapun demikian, apakah di dunia bisnis, di dunia kerja, di dunia 
pendidikan, dalam hubungan interpersonal, dst. Untuk mengambil keputusan yang 
tak disesali kemudian, minimal ke empat hal diatas, sudah dalam genggaman. 

Saat gajian, kita juga memutuskan, apakah akan di habiskan dalam hal – hal yang 
konsumtif saja, atau di investasikan dalam peluang – peluang bisnis yang 
(mudah-mudahan) menguntungkan. Dan sesungguhnya investasi yang paling 
menguntungkan adalah berbisnis dengan Allah swt, yang maha kaya, yang maha 
memenuhi janji, dan maha mengetahui. Mari Putuskan untuk menitipkan investasi 
padaNya, dan biarkan Dia mengelolanya, lalu tunggulah betapa kembaliannya amat 
berlimpah dan tak tepat pada waktunya.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan 
hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan 
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) 
lagi Maha Mengetahui”{QS. Al-Baqarah : 261}

Wallohu’alam, semoga bermanfaat

Note : ayo sukseskan REWARM, segera ambil keputusan, untuk berinvestasi di 
sini, memberi suatu yang bermanfaat, dan tunggulah kembalian dari Nya yang 
mengejutkan…


      Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke