Assalamu"alaikum wr wb
(mohon maaf jika kurang berkenan)
Sebagai pembelajaran, dan memperkaya data, saya membuat
kuesioner,kebetulan kali ini temanya tentang "pernikahan",
bagi temen-temen yang bersedia, harap mengisinya, baik yang belum
ataupun yang sudah menikah, mudah-mudahan data yang terkumpul bisa bermanfaat,
dalam menjawab permasalahan sosial, dan menjadi masukan bermanfaat bagi
pihak-pihak terkait,
Semoga apa yang temen-temen lakukan dibalas dengan kebaikan yang berlipat,
amiin.
silahkan klik di S I N I (nikah siapa takut..?!)
bagi yang beruntung, berhak mendapatkan hadiah, gratis oksigen seumur hidup,
atau gratis tiket talkshow bedah buku "menmbujanglah engkau akan miskin" yang
diterbitkan oleh IPTN (Ikatan Pemuda pemudi Takut Nikah) , tapi ga tau
kapan,bukunya juga belum ada :p, atau serius inimah, insyaallah kalender 2010
bertandatangan saya, (hah, emang siapa saya ?:d)
hatur nuhun.
________________________________
Kenapa belum nikah juga ?
“Kebahagiaan adalah bertemunya
harapan dan realita pada momen yang tepat.”
Ya, kira-kira begitulah kata
(sok) bijak yang keluar dari pikiran ini, betapa tidak bahagia, sudah menuntun
motor beberapa puluh meter, di bawah sengatan matahari, sendirian lagi...
mudah-mudahan didepan segera menemukan tukang tambal ban.., dan alhamdulillah,
akhirnya dapet juga. Bahagia bener….! Sebaliknya masalah adalah tak selarasnya,
antara harapan dan realita, seorang istri mengharap suaminya jujur, tapi
ternyata sang suami malah berbohong, masalah !, pembisnis inginnya omzet
bertambah, kenyataannya malah stagnan, itu juga masalah. Jadi kebahagiaan itu
sebenarnya tak mesti rumit, megah atau luar biasa…, baru akan bahagia kalau
sudah memiliki ini dan itu, padahal hampir setiap hari kita bisa merasa
bahagia, kalau kita peka, bahwa ternyata ada banyak realita yang sesuai
harapan. Pas kebelet, ingin segera kebelakang…, alhamdulillah… wc tersedia,
bahagia..!, pas haus, ingin minum, alhamdulillah… air tersedia, bahagia juga,
dst. Tak ada yang salah sih, menargetkan
ini dan itu, sebagai parameter kebahagiaan, tapi jangan sampai mengabaikan
kebahagiaan – kebahagiaan kecil yang senantiasa hadir setiap hari.
“bang.., tambal..,” sambil saya
standar dua kan
motornya
Selanjutnya, giliran si tukang
tambal memainkan perannya. Mencongkel, menarik, seperti sudah bekerja dibawah
sadar, tanpa proses berfikir lagi.
Setelah ban dalam dikeluarkan,
lalu dia masukan kedalam ember, untuk apa ? untuk mencari dimana lubang
bocornya. Kalau ada yang bocor, pasti akan mengeluarkan gelembung di ember.
“nih mas, bocornya ada 2”
jelasnya, “mesti diganti ban dalamnya” perintahnya…
“ga bisa ditambal dulu bang..?”
Tanya saya ( kan
lumayan selisih harganya)
“bisa, tapi dari pada nanti bocor
lagi, bisa kecelakaan !” jawabnya.., waduh, nyerah deh, posisi saya sudah
lelah, apalagi strategi marketing “nakut-nakutin” nya yang tampa lebih
menyeramkan dengan wajah
perseginya.
“ya udah bang…, ganti aja…”
Sambil menunggu proses
penggantian ban, biasa…, pikiran mulai menerawang.., “pilosofi tambal ban, cari
lubang kebocoran, lalu tambal” ya, begitulah biasanya, kalau para tukang tambal
ban (yang rajin), menyelesaikan misinya. Kalau bocor adalah masalah, maka ia
mencari dulu letak kebocorannya dimana, satu atau beberapa ? begitupun dalam
setiap masalah kita, sebaiknya kita telusuri dulu dimana akar pangkal
masalahnya, baru kita tentukan penyelesaiannya.
Coba kita aplikasikan, misal
masalah ...apa ya…., masalah malas bangun subuh, sudah pasang alarm, tapi masih
saja telat. coba ditelusuri, sebetulnya apa penyebab induknya..? bisa jadi
karena tidur terlalu larut dengan perut kenyang, berarti tidur agak awal, dan
hindari kekenyangan. Tapi ada juga kok, sudah tidur awal, tetep kesiangan..?
berarti bisa jadi akarnya adalah masalah pemahaman, shalat malam, atau shalat
subuh, tak begitu berharga, konsekuensi jika telat atau bahkan tidak
mengerjakannya tidak begitu merisaukan, buktinya tak terjadi apa-apa ?, berarti
ini masalah pemahaman, tentang keutamaan shalat malam/ sahalat subuh, tentang
pahala dan dosa, serta tentang syurga dan neraka. Tapi sudah tahu, kalau shalat
subuh itu wajib, shalat tahajud itu luar biasa, tetep aja sudah bangun, tidur
lagi…? Berarti ini masalah keimanan, hati yang keras, mata yang banyak melihat
yang tak semestinya, pikiran yang sering kotor, lisan yang sering berbohong dan
menggunjing, makan minum yang syubhat, dan seterusnya, amal – amal kemaksiatan,
berakumulasi memberatkan diri untuk beribadah. Jadi definisikan masalahnya,
cari titik pangkalnya, lalu perbaiki ..!
“udah beres belum bang ?” Tanya
saya, memecah konsentrasinya..
“bentar lagi..” jawabnya, sambil
memasang kembali ban belakang.
“ngomong2, abang tidur di sini
juga ?” sambil melihat ruangan, hamper mirip bengkel daripada kamar..
“iya “ jawabnya singkat.
“belum nikah ya bang ?” ups,
kenapa nanya itu, ga sopan banget..
“gimana mau nikah ? hidup sendiri
aja susah !” kira-kira begitulah jawabannya,
Heups, mulut menutup, ga mau
memperpanjang obrolan, apalagi sok menasihati “coba aja nikah bang, siapa tau
hidupnya jadi ga susah!”, atau sok
pahlawan “kalau saya bantu uang buat nikah, berani ga minggu besok nikah ?”
Berhenti dari obrolan, kembali
menerawang..,
Jumlah populasi perempuan yang
lebih banyak dari pada lak-laki ….
Data KDRT, perselingkuhan dan
perceraian yang makin meningkat ….
Berita hamil diluar nikah yang
kian marak…
Banyak bayi – bayi dibunuh bahkan
sebelum lahir, sebagiannya dibuang ditong sampah..
Anak lahir tanpa mengetahui orang
tuanya siapa ?...
Masalah yang benar – benar berat
dan kompleks…!, sebetulnya apa sih titik pangkalnya ? apakah peningkatan jumlah
kelahiran yang tak terbendung ? lalu program KB di luncurkan ? saya pikir bukan
itu, toh dengan anak 2, belum tentu masalah ini selesai. Atau media TV,
majalah dan internet, yang merangsang
dan memperlihatkan hal – hal negative ? ya.. bisa jadi, tapi media kan punya
manfaat lain,
jadi kita tak bisa menutupnya. Lalu …
“udah mas..” ucapanya membuyarkan
lamunan.
“berapa bang ?” Tanya saya
“40 ribu aja” jawabnya,
(apa ? “aja” !, beuh, kenapa ga
ditanya sejak awal, perasaan harga wajar ga segitu deh..)
Yo wes, ikhlaskan aja..,kasian
kalau ga ikhlas, nanti jadi ga berkah buat dianya.
Ok, lanjutkan perjalanan..,
buzz…..
Kembali ke lamunan tadi, kok saya
jadi berfikir, bahwa pernikahan menjadi - salah satu – titik pangkal solusinya,
maksudnya, menunda menikah, apalagi sampai tidak menikah, bisa menjadi saham
terciptanya masalah social bahkan criminal. Betapa tidak, di tengah media yang
menggila, para pemuda yang belum menikah, lengkap dengan gairah biologisnya
yang sedang terik-teriknya, membuka lebar peluang kejahatan, dari mulai seks
bebas, hamil diluar nikah, hingga pembunuhan bayi tak berdosa.
Di sisi lain, para perempuan yang
jumlahnya berkali lipat lebih banyak dari laki-lakinya,bisa tetap produktif,
jauh dari kemurungan, atau pengucilan diri dari lingkungan.
Pernikahan sebagai jalur sah, tak
akan melahirkan anak dengan ketidak jelasan nasab (garis keturunan), bahkan
bentuk metamorfosa pernikahan, yaitu poligami- dengan berbagai pro kontranya –
bisa meminimalisir perselingkuhan dan penceraian, mungkin..! (kok saya jadi sok
tau gini...)
Lalu pertanyaannya, kenapa
pernikahan jadi demikan angker ? kenapa masih menunda nikah sih ? apa titik
pangkal masalahnya ?
Mmhhh, ok, sekarang kita
telusuri, sebenarnya dimana letak “kebocoran” nya…, bukankah pernikahan itu
membahagiakan..? bukankah dulu Rasulullah saw senantiasa memotivasi sahabatnya
untuk menikah…, sebagaimana dalam riwayat Sahal
bin Sa`ad ra., ia berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw. dan
berkata: Wahai
Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu. (ini mengajarkan
kita, bahwa, ternyata tak masalah, kaum hawa proaktif duluan..)
Lalu Rasulullah saw. memandang perempuan itu
dan menaikkan pandangan serta menurunkannya kemudian beliau
mengangguk-anggukkan kepala. (ini mengajarkan kita, bahwa, melihat calon
suami/istri itu tak masalah)
Melihat Rasulullah saw. tidak memutuskan
apa-apa terhadapnya, perempuan itu lalu duduk. Sesaat kemudian seorang sahabat
beliau berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau tidak berkenan
padanya, maka kawinkanlah aku dengannya. (ini mengajarkan kita, jangan
malu-malu mengungkapkan niat nikah)
Rasulullah saw. bertanya: Apakah kamu
memiliki sesuatu? Sahabat itu menjawab: Demi Allah, tidak wahai Rasulullah!
Beliau berkata: Pulanglah ke keluargamu dan lihatlah apakah kamu mendapatkan
sesuatu? Maka pulanglah sahabat itu, lalu kembali lagi dan berkata: Demi Allah
aku tidak mendapatkan sesuatu! Rasulullah saw. bersabda: Cari lagi walaupun
hanya sebuah cincin besi! Lalu sahabat itu pulang dan kembali lagi seraya
berkata: Demi Allah tidak ada wahai Rasulullah, walaupun sebuah cincin dari
besi kecuali kain sarung milikku ini! Sahal
berkata: Dia tidak mempunyai rida` (kain yang menutupi badan bagian atas).
Berarti wanita tadi hanya akan mendapatkan setengah dari kain sarungnya.
Rasulullah saw. bertanya: Apa yang dapat kamu perbuat dengan kain sarung
milikmu ini? Jika kamu memakainya, maka wanita itu tidak memakai apa-apa.
Demikian pula jika wanita itu memakainya, maka kamu tidak akan memakai apa-apa.
Lelaki itu lalu duduk agak lama dan berdiri lagi sehingga terlihatlah oleh
Rasulullah ia akan berpaling pergi. Rasulullah memerintahkan untuk dipanggil,
lalu ketika ia datang beliau bertanya: Apakah kamu bisa membaca Alquran?
Sahabat itu menjawab: Saya bisa membaca surat
ini dan surat
ini sambil menyebutkannya satu-persatu. Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu
menghafalnya? Sahabat itu menjawab: Ya. Lalu Rasulullah saw. bersabda:
Pergilah, wanita itu telah menjadi istrimu dengan mahar mengajarkan surat
Alquran yang kamu
hafal “ (Shahih Muslim, hadist no 2554)
Penggalan
terakhir mengajarkan kita, alih – alih mempersulit, tapi Rasulullah
mempermudah, dan sangat ingin sahabatnya segera menikah. bukannya mempersulit
“kamu kerja di mana, berani melamar anak saya ?” , “belum pa.., masih bisnis
kecil-kecilan”, “apa ? udah pulang sana ! emangnya anak saya
mau dikasih makan apa ?”, tapi Rasulullah saw dengan mempermudahnya, menyuruh
sahabat tadi memastikan, benarkah tidak ada sesuatu yang dimiliki di rumah ?
coba cek lagi…! Coba tanya ke anggota keluargamu, barangkali ada yang bisa
membantu untuk mas kawinnya. “tidak ada ya rasul..”. rasul tak berhenti
memotivasi, “ga usah yang mewah-mewah, walaupun cincin besi, ada ga ?”, “ga ada
ya rasul, saya cuma punya sarung ini” (ya ..ampuun, ga tanggung-tanggung miskin
nya, barangkali ingin menunjukan pada kita contoh ekstrimpun bisa menikah..),
harapan pun
sirna, sahabat tahu diri, dan memutuskan pergi, tapi Rasulullah saw dengan
bijaknya, tak berhenti memotivasi dan membantu mencari solusi, disuruhnya ia
kembali, dan akhirnya, sahabat tadi jadi menikah, dengan mas kawin hafalan
surat Al-Qur’an, dan mengajarkan pada sitrinya kelak.
Luar biasa !
betapa Rasulullah saw, tak ingin mempersulit umatnya menikah, yang ini mentok,
cari jalan lain, yang ini ga bisa, cari cara lain, supaya bisa menikah.., dan
sejarah mencatatnya, ketika islam sebagai rahmatan lil alamin dijalankan,
bagaimana
sistem perbudakan jahiliyah bisa turun drastis, bagimana masyarakat madinah
yang adil sejahtera bisa terwujud, karena terbangun dari keluarga - keluarga
harmonis, tak ada lagi pembunuhan bayi, kehormatan perempuan diangkat oleh
islam, sehingga perzinahan, akan diganjar dengan hukuman amat berat didunia
(apalagi dikhirat), hingga perceraian, menjadi demikian sulit, dan rujuk
demikian mudah, dan perselingkuhan amat dijauhi, lalu islam membolehkan (bukan
memerintahkan) poligami.
Jadi, kapan nikah ?
Wallohu’alam, mohon maaf & terimakasih
Wassalamu’alaikum wr wb
________________________________
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer