Hatur nuhun kang info na, sakantenan nga ralat email nu sateuacana, no rek mandiri na atas nama wan aries renaldi, sanes putri ulfah
hapunten & hatur nuhun wassalam ________________________________ Dari: Agung Adrian <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kam, 20 Mei, 2010 09:04:51 Judul: Bls: [stmnp] [reminder khitmas] Bercermin dari Ummu Mahjan.. [1 Attachment] [Attachment(s) from Agung Adrian included below] Assalamu'alaikum wr.wb, menambahkan yang disampaikan oleh kang tedi sebelumnya, saya sedikit menginformasikan bahwa pengeluaran khitmas tahun ini diperkirakan sekitar 7 jtan adapun dana yang baru terkumpul samapi hari kemarin 19 Mei 2010 adalah 4,5 jt dikarenakan alhamdulillah kemarin ada donatur yang menyumbangkan uang sebesar 1 jt, adapun rincian pemasukan dan pengeluaran lebih lengkapnya saya lampirkan.untuk akang dan teteh yang yang bersedia untuk berpartisipasi dalam bentuk dana dapat memasukkan kedalam rekening dibawah ini Bank Mandiri Kcp LeuwiGajah 132.000.6992581 An Wan Aries R. (direkomendasikan) Best regard's Agung Adrian ________________________________ Dari: tedi <tedidarussalam@ yahoo.com> Kepada: FP <forum_pembangunan@ yahoogroups. com>; stmnp <st...@yahoogroups. com>; baraya stmpn <Baraya_Pembangunan- band...@yahoogro ups.com>; fdi <forum...@yahoogroup s.com>; tetr...@yahoogroups .com Terkirim: Kam, 20 Mei, 2010 08:35:13 Judul: [stmnp] [reminder khitmas] Bercermin dari Ummu Mahjan.. Assalamu'alaikum wr wb, mohon maaf akang & teteh, menuhin inbox, beberapa hari yang lalu, ada panitia khitmas (arkam), yang menginfokan kalau dana masih kurang, kalau tidak salah, sekitar 4 juta lagi, dan seingat saya, ini persis seperti tahun kemarin, waktu yang mepet, dan kekurangan yang relatif besar. kita berbaik sangka, kalau teman-teman panitia, alumni pmr, dan pembina, sudah berusaha optimal, namun belum juga memenuhi anggaran. dan saya sebatas memforward kan info nya, adapun tanggapan dan bantuan, bisa langsung ke pihak panitia.. Bank Mandiri KK BarosLeuwigajah Acc. 132-00-0699258- 1 An Putri Ulfah Bilqisa Contact Person : - Arkam Maulana Sidiq 085659078431 - Putri U. B. (022) 91101956 saya jadi membayangkan, bagaimana kalau hal-hal semacam ini, tidak hanya "mengandalkan" para dermawan, tapi ada semacam bisnis bersama, dimana sebagian keuntungannya di salurkan untuk kegiatan sosial, seperti beasiswa, bantuan bagi yang sakit, khitmas, dst.., selain tentunya, di sisi lain, bisnis bersama ini akan membuka peluang lapangan kerja. tapi da saya mah masih sebatas teori, belum ada pengalaman, apalagi modal.., dan hal yang berkatian dengan uang memang agak krusial. namun di balik itu, ada peluang besar yang bermanfaat bagi banyak pihak hatur nuhun, wassalamu'alaikum wr wb ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- -- Bercermin dari Ummu Mahjan Saudaraku …., mari bercermin pada Ummu Mahjan, seorang nenek, berkulit hitam yang hidup di jaman Nabi saw. di balik usia nya yang renta, ia tetap ingin berkontribusi, melakukan apa yang bisa ia lakukan, sekecil apapun itu. Kelemahan, usia senja, kemiskinan, ataupun kurang nya pengetahuan tak membuat ia duduk meratapi nasib, dan menyerah pada keadaan, menunggu takdir menjemputnya, lalu tenggelam digilas perjalanan masa. Tidak…! Sama sekali tidak….! Ia bergerak, ia beramal, ia berkarya…, walau mungkin tak ada yang menghargainya. Ummu Mahjan, melakukan apa yang bisa ia lakukan, yaitu membersihkan mesjid Nabawi, tempat di mana Rasulullah saw dan para sahabatnya, melakukan berbagai aktifitas Rabbani, dari mulai shalat, musyawarah, mengatur politik, strategi perang, hingga aktifitas belajar mengajar. Demikianlah saat itu- dan idealnya sampai saat ini – mesjid menjadi sentral kegiatan kaum Muslimin. Ia sadar, bahwa kapasitasnya tak di situ, di lingkaran para sahabat yang cerdas, yang dapat mengingat dan mencatat wahyu illahi yang keluar dari mulut nabi saw. ia paham, bahwa tempatnya bukan duduk di samping tubuh kekar Umar, yang tak hanya menakutkan kaum kafir, tapi juga membuat syetan tunggang langgang. Bukan pula, bersama Khalid bin walid, mendiskusikan strategi perang, atau bersama Ustman bin affan, menghitung dan menginfakan kekayaan untuk kejayaan Islam, atau bersama Aisyah dan para istri nabi saw lainnya, yang mensupport perjuangan di balik institusi rumah tangga nabi… Tapi ia sadar, bahwa ia tetaplah manusia yang akan di mintai pertanggung jawaban, bahwa ia seorang muslim yang juga berkewajiban meninggikan Islam, dan ia tahu, akan kapasitas diri. Karenanya ia memutuskan, bahwa segala keterbatasan ini, bukan alasan untuk menyerah, ia tak rela, suatu saat kelak, di hari perhitungan, ketika yang lain membawa bekal atas apa yang mereka tanam di dunia, sementara tangannya hampa. Maka, segagang sapu, di sebangun ruang ibadah yang tak terlalu luas, menjadi saksi kesungguhannya dalam beramal. Setiap hari, debu debu yang amat kecil itu, menjadi saksi keikhlasannya, daun daun yang berserakan, seakan menjadi peneguhan dalam konsistensi amalnya. Hingga akhirnya, malaikat Izrail mengisitirahatkanny a.. Saudaraku…, di sudut lain, Rasulullah saw, seorang Panglima, pemimpin Negara, kepala rumah tangga dan tentunya imam para da’i, ialah pribadi yang penuh kasih sayang. bahkan kepada umatnya hingga akhir zaman, tak luput dari perhatiannya. Apalagi masyarakat di masanya, apakah ia seorang yahudi yang terus menerus menghadiahi kotoran binatang di jalan yang di lalui nabi saw, namun tetap di jenguk ketika ia sakit, ataukah anak-anak yang melempari batu,saat nabi saw berdakwah ke Thaif, namun tetap di maafkan bahkan di do’akannya, dan termasuk Ummu Mahjan, salah satu di antara sekian jiwa manusia yang menerima perhatian dan kasih sayang dari Rasulullah saw. Seorang pemimpin Negara, yang tetap memperhatikan rakyatnya.., Hari di mana, Ummu mahjan kembali pada penciptanya, saat itu Rasulullah saw tak sedang menemuinya, kepergiannya luput dari pengetahuan Rasulullah saw, para sahabat pun seakan tak ingin mengusik Rasulullah saw dengan kabar remeh semacam ini, beliau saw jauh lebih sibuk dan lebih mulia hanya untuk mengurusi hal kecil semacam ini. Hingga keesokan harinya, nabi saw menyadari, ada yang kurang di sini, ada sejumput kasih sayang yang kehilangan labuhannya, kemanakah Ummu mahjan ? Mungkin jika dinding, debu dan daun bisa bicara, ia akan mengatakannya, dan berbagi duka, atas kehilangan sosok ikhlas yang senantiasa mendedikasikan dirinya. Lalu sahabat pun memberitahukan pada nabi saw apa yang telah terjadi, mereka telah menshalatkan jenazahnya dan menguburkannya di Baqi’ul Gharqad. Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah saw kehilangan dia, maka beliau bertanya pada para sahabat tentangnya. Mereka berkata:”Dia telah wafat ” Rasulullah saw berkata:”Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata: ”Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele. Rasulullah saw bersabda : ”Tunjukkan kepadaku dimana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah kemudian Rasulullah saw mensholatkannya Perhatikan, bagaimana Rasulullah saw begitu menghargai Ummu mahjan, seorang nenek renta, miskin dan lemah, yang hanya membersihkan debu debu kecil, atau daun daun kering, hingga mendatangi kuburnya dan berdiri menshalatkannya, subhanallah…., sebegitu tinggikah penghargaan mu ya Rasul ? apa yang ingin engkau sampaikan pada para sahabatmu saat itu, dan pada umat mu saat ini ? bukankah ia hanya seorang nenek tukang sapu ? Saudaraku, keikhlasan….., kebeningan tujuan hanya untuk dan karena Allah, kejernihan harapan, hanya mengharap ridho Allah, ialah salah satu pesan inti dari peristiwa ini. Dengan niat ikhlas, pekerjaan kecil bisa bernilai besar. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, pekerjaan besar bisa bernilai kecil, atau hampa sama sekali, bahkan bisa berbalik mencelakakan. Dalam penilaian Allah swt, tak ada amal besar atau kecil, yang ada hanya amal ikhlas atau tidak. Serta tentunya sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Ketika kita ikhlas dalam beramal, maka sedikit ataupun banyak hasilnya, tak akan menjadikan usaha kita surut. Ada atau tidak adanya pujian maupun makian, sesuai atau tidaknya dengan apa yang kita harapan tak akan membuat langkah kita terhenti. Karena Allah lah tujuan, Dia maha melihat, dan maha mensyukuri amal setiap hambaNya. Pesan lainnya, ialah Kesungguhan beramal (mujahadah fil amal). Ada banyak alasan masuk akal, yang bisa membuat Ummu mahjan tak beramal, dan kita….? Apakah kita setua, semiskin, selemah dan se”bodoh” Ummu mahjan ? tubuh yang ringkih itu, kantong yang lusuh itu, dan otak yang lemah itu, masih saja bergerak memberikan apa yang mampu ia berikan bagi lingkungannya, lalu akankah kita –dengan berbagai kelebihan yang di karuniakan Nya- hanya diam, dan beralasan ? tak malukah kita pada Ummu Mahjan…? Yang begitu konsisten, walau dalam amal yang “kecil”.. Saudaraku…, masa lalu tak bisa kita ulangi, kecuali sebatas mengambil pelajaran dan mentaubatinya. ., kita yakin Allah swt maha pengampun dan penerima taubat, biarlah masa lalu itu berlalu, dan kita berharap Allah swt berkenan menghapus setiap catatan kesalahan dan kelalaian kita.., Adapun masa depan, pun tak pasti, apa yang akan terjadi, berapa lama lagi, atau dimana dan dengan cara apa kita akan mengkahiri episode kehidupan ini…, yang tersisa adalah hari ini.., modal amat berharga untuk di isi dengan amal-amal nyata, yang ikhlas dan sungguh-sungguh, sesederhana apapun itu…, apakah syurga tak cukup menggiurkan , dan neraka tak cukup mengerikan , sehingga kita masih menunda amal dan bersahabat dengan alasan…? Wallohu’alam, mohon maaf & semoga bermanfaat

