Israel vs Umat Islam
Sabtu,    - 17:03:47 - 1277

Tahukah anda, kenapa yahudi saat ini 
terlihat sangat digjaya, ditakuti, dihormati dan semua orang terpaksa 
harus taat, tunduk dan patuh? Beberapa fakta berikut ini akan 
menjelaskan kenyataan yang sulit dibantah, tentang apa beda yahudi 
Israel dengan umat Islam, khususnya dewasa ini. 



Ini adalah sunnatullah. Meskipun kebatilan, tetapi kalau dimanage secara
 profesional,  bisa menjadi sangat kuat dan menang mengalahkan kebaikan.
 Sebaliknya, meski kita berada di barisan kebenaran, tapi kalau 
mengelolanya asal-asalan, hanya mengandalkan 3 D (doa demo dana), tanpa 
mau berbenah diri, mengubah mental dan berkarya nyata, secara 
sunnatullah, wajar kalau kalah, jatuh, bahkan nyungsep.



Tulisan ini tentu bukan untuk melecehkan umat Islam, apalagi menghina. 
Justru tulisan ini ingin mengingatkan bahwa ternyata kita masih perlu 
banyak berbenah diri. Saya, anda, kita semua, siapa saja yang merasa 
muslim, punya kewajiban untuk memperbaiki banyak hal di dalam tubuh umat
 ini, sebelum nantinya pertolongan Allah datang.



Kalau keadaan kita masih seperti ini terus, kira-kira apakah kita sudah 
berhak untuk mendapatkan pertolongan Allah? Itu pesannya.



FAKTA I :



Israel berpenduduk yahudi 5 juta jiwa, di Amerika ada 5 juta dan di 
berbagai belahan dunia lain sekitar 5 jutaan lagi. Total 15 juta doang. 
Tapi meski cuma 15 juta, ternyata yahudi di dunia bisa menjalin `ukhuwah
 yahudiyah`. Sebenarnya sesama mereka sering juga saling silang, tapi 
kalau sudah bicara tentang cia-cita bersama membangun negera Israel 
Raya, mereka sangat akur, kompak, dan tidak segan-segan menggelontorkan 
bermilyar dolar dari kocek mereka sendiri.



Umat Islam?



Jumlah total umat Islam di dunia ini tidak kurang dari 1,5 milyar. Tapi 
yang di Palestina tinggal 3 jutaan saja. Di Indonesia saja, jumlah umat 
Islam tidak kurang 200 juta. Tapi sayangnya, 1,5 milyar di dunia itu 
hidup miskin, bodoh, terbelakang. Negeri mereka masing-masing juga 
dijajah baik secara resmi atau tidak resmi. Kekayaan alam mereka dikeruk
 oleh ratusan perusahaan multinational milik yahudi dan mereka hanya 
bisa pasrah.



Dan tidak pernah bercita-cita untuk mengembalikan lagi persatuan umat 
Islam sedunia, sebagaimana pernah kita miliki di masa lalu. Boro-boro 
mendirikan khilafah, yang terjadi justru kita menghidup-hidupkan 
kebanggaan kelompok, jamaah, ormas dan partai masing-masing.



FAKTA II



Yahudi sudah mencita-citakan berdirinya Israel Raya sejak berabad-abad 
yang lalu. Dan bukan cuma omdo, demo, atau melongo, tapi mereka bekerja 
siang malam bahu membahu dengan tekun, susah payah dan susah tidur pula.



Tiap bayi yang lahir dari rahim ibu-ibu yahudi sudah ditanamkan oleh 
orang tua mereka i cita-cita besar di alam bawah sadar mereka untuk 
membangun Israel Raya. Seklias, cita-cita tiap anak yahudi sama saja 
dengan cita-cita anak-anak muslim, seperti ingin jadi dokter, insinyur, 
pilot dan sejenisnya. Tapi sebenarnya ada perbedaan mendasar, yaitu 
mereka bukan sekedar ingin jadi dokter, tapi jadi dokter yahudi yang 
bekerja keras dan profesional untuk kepentingan yahudi. 



Begitu juga yang ingin jadi insinyur, bukan sembarang insinyur, tetapi 
menjadi insinyur yang profesional dan bekerja keras untuk kepentingan 
yahudi. Yang cita-citanya menjadi pilot pun tidak sembarang pilot, 
tetapi ingin menjadi pilot yang mahir, profesional, rajin dan pintar 
demi kepentingan yahudi.



Kelihatan sepele, bukan?



Ya, kelihatannya sepele, tapi sesungguhnya cita-cita seperti itu sangat 
unik.Sejak kecil anak-anak yahudi itu sudah terformat di kepalanya untuk
 menjadi yang terbaik, dan semua itu dipersembahkan untuk kejayaan 
bangsa yahudi. Sehingga ketika mereka sudah jadi orang sukses, tetap 
saja kecintaan, pembelaan, loyalitas serta pengorbanan mereka sangat 
besar kepada ras mereka sendiri.



Sementara anak-anak muslim kita sekedar bercita-cita jadi dokter, 
insinyur, pilot, begitu saja, tanpa embel-embel demi kepentingan Islam. 
Paling-paling cuma biar jadi orang kaya. Kalau sudah kaya, untuk apa 
kekayaan itu? Ya, sekedar dinikmati saja. Urusan umat Islam yang 
tertindas dan terzalimi, hehe emang gue pikirin.



FAKTA III



Anak-anak yang lahir dari rahin ibu-ibu yahudi dipastikan oleh kedua 
orang tuanya untuk bisa berbicara cas-cis-cus bahasa yahudi, bahasa 
Ibrani. Karena bahasa itu adalah syiar agama mereka. Dengan bahasa 
Ibrani itulah cita-cita bangsa yahudi selalu membara di dada jutaan 
anak-anak yahudi di seluruh dunia. Dalam bahasa Ibrani itulah semua 
yahudi disatukan. Dan bendera bintang David itu pun berkibar di 
tengah-tengah negeri muslim merdeka.



Sebaliknya, umat Islam sama sekali tidak punya perhatian dengan bahasa 
Arab. Lihat saja, umat Islam justru ramai-ramai mempopulerkan bahasa 
para penjajah masing-masing. Yang dijajah Inggris, mereka bangga kalau 
berbahasa Inggris. Yang dijajah Perancis, sekarang ini malah 
membanggakan bahasa Perancis. Dan yang dijajah Itali, sama juga.



Di timur tengah, umat Islam malah lebih fasih berbahasa amiyah (bahasa 
arab pasar) yang sangat merusak originalitas bahasa Al-Quran dan Hadits.
 Padahal bahasa ammiyah itu tidak lain sebuah strategi penjajah asing 
untuk menjauhkan bangsa Arab dari baha Quran dan Sunnah. 



Sedangkan anak-anak muslim di negeri bukan Arab, sama sekali tidak mendapatkan 
hak mereka untuk mengenal bahasa Nabi mereka.



Sekolah Dasar Islam `TERpaksa PAkai DUit` yang mereka dirikan pun tidak 
pernah memberi porsi cukup agar anak-anak yang lahir dari rahim ibu-ibu 
muslim bisa berbahasa Arab, lisan dan tulisan.



Pantas saja 1,5 milyar umat Islam di dunia itu tidak pernah merasa 
sehati, karena lidah mereka pun sudah berbeda. Orang tua mereka tidak 
pernah merasa berdosa ketika anak-anak mereka tumbuh dengan buta bahasa 
Arab. Dianggapnya bahasa Arab itu cukup buat ustadz doang kali.



Maka syiar agama Islam dikubur sendiri oleh para aktifisnya sendiri. 
Terbukti para aktifis itu tidak pernah gundah kalau anak-anak mereka 
tidak bisa bahasa Arab.



FAKTA IV



Lima belas juta orang yahudi di dunia adalah orang yang sangat fanatik 
dan mengerti `syariah`'''''''''''''''''''''''''''''''' yang mereka 
miliki. Di hotel atau penerbangan international, rasanya kita lebih 
sering mendengar istilah KOSHER ketimbang makanan halal versi umat 
Islam. Padahal dalam beberapa hal, kosher itu lebih rumit dari makanan 
halal. Contohnya adalah kelinci, unggas liar, ikan yang tidak bersirip 
atau bersisik, kerang dan lainnya yang halal dalam Islam, tapi dalam 
syariat Yahudi tetap haram.



Syariat yahudi tidak membolehkan makan daging bersama susu kecuali waktu
 makannya terpisah. Selain itu potongan-potongan daging tertentu, 
meskipun dari hewan yang halal, juga dianggap tidak kosher. Padahal 
dalam Islam hukumnya halal. Hebatnya, jutaan yahudi bisa mentaati untuk 
tidak makan kecuali kosher saja.



Bagaimana dengan umat Islam?



Hmm, kadang kita harus malu. Mengingat begitu banyak umat Islam yang 
memakan makanan yang jelas-jelas haram, tapi santai-santai saja. Sama 
sekali tidak ada rasa bersalah dalam diri mereka saat menenggak makanan 
haram.



FAKTA V



Syariat Islam dan yahudi sama-sama mengharamkan riba untuk umatnya. 
Bedanya, yahudi boleh makan riba dari umat lain, seperti umat Islam. 
Tapi sesama yahudi mereka pantang untuk memakan riba.



Bagaimana dengan umat Islam? Meski Bank Syariah sudah ada sejak tahun 
90-an, tapi hari ini, 20 tahun kemudian, ternyata umat Islam masih 
lengket dengan bank riba.



FAKTA VI



Meski jumlah umatnya sedikit, tapi yahudi punya banyak bank yang bisa 
membiayai apa saja, termasuk RAPBN semua negeri muslim. Lewat World 
Bank, IMF dan lembaga sejenis, gelontoran dolar mengalir deras kemana 
saja. Tentu tidak ada makan siang yang gratis. Semua pasti ada 
pamrihnya. Anehnya, negeri-negeri muslim yang dapat hutang itu malah 
bangga. Padahal semua itu hutang plus bunga yang entah gimana cara 
bayarnya.



Sementara umat Islam malah tidak punya Bank. Kalau pun umat Islam di 
timur tengah kaya raya karena minyak, mereka malah membungakan uang di 
bank-bank yahudi.



Bank Syariah sendiri kadang susah diharapkan kalau sudah bicara kredit 
dan pembiyaan. Sebab meski nama programnya berlabel syariah, tapi 
dihitung-hitung dan dibandingkan justru lebih mencekik dari bunga bank 
konvensional. Lemes deh . . .



FAKTA VII



Kalau perang tanding satu lawan satu antara umat Islam dan yahudi, sudah
 pasti yahudi kalah. Maka yang mereka kembangkan bukan perang secara 
fisik, melainkan perang secara pemikiran. Dimana, pemikiran sesat 
tentang Islam selalu dipompakan ke tubuh umat Islam yang jahil.



Demi menyesatkan umat Islam, yahudi sudah melangkah jauh. Mereka banyak 
sekali mendirikan pusat studi Islam di berbagai universitas bergengsi di
 barat sana, dimana para yahudi yang sakit ingatan itu menjadi dosen dan
 guru besar. Ampuhnya, para mahasiswanya beragama Islam, mereka hidup 
makmur dapat beasiswa, padahal  berasal dari berbagai negeri muslim.



Herannya, kok bisa ya?



Kok bisa para mahasiswa `bayaran` itu belajar agama Islam dari dosen 
yahudi? Memangnya para dosen itu ngerti apa tentang agama Islam, kok 
sampai bisa dijadikan rujukan utama tentang masalah agama Islam?



Ini logika kita, yang terheran-heran melihat berbondong mahasiswa muslim 
belajar agama Islam ke barat dari orang yahudi.



Ternyata logika yang mereka pakai lain lagi. Logikanya adalah logika 
dolar. Siapa sih yang tidak tergiur disekolahkan ke luar negeri dengan 
gratis, malah diberi beasiswa, dan  dipenuhi semua kebutuhannya. Kalau 
sudah pulang membawa gelar doktor, tetap saja dihujani dengan dolar yang
 tidak pernah berhenti mengalir. 



Sementara mahasiswa kita yang belajar ke timur tengah, harus modal 
sendiri. Kadang orang tua mereka terpaksa menjual sawah satu-satunya 
demi biaya kuliah anaknya di Al-Ahar. Yang orang tuanya tidak mampu 
kirim uang, terpaksa harus kreatif cari uang sendiri. Ada yang usaha 
bikin usaha tempe. Pantasa saja hampir 10 tahun tidak lulus-lulus juga 
ya. Persis seperti yang diceritakan dalam novel kang Abik.



Begitu lulus, apakah sudah selesai penderitaan mereka?



Ternyata belum. Pulang ke Indonesia, alih-alih mereka dapat posisi dan 
gaji tinggi. Tidak ada ruang buat para sarjana agama Islam lulusan 
universitas terbaik dunia Islam itu. Akhirnya, putus asa tidak punya 
penghasilan, padahal anak istri harus makan, ujung-ujungnya malah jualan
 bakso lagi. Bayangkan, kuliah jauh-jauh sampai ke Mesir, begitu sudah 
jadi sarjana dan pulang, hanya  jualan bakso. 



Rupanya jatah PNS di Kementerian Agama RI sudah dibooking oleh mereka 
yang lulusan dari barat. Mau jadi ustadz, takut tidak bisa makan. 
Akhirnya, ya jualan bakso. Sungguh tragis. Kuliah puluhan tahun ke timur
 tengah, tapi sangat tidak dihargai oleh umat.



Duh mahasiswa timur tengah, sungguh nasibmu malang benar . . .



Penutup



Mungkin yang baca tulisan ini berpikir, penulisnya kok sinis banget ya kepada 
umat Islam sendiri?.



Ya, boleh saja berpikir seperti itu. Tetapi percayalah, agar kita bisa 
mengalahkan yahudi, tidak cukup hanya dengan 3D (demo doa dana). Tetapi 
kita wajib berbenah di segala bidang. Sebab dalam urusan ini, kita 
semata-mata hanya menjalankan sunnatullah saja. Kalau ada yang berbenah 
diri lalu sukses, ya memang begitu sunnatullah, meski mengusung 
kebatilan. Sebaliknya, meski membawa-bawa nama agama, tapi tidak pernah 
mau berbenah diri, lantas dikalahkan lawan, ya masuk akal juga. 



Kok gitu?



Ya, memang gitu. Itulah sunnatullah. Ayatnya bisa kita baca berikut ini :



Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah apa 
yang ada pada 
diri mereka sendiri. (QS.Ar-Ra''''''''d : 11 )

oleh: ust. Ahmad Sarwat

www.ustsarwat.com



Kirim email ke