Assalamu’alaikum wr wb
Road to Fitrah – 15, jangan biarkan ramadhan berlalu begitu saja
Di pertengahan ramadhan ini, ada baiknya kita mengevaluasi perjalanan, strategi 
dan target ramadhan yang telah di set. Supaya masa lalu,menjadi pelajaran untuk 
lebih baik di sisa masa depan, hari esok jauh lebih  baik dari hari kemarin. 

Sharing beberapa catatan ini semoga bermanfaat bagi rekan sekalian
1.      Persiapan yang matang. Terasa sekali, bagi mereka yang telah 
mempersiapkan jauh-jauh hari, baik dari aspek spiritual (ruhiyah), fisik 
(jasadiyah), wawasan (fikriyah), dan harta (maaliyah), mendapatkan peak 
performance nya di medan perjuangan ini. mereka lebih khusyu dalam beribadah, 
tetap bugar dan energik dalam beraktifitas, tak lagi di pusingkan dengan 
pertanyaan-pertanyaan fiqhiyah (apakah ini boleh, apakah itu membatalkan, dst), 
atau tak lagi larut dalam mencari harta, karena sudah menabung jauh – jauh 
hari, 
baik untuk kecukupan keluarga, apalagi untuk pos-pos zakat,infak, shadaqah. 
Tahun depan -semoga Allah mempertemukan kita dengan ramadhan-  sebaiknya kita 
lebih matang dalam persiapan. Namun, bukan berarti kita kalah, menyerah. Masih 
ada setengah perjalanan lagi, untuk mengusahakan peak performance kita.
2.      Outcome ruhiyah. Bahwa setiap aktifitas ibadah yang kita lakukan, 
apakah 
tilawah al-quran, tarawih, shaum, infak, dst, berfokus pada pembersihan hati, 
membuat hati kita lebih hidup dan sensitive. Tidak terjebak dengan rutinitas 
yang membiasa, atau target yang hampa makna. Pemaknaan ruhiyah inilah yang 
menjelaskan fenomena, kenapa ada yang tilawah berjuz-juz, khatam lebih dari 
sekali, tapi biasa saja, tak ada perubahan. sementara ada yang tilawah hanya 
beberapa juz, tapi ketika dia tilawah, dia menangis, dia tadaburi bacaannya, 
sehingga hatinya bersih. Dan kebersihan atau kepekaan hati menjadi titik awal, 
perbaikan sikap/akhlak, menjadi pribadi bertaqwa.  Kedalaman, penghayatan, 
khusyu, kualitas bukan kuantitas, ialah sikap-sikap jiwa, yang akan “ngefek” 
dalam perubahan hidup kita.
3.      Kreatifitas amal. Ada banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk 
mendekatkan diri pada Allah, (QS 5:35), itulah mengapa perintah beramal shaleh 
dalam al-quran, senantiasa menggunakan bentuk plural, supaya mendorong 
kreatifitas kita dalam beramal. Karena minimnya kreatifitas akan berpeluang 
mengundang kejenuhan dan stagnasi dalam perjalanan kita kembali fitrah. 
Tentunya 
tetap dalam koridor yang di contohkan oleh Rasulullah saw, karenanya di sinilah 
letak pentingnya ilmu / belajar. Misalkan di suatu kali, kita gigih 
membersihkan 
diri, di kali lain kita semangat membangun keluarga. Di suatu waktu kita 
menikmati tilawah, di waktu lain kita asyik menulis. Dalam penggalan ayat 
tentang perintah shaum, di sebutkan outcome nya “la’alakum tataqun, supaya kamu 
bertaqwa” (QS 2:183), dan di ayat selanjutnya “la’alahum yataqun, agar mereka 
bertaqwa” (QS 2:187). Keshalehan sosial, tak mungkin tercapai hanya dengan 
aktifias ritual individual.  
4.      Konfirmasi target.  Dalam perjalanan 15 hari kebelakang, apakah target 
ramadhan yang sudah kita tetapkan terlalu tinggi, atau terlalu rendah ? di sini 
di perlukan pemetaan diri, membaca dengan bijak, supaya kita tak terjebak 
dengan 
target yang muluk, atau terlena dengan target yang rendah. Tak usah segan 
merevisi target, atau merasa kalah karena lebih sedikit dari orang lain, 
misalkan teman kita sudah  tilawah sedemikian sering, atau sudah infak 
sedemikian banyak, lalu kita merasa down. Padahal tugas kita bukan melampaui 
orang lain, tapi melampaui keterbatasan diri sendiri, karena kemampuan dan 
tuntutan setiap orang berbeda-beda. Jika sudah mengkonfirmasi target, maka 
selanjutnya adalah komitmen dengan target tersebut.
5.      Managemen ujian. Dari detik-detik ramadhan yang telah kita lalui, 
mungkin sebagian kita kalah dengan ujian tidur, sulit sekali menahan untuk 
tidak 
tidur setelah subuh, atau tidak hadirnya hati dan pikiran saat tarawih, karena 
ngantuk. Atau  sebagian lain, kalah dengan ujian keluarga, istri yang 
“menuntut”,anak yang rewel, dst . Atau ada juga yang kalah dengan lingkungan 
kerja atau tetangga, yang tidak kondusif. Atau kalah dengan ujian kesia-siaan, 
asyik facebookan, jalan-jalan tak jelas atau ngobrol tak karuan. Dan ujian 
lainnya. Apalagi terjerumus pada kemaksiatan, na’udzubillah. Di sini pentingnya 
managemen ujian. Mulai dari perencaanan, pengorganisasian, pengendalian, hingga 
evaluasi. Cari titik awal ujian itu, lalu manage disiplin diri kita, supaya 
bisa 
menaklukannya dengan efektif dan efisien. 

6.      Optimalisasi niat. Karena maha kasihnya Allah, setiap kebaikan yang 
kita 
niatkan, di catat 1 kebaikan sempurna, jika kebaikan itu jadi di eksekusi, maka 
di catat 10 kebaikan, bahkan 700 kali lipat, atau bahkan berlipat-lipat, hanya 
Allah yang tahu berapa lipat balasannya. Sebaliknya setiap kejelekan yang kita 
niatkan, namun tak jadi di eksekusi, maka bagi kita 1 kebaikan, sementara jika 
jadi di eksekusi, maka cukup hanya di catat 1 dosa, walaupun bukan berarti 
meremehkan. Niat lah yang menjadikan sahabat yang diam di madinah tak ikut 
berjihad, melewati lereng dan lembah bersama Rasulullah dan para mujahidin, 
mendapatkan pahala yang sama. Niatlah yang membedakan nilai setiap kita, 
walaupun aktifitasnya sama. Orang yang tidur siang sekedarnya, berbeda dengan 
orang yang tidur siang, dengan niat mempersiapkan shalat malam. Orang yang 
makan 
minum seenaknya atau balas dendam dari shaum nya di siang hari, berbeda dengan 
orang yang makan untuk memperbaharui energinya dalam optimaliasasi ibadah. 
Orang 
yang tarawih karena malu pada manusia, berbeda dengan orang yang tarawih karena 
malu pada Allah.dst. demikian juga, selain kita meluruskan niat, ikhlas karena 
Allah, juga mengoptimalkan niat-niat kebaikan yang mungkin kita kerjakan. Niat 
kan saja, toh niat itu gratis,tak menyedot banyak energy. Niatkan kalau kita 
akan i’tikaf, niatkan kalau setiap maghrib akan memberi tajil pada minimal 
sekian orang, niatkan kalau 15 hari terakhir bisa tilawah al-qur’an sekian kali 
khatam, niatkan saja, dengan tetap realistis sesuai target yang sudah di 
konfirmasi. Karena niat saja sudah mendapat 1 pahala. Adapun setelah berusaha, 
ternyata hasil akhir tak seperti yang di harapkan, tak mengapa, karena Allah 
juga melihat proses perjuangan kita. 


Dari Ibnu Abbas ra, dari Rasulullah saw, sebagaimana dia riwayatkan dari 
Rabbnya 
Yang Maha Suci dan Maha Tinggi : Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan 
dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut : Siapa yang ingin 
melaksanakan 
kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai 
satu 
kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya 
maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali 
lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan 
keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, 
sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya 
sebagai satu keburukan (HR Bukhori Muslim).

Ketika niat sudah di tetapkan, selain akan mendapat nilai awal kebaikan, ia 
juga 
akan menjadi pemungkin terelaisasinya amal.

7.      Kebersamaan konstruktif. Bahwa manusia bersifat lemah, lupa dan 
tempatnya salah. Perlu ada proses saling mengingatkan. Sharing cara pandang dan 
solusi. Saling menasihati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat 
bagi orang-orang yang beriman” (QS 51:55)   
Selama kita saling mengingatkan, selama itu pula kita mungkin terhindar dari 
kerugian. Sebaliknya, ketika kita bekerja sendirian, terjebak dalam 
‘kesholehan’ 
yang egois, ‘kebaikan’ yang tak berdaya guna, menutup pintu nasihat dari orang 
lain, maka jangan-jangan, kita sedang menebang pohon dengan gergaji tumpul, 
atau 
menempuh jalan dengan kompas rusak, lelah sudah pasti, namun hasil yang di 
nanti 
tak kunjung di temui.
Optimal kan niat, all out kan ikhtiar, kemas dalam kekhusyuan do’a, hasil akhir 
serahkan pada Allah. Semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Tetap SEMANGAT..! 
ALLAHU AKBAR..!!!
Mohon maaf lahir bathin

Wassalamu’alaikum wr wb 
Note : jangan lupa, 28/8 bukber FP di stm, 29/8 bukber alumni di cikarang. 
Minimal niatkan saja dulu, supaya sudah punya kredit point pahala. 
Syukur-syukur 
di beri nikmat untuk bisa hadir. Yang belum bisa hadir, do’a nya saja, atau mau 
dana nya juga boleh :)
update bukber FP, konfirmasi yang berNIAT hadir,  22 siswa, dan 8 alumni. 
bukber 
cikarang 38 alumni. semoga niatnya di catat pahala.amiin 

Kirim email ke