Sumber : 
http://www.republika.co.id/berita/50617/SBY_Boediono_Dituding_Antek_Neoliberal
 
SBY-Boediono Dituding Antek Neoliberal
By Republika Newsroom
Jumat, 15 Mei 2009 pukul 21:25:00 
 
JAKARTA -- Koaliasi Anti Utang (KAU) menilai pasangan capres-cawapres 
SBY-Boediono merupakan paket dari ''Poros Washington" yang berhaluan 
Neoliberal. Sedangkan partai-partai pendukung yang masuk dalam dukungan 
koaliasi ini dinilai sebagai kelompok oportunis. KAU khawatir jika pasangan ini 
terpilih, maka ekonomi Indonesia akan semakin didikte pihak Amerika Serikat 
(AS) beserta negara-negara sekutunya.

''Boediono adalah murid IMF dan Bank Dunia. Tidak ada yang bisa diharapkan dari 
pasangan ini kecuali Indonesia akan semakin diintervensi lembaga internasional 
asing dan semakin dalam terjerumus utang,'' ujar Dani Setiawan, Koordinator 
KAU, dalam pesan pendeknya kepada Republika, di Jakarta, Jumat malam (15/5).

KAU lantas mengingatkan kepada masyarakat supaya mengingat memori peran 
Boediono yang sejak tahun 1998 hingga tahun 2009 merupakan salah satu arsitek 
ekonomi kelompok neoliberal.

''Kelompok ini selalu menfasilitasi praktek penjajahan gaya baru di Indonesia. 
Publik harus mewaspadai, jangan sampai ekonomi negeri ini dijerat lebih kuat 
oleh mazhab neoliberal yang semakin menjerumuskan ekonomi Indonesia, yakni 
jeratan utang'' tutur Dani, mengingatkan.

Laporan KAU menyebutkan, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran 
bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan tren yang meningkat. 
Sejak awal masa pemerintahan presiden SBY di tahun 2005 sampai dengan September 
2008 total pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar 
Rp277 triliun.

Sedangkan total penarikan pinjaman luar negeri baru dari tahun 2005 sampai 
dengan September 2008 sebesar Rp101,9 triliun.

Outstanding Utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 – 2009 juga terus 
meningkat dari Rp1275 triliun menjadi Rp1667 triliun (sumber: www.dmo.or.id). 
Ditambah dengan peningkatan secara signifikan total utang dalam negeri dari 
Rp662 triliun (2004) menjadi Rp920 triliun (2009).

''Artinya Pemerintah “berhasil” membawa Indonesia kembali menjadi negara 
pengutang dengan kenaikan 392 triliun dalam kurun waktu kurang 5 tahun. Atau 
peningkatan utang negara selama pemerintah SBY naik rata-rata 80 triliun per 
tahun. Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang di era 
Soeharto yakni 1500 triliun dalam jangka 32 tahun,'' katanya.  zak/kpo


      

Kirim email ke