Go Tik Swan, Maestro Batik Keturunan Tionghoa

Go Tik Swan (Hardjonagoro) bersama Presiden Soekarno dalam sebuah acara di 
Istana Negara

Namanya Kangjeng Pangeran Tumenggung (K.P.T.) Hardjonagoro. Dari gelar yang 
disandang di depan namanya sudah pasti ia adalah sosok penting yang di dalam 
raganya mengalir “darah biru” dari sebuah kesultanan atau kerajaan di Pulau 
Jawa.

Bukan, ia hanyalah seorang rakyat biasa, dan terlahir sebagai keturunan 
Tionghoa. Sumbangsihnya terhadap pelestarian budaya Jawa-lah yang membuat 
Keraton Surakarta menganugerahinya gelar prestisius tersebut.

Go Tik Swan, sebuah nama yang diberikan ayahnya, Gho Ghiam Ik, seorang 
penguasaha batik ternama di Surakarta kepadanya ketika lahir di Desa Kratonan, 
Serengan, Surakarta pada 11 Mei 1931 silam.

Di kemudian hari Tik Swan menjelma menjadi seorang keturunan Tionghoa yang 
sangat mencintai dan dianggap sebagai pelestari budaya Jawa, melebihi 
orang-orang yang memang terlahir sebagai orang Jawa. Peraih anugerah Bintang 
Budaya Parama Dharma 2011 ini telah menciptakan 200 motif batik yang terkenal 
dengan trade marknya, Batik Indonesia. Sebagai anak dari keluarga terpandang 
maka Saat menginjak usia 7 tahun Tik Swan menempuh pendidikan dasarnya di 
Neutrale Europesche Lagere School (NELS) di Surakarta. Sebuah sekolah yang 
latar belakang siswa-siswinya berasal dari kalangan keluarga terpandang seperti 
warga keraton, anak-anak ningrat, pemuka masyarakat, serta pejabat.

Namun, kesibukan kedua orang tuanya membuat Tik Swan lebih banyak diasuh oleh 
kakeknya, Tjan Khay Sing yang juga seorang pengusaha batik. Kakeknya merupakan 
pengusaha batik nomor satu di Solo yang memiliki empat lokasi pembatikan, yakni 
dua di Kratonan, dan sisanya di Ngapenan dan Kestalan. Berada di lingkungan 
pembatik, hari-hari Tik Swan dilalui bersama para pekerja yang membersihkan 
malam dari kain, mencuci, membubuhkan warna coklat dari kulit pohon soga, 
menulisi kain dengan canting, dan sejumlah aktivitas pembuatan batik lainnya.

Lingkungan itulah yang kemudian membentuknya menjadi seseorang yang mulai 
menunjukkan ketertarikannya pada budaya tradisional Jawa. Tik Swan selalu 
terlihat anstusias ketika pada pembatik bekerja sembari menembang lagu-lagu 
jawa, atau ketika mendengar dongeng-dongeng yang bercerita tentang kebudayaan 
Jawa.

Lazimnya anak kecil yang gampang berubah-ubah minat dan ketertarikannya, tidak 
demikian dengan Tik Swan. Ketertarikannya terhadap tradisi dan budaya justru 
semakin tumbuh dan subur seiring pertambahan usianya. Segala sesuatu yang 
berbau seni tradisional Jawa selalu menyedot perhatiannya. Gayung bersambut, 
tak jauh dari kediaman kakeknya di Coyudan, berdiri sebuah klenteng yang kerap 
mengadakan pertunjukan wayang, pertunjukan yang membuatnya sering mampir untuk 
menonton. Dari wayang ini pula ketertarikan Tik Swan tumbuh pada tari-tari 
Jawa, sehingga memutuskan berguru kepada putra Pakubuwono IX yakni G.P.H. 
Prabuwinata yang dikenal sebagai seniman keraton yang ahli di bidang karawitan, 
tari dan pedalangan. Minat Tik Swan ternyata ditentang oleh kedua orangtuanya. 
Namun gairahnya mendalami budaya Jawa tak terbendung. Ia mengabaikan tentangan 
tersebut.

Orangtua Tik Swan punya cara menjauhkan putra sulungnya dari dunia tari dan 
ragam budaya jawa lain yang digeluti anaknya. Pada tahun 1953, ia kemudian 
diminta menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Cara itu 
ternyata tak efektif membendung seorang Tik Swan yang sedang kasmaran terhadap 
budaya Jawa. Tanpa sepengetahuan orangtuanya Tik Swan justru memilih kuliah di 
Fakultas Sastra Dan Filsafat, Jurusan Sastra Jawa UI. Di sini ia justru lebih 
mendalami aksara Jawa, menonton wayangan dan tari-tari Jawa.
Betapa murkanya sang ayah ketika mengetahui kebohongan Tik Swan. Tak 
tanggung-tanggung, ayahnya mengancam segala biaya dan fasilitas ditarik. Tik 
Swan tetap teguh pada pilihannya dan mengabaikan ancaman sang ayah.

Batik Indonesia

Karena kepiawaiannya membawakan tari-tari Jawa, membuat Tik Swan sering 
diundang untuk tampil di berbagai pertunjukan. Dalam pentas-pentas ini Tik Swan 
mulai memperkenalkan nama Indonesia, yakni Hardjonagoro, yang kemudian menjadi 
nama panggungnya. Hardjonagoro sendiri adalah sebuah pasar di Solo yang 
dimiliki oleh kakek buyutnya bernama Tjan Sie Ing. Kala itu di tahun 1955 
Universitas Indonesia merayakan hari ulang tahunnya. Hardjonagoro bersama 
rombongan tarinya berkesempatan tampil membawakan tarian Gambir Anom di Istana 
Negara Jakarta. Sebuah kesempatan langka tampil di hadapan Presiden Soekarno.

Mengetahui salah satu penari adalah pria keturunan Tionghoa dan latar belakang 
keluarganya sebagai penguasaha batik turun-temurun, Presiden Soekarno 
menghampirinya. Sang Proklamator kemudian menyarakan kepadanya agar menciptakan 
batik yang mewakili identitas Indonesia, tak sekedar beridentitas lokal.

Saran Soekarno bak motivasi besar bagi perjalanan hidup Hardjonagoro. Pada 
tahun yang sama ia memutuskan meninggalkan bangku kuliahnya, pulang ke kampung 
halamannya, mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan 
falsafahnya.

Tak sukar baginya menemukan tempat dan guru yang tepat mempelajari batik secara 
holistik. Kedekatannya dengan keluarga Keraton Solo memungkinkannya belajar 
langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik 
pusaka. Pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum di tangan 
Hardjonagoro dikembangkan sedemikian rupa tanpa menghilangkan ciri khasnya. 
Pola-polanya diberi sentuhan warna-warna cerah seperti yang diajarkan Ibu Soed 
gurunya, pencipta lagu yang dikenal piawai dalam seni batik.

Hardjonagoro juga mengembangkan motif-motif baru pada batiknya. Batik dengan 
warna dan motif baru seperti Parang Bima Kurda, Sawunggaling, Kukila Peksa 
Wani, Rengga Puspita dan Pisan Bali adalah hasil eksplorasinya menciptakan 
Batik Indonesia. Kerja keras dan inovasi Hardjonagoro mengantarkan batik ke 
masa jaya di tahun 1960-1970. Ia tak hanya menciptakan batik dengan warna dan 
motif indah untuk mempercantik pemakainya, namun juga menjadikan batik sebagai 
wadah untuk menyalurkan aspirasi.

Kesuksesan itu kembali mempertemukannya dengan sang motivator, siapa lagi kalau 
bukan Presiden Soekarno. Hardjonagoro kerap diundang Soekarno menjelaskan batik 
kepada tamu-tamu negara yang berkunjung ke Indonesia. Tak hanya itu, ia juga 
mendapat tugas sebagai anggota Panitia Negara Urusan Penerima Kepala Negara 
Asing yang bertanggung-jawab menyelenggarakan pameran batik di Istana Negara, 
termasuk mendesain batik untuk cinderamata para tamu.

Sepanjang karirnya dari tahun 1950an hingga 2008, Hardjonagoro telah 
menciptakan sekitar 200 motif batik Indonesia, bahkan diantaranya banyak yang 
menjadi koleksi museum-museum di Eropa, Amerika, Australia, serta para kolektor 
batik. Salah satu kolektor batiknya tak lain adalah putri Soekarno, Megawati 
Soekarnoputri. Ia menciptakan sebuah motif yang khusus diperuntukkan bagi putri 
praklamator itu dan diberi nama Parang Megakusumo.

Gelar Kebangsawanan

Kontribusi besar perjalanan hidup Hardjonagoro dalam mengembangkan dan 
melestarikan budaya Jawa membuatnya dianugerahi banyak penghargaan. 
Kedekatannya dengan keluarga Pakubuwono serta kesetiaannya mengabdi pada 
keraton Kasunanan memprakarsai lahirnya Art Gallery Karaton Surakarta. Hal 
inilah yang membuat Sri Sultan Pakubuwono XI menganugerahkan Go Tik Swan 
pangkat Bupati Anom bergelar Raden Tumenggung (R.T) Hardjonagoro pada 11 
September 1972.

Tak berhneti sampai di situ, di tahun 1984, pangkatnya kembali dinaikkan 
setingkat lebih tinggi, menjadi Bupati Sepuh, dengan gelar Kangjeng Raden 
Tumenggung (K.R.T.). Begitu pula sepuluh tahun kemudian, pangkatnya kembali 
dinaikkan menjadi Bupati Riyo Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden Hariyo 
Tumenggung (K.R.H.T.). Bahkan di tahun 1998 Hardjonagoro mendapat gelar 
pangerannya, yaitu Kangjeng Pangeran Tumenggung (K.P.T.) dan gelar keduanya 
sebagai Kangjeng Pangeran Aryo (K.P.A.) di tahun 2001.

Atas jasa-jasanya sebagai budayawan dan pembatik, Presiden kenam RI Susilo 
Bambang Yudhoyono pun pernah memberikan penghargaan sebagai putra terbaik 
dengan tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma yang diterima ahli 
warisnya KRAr Hardjo Suwarno dan istrinya, Supiyah Anggriyani pada tahun 2011 
lalu.

Bagi Hardjonagoro bukanlah anugerah gelar atau pangkat yang ia cari, melainkan 
pengabdian dalam melestarikan budaya itu sendiri, dalam hal ini budaya Jawa 
hingga akhir hidupnya.(Rafael Sebayang)

Sumber: www.validnews.id/Go-Tik-Swan–Maestro-Batik-Keturunan-Tionghoa-MxQ

September 21, 2021 at 01:10AM

https://www.tionghoa.org/241

Manage

Unsubscribe from these notifications or sign in to manage your Email service.




IFTTT

        Manage on IFTTT:
        https://ifttt.com/myrecipes/personal/123910301

Reply via email to